Dosen Unpri Ungkap Rahasia Kampus di China dalam Membentuk Karakter Mahasiswa

Akademisi dari Unpri, Jholant Bringg Luck Amelia Sinaga saat mengikuti program student mobility di China. (Foto: Istimewa/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Dosen sekaligus mahasiswa doktoral (S3) Manajemen Konsentrasi Sumber Daya Manusia Universitas Prima Indonesia (Unpri), Jholant Bringg Luck Amelia Br Sinaga, menilai lingkungan kampus di China berhasil membentuk karakter disiplin dan mandiri melalui ekosistem yang terstruktur.
Hal ini diketahuinya setelah mengikuti Program Student Mobility ke Yangtze Normal University baru-baru ini.
“Banyak anomali positif serta kebiasaan yang menarik, yang dapat membentuk karakter produktif di lingkungan kampus di sana,” tuturnya dalam keterangan tertulisnya kepada Mistar, Rabu (20/5/2026).
Ia mencontohkan, seluruh mahasiswa dan dosen terbiasa berjalan kaki di area kampus karena tidak tersedia transportasi umum di dalam kawasan universitas.
“Lebih dari 10 ribu langkah per hari menjadi hal yang lumrah karena luasnya area kampus. Jadi ini mendorong setiap elemen di dalamnya untuk beradaptasi dengan gaya hidup sehat serta mandiri,” ujarnya.
Menurutnya, budaya mandiri juga terlihat dari kebiasaan sehari-hari mahasiswa yang selalu membawa tisu sendiri karena fasilitas kamar mandi umum tidak menyediakan air di dalam bilik.
Selain kedisiplinan, perempuan yang akrab disapa Yolan itu mengaku terkesan dengan tingginya tingkat integritas dan rasa saling percaya di lingkungan kampus.
Ia menyebut mahasiswa yang memesan makanan secara online kerap meninggalkan pesanannya di area tertentu hingga jam kuliah selesai tanpa khawatir hilang.
“Ajaibnya, makanan itu tetap aman, tidak ada yang mengambil bahkan tidak diganggu oleh binatang. Barang berharga yang ditinggalkan di area terbuka juga tetap terjaga,” katanya.
Suasana akademik di kampus tersebut juga dinilai sangat kondusif. Mahasiswa mengikuti perkuliahan dengan tertib dan fokus sepanjang Senin sampai Jumat, sementara akhir pekan dimanfaatkan untuk bersosialisasi sehingga tercipta keseimbangan antara aktivitas belajar dan kehidupan sosial.
Di bidang teknologi, Yangtze Normal University menerapkan sistem digital terintegrasi melalui aplikasi Perfect Campus App. Aplikasi itu digunakan sebagai alat pembayaran utama di kantin kampus yang menyediakan makanan dalam porsi besar dengan harga terjangkau.
Yolan juga menyoroti manajemen kebersihan kampus yang dinilai efektif. Meski tempat sampah tidak banyak ditemukan, lingkungan kampus tetap bersih dan tertata rapi.
“Seluruh sudut kampus tampak bersih, rapi, dan bebas dari sampah yang berserakan. Ini menandakan kesadaran individu untuk menjaga kebersihan jauh lebih dominan ketimbang ketergantungan pada fasilitas tempat sampah,” ucap Yolan.
Namun demikian, selama berada di sana, Yolan menghadapi tantangan komunikasi karena penggunaan bahasa Inggris di kalangan masyarakat lokal masih terbatas. Ia menilai penguasaan bahasa Mandarin menjadi hal penting bagi mahasiswa internasional yang ingin belajar di China.
Selain itu, adaptasi kuliner juga menjadi cerita unik baginya. Mayoritas makanan lokal disajikan dalam metode rebusan dengan cita rasa yang tidak pedas, namun dalam porsi yang sangat besar.
“Dengan nilai tukar saat ini yaitu sekitar 1 Yuan setara dengan sekitar Rp2.595, biaya hidup di lingkungan kampus tentu sangat efisien bagi mahasiswa internasional,” katanya lagi menjelaskan.
Melalui program student mobility dari Unpri tersebut, Yolan berharap nilai-nilai positif yang diterapkan di kampus China, seperti integritas, disiplin, efisiensi teknologi, dan kesadaran lingkungan, dapat menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan di Indonesia.
"Studi banding ini membuka mata kita bahwa manajemen SDM yang unggul tidak hanya dibentuk di dalam ruang kelas melalui teori, melainkan melalui ekosistem kampus yang memaksa individu untuk berdisiplin, jujur, dan menghargai proses,” tuturnya. (hm20)
PREVIOUS ARTICLE
Hari Kebangkitan Nasional 2026: Mengenal Boedi Oetomo






















