Jejak Pendidikan Mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. (foto: AFP/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Ayatollah Ali Khamenei dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah modern Iran. Ia resmi menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini, sosok sentral Revolusi Islam 1979.
Ali Khamenei lahir di kota suci Mashhad, Provinsi Khurasan, Iran. Pada usia empat tahun, ia dan kakaknya, Mohammad, mulai belajar di maktab—sekolah dasar tradisional—untuk mempelajari alfabet dan Al-Qur’an.
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di sekolah Islam yang baru berdiri sebelum akhirnya masuk ke jalur pendidikan agama formal.
Khamenei meneruskan pendidikannya di seminari teologi di Mashhad. Di sekolah agama seperti Soleiman Khan dan Nawwab, ia mempelajari berbagai disiplin ilmu keislaman, termasuk logika, filsafat, dan fikih (yurisprudensi Islam).
Pendidikan tingkat menengah ini diselesaikannya dalam waktu relatif singkat, sekitar lima tahun, di bawah bimbingan ayahnya serta sejumlah ulama terkemuka.
Memasuki usia 18 tahun, ia melanjutkan ke tingkat studi lanjutan (Dars-e Kharij), yakni jenjang tertinggi dalam pendidikan hauzah (seminari Syiah). Salah satu gurunya adalah Grand Ayatollah Milani.
Pada 1957, Khamenei berangkat ke Najaf, Irak, untuk berziarah sekaligus memperdalam studi agama. Di sana ia mengikuti pengajaran sejumlah ulama besar, termasuk Ayatollah Hakim dan Ayatollah Shahrudi. Ia sempat berkeinginan menetap lebih lama di Najaf.
Namun, atas saran ayahnya, Khamenei kembali ke Iran pada 1958 dan melanjutkan studi di Qom, pusat pendidikan Syiah terkemuka. Ia menempuh pendidikan tinggi agama hingga 1964.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Khamenei aktif mengajar di seminari dan juga memberikan kuliah keagamaan di kalangan mahasiswa universitas. Aktivitas intelektualnya kemudian beririsan dengan gerakan politik yang berkembang menjelang Revolusi Islam 1979.
Pengalamannya sebagai presiden Iran pada era perang Iran-Irak (1980–1988) turut membentuk pandangan politik dan strateginya. Pada 1989, ia diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, posisi tertinggi dalam struktur politik dan keagamaan negara tersebut.
Perjalanan pendidikannya di Mashhad, Najaf, dan Qom menjadi fondasi penting dalam membentuk peran dan pengaruhnya dalam dinamika politik Iran modern.
























