Mendodoi, Tradisi Warga Melayu Langkat Menina-bobokkan Anak

Sejumlah ibu-ibu ikuti mendodoi di kolong Masjid Arr Rahman Kecamatan Wampu, Langkat. (foto: Endang/Mistar)
Langkat, MISTAR.ID
Suasana Masjid Ar Rahman yang ada di Kelurahan Bingai Kecamatan Wampu Kabupaten Langkat, Jumat pagi (7/11/2025) tampak beda dari biasanya. Puluhan kaum ibu datang ke masjid bersama bayi dan balitanya dengan membawa kain batik panjang yang disebut dengan kain jarik.
Puluhan kaum ibu ini datang untuk mengayunkan anak mereka dalam ayunan sambil diiringi lantunan sholawat, dendang melayu dan doa-doa. Kegiatan menidurkan anak diiringi lantunan sholawat, doa dan dendang melayu ini, oleh warga melayu Langkat disebut dengan Mendodoi.
Masjid Ar Rahman merupakan masjid tertua di Provinsi Sumatera Utara. Hari ini masjid Ar Rahman genap berusia 250 tahun. Masjid yang seluruh bagian bangunannya terbuat dari kayu ini memiliki desain seperi rumah adat melayu yang memiliki tangga dan bagian kolong bangunan dapat digunakan untuk berbagai keperluan.
Tradisi mendodoi ini juga dilaksanakan di kolong Masjid Ar Rahman. Puluhan ayunan dibuat dari kain jarik yang disimpukan ujungnya dengan tali kemudian diikatkan ke kayu pondasi masjid.
Tradisi mendodoi Melayu sebenarnya adalah tradisi menyenandungkan lagu pengantar tidur atau yang lebih dikenal sebagai "dodoi" sebagai media edukasi dasar untuk anak-anak.
Lagu-lagu ini tidak hanya berfungsi sebagai pengantar tidur, tetapi juga sebagai cara orang tua mendidik, menanamkan nilai-nilai moral dan agama, serta mengenalkan budaya sejak dini.
Sesuai namanya, tradisi ini juga berfungsi untuk menidurkan anak dengan nada-nada yang menenangkan. Melalui lirik-lirik dodoi, orang tua dapat menyampaikan ajaran moral, keagamaan, dan budaya Melayu.
Liriknya disampaikan dalam bentuk senandung atau nyanyian dengan melodi yang lembut dan menenangkan. Terkadang, lirik dodoi juga berisi cerita-cerita rakyat atau kisah-kisah yang mengandung nilai-nilai penting.
Berbagai tembang nasehat, shalawat dan doa dilantunkan sambil mengayun bayinya. Kali ini mendodoi disampaikan oleh atok andong (kakek-nenek) tetua kampung Bingai Kecamatan Wampu.
Dengan suara yang lemah lembut, merdu, mendayu-dayu dan berulang-ulang sambil mengayun atau membuai anak yang berada dalam ayunan (buaian) hingga anak tertidur.
Bisa dikatakan lagu dodoi adalah simbol dari limpahan kasih sayang dan keikhlasan orang tua terhadap anaknya, media komunikasi antara anak dan ibu bapak, media pendidikan perdana tentang nilai-nilai luhur dan keagamaan, dan pengganti teman bagi si anak.

Para atok dan andong sedang mendodoi bersenandung lagu melayu dan doa untuk menidurkan anak (foto: Endang/Mistar)
Lirik lagu atau pantun Dodoi tidaklah baku, tapi yang diutamakan adalah nasehat dan pesan-pesan moral yang disampaikan.
“Tidurlah anak, jangan menangis sayang, ayahmu jauh ya sayang di rantau orang ya sayang, dodoi si dodoi.. aaaa.. dodoi si dodoi,” terdengar lirik suara atok dan andong yang sedang bersenandung sambil diiringi musik rebana
Camat Wampu, Ahmad Fitria mengatakan, kegiatan tradisi mendodoi ini dimaksudkan untuk menjaga salah satu tradisi budaya melayu khususnya di Langkat agar senantiasa lestari dan terjaga.
Menurutnya, Dodoi atau nyanyian pengantar tidur diyakini sebagai salah satu bentuk sastra lisan tertua dalam budaya nusantara, yang diwariskan secara turun-temurun.
“Selain itu, tradisi ini juga sengaja dilakukan di masjid tertua dimaksudkan untuk mengembalikan fungsi masjid yang tidak hanya sebagai tempat ibadah namun juga sebagai berfungsi sebagai tempat adat dan sosial,” ujar Fitria.
Mendodoi ini juga dimaksudkan untuk mengajak anak sejak dini merasakan suasana masjid dan menghirup udaranya. Membuat ikatan spiritual sang anak dan masjid, yang kelak mereka akan mewarisinya.






















