Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
SUMUT

Warga Asahan Waspadai Residu Antibiotik pada Produk Hewani

Mistar.idJumat, 14 November 2025 08.59
EH
PR
warga_asahan_waspadai_residu_antibiotik_pada_produk_hewani

Risiko Residu Antibiotik digelar Dinas Peternakan Asahan. (Foto: Dok. Diskominfo/Mistar)

news_banner

Asahan, MISTAR.ID

Pemerintah Kabupaten Asahan mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap bahaya residu antibiotik yang mungkin terkandung dalam produk hewani seperti daging, susu, dan telur.

Ancaman ini dianggap serius karena dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari resistensi antibiotik hingga reaksi alergi yang membahayakan konsumen.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Pemkab Asahan melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan menggelar Sosialisasi Risiko Residu Antibiotik bekerja sama dengan Ikatan Alumni (IKA) Peternakan USU, pada Kamis (14/11/2025).

Dalam pemaparannya, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, drh. Yusnani menegaskan bahwa keamanan pangan asal hewan merupakan bagian penting dari ketahanan pangan nasional. Ia mengutip sejumlah regulasi seperti UU No. 18/2012 tentang Pangan, PP No. 86/2019 tentang Keamanan Pangan, serta UU No. 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

“Residu antibiotik merupakan sisa obat pada ternak yang tidak hilang sepenuhnya sebelum produk hewani itu dikonsumsi. Ketika masuk ke tubuh manusia, zat ini berpotensi membuat bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik, sehingga penyakit lebih sulit diobati. Selain itu, paparan jangka panjang juga dapat memicu toksisitas dan menurunkan kualitas kesehatan masyarakat,” kata Yusnani.

Menurutnya, penggunaan antibiotik pada ternak harus dilakukan secara benar dan terukur agar tidak meninggalkan residu yang membahayakan manusia.

Sementara itu, Bupati Asahan melalui Plt. Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Supriyanto, menekankan bahwa protein hewani memiliki peran besar dalam pemenuhan gizi masyarakat.

Namun, manfaat itu dapat hilang apabila produk yang dikonsumsi tercemar residu antibiotik yang justru menghambat penyerapan nutrisi dan menurunkan kualitas kesehatan publik.

“Kepada seluruh peternak agar menerapkan praktik beternak yang bertanggung jawab, menjaga kebersihan kandang, serta memastikan bahwa setiap produk hewani yang dijual sudah bebas dari residu berbahaya. Pengawasan yang kuat dan disiplin dalam penggunaan obat menjadi kunci utama mencegah risiko kesehatan jangka panjang,” katanya.

Melalui kegiatan sosialisasi ini, Pemerintah Kabupaten Asahan berharap pemahaman masyarakat dan pelaku usaha peternakan semakin meningkat. Pemkab mendorong literasi keamanan pangan diperluas, pengawasan lapangan diperketat, dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri terus diperkuat.

Dengan komitmen bersama, Asahan optimistis mampu menghadirkan produk hewani yang aman, sehat, dan berkualitas sebagai bagian dari upaya mewujudkan ketahanan pangan daerah yang berkelanjutan. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN