Friday, June 5, 2026
home_banner_first
SUMUT

Dari Tanah Tambang, Bagas Silua Jadi Urat Nadi Ekonomi Berkelanjutan di Batang Toru

Mistar.idKamis, 13 November 2025 12.58
WA
NA
dari_tanah_tambang_bagas_silua_jadi_urat_nadi_ekonomi_berkelanjutan_di_batang_toru_

UMKM Bagas Silua Jadi Urat Nadi Ekonomi Berkelanjutan di Batang Toru (foto: Instagram bagassilua/Mistar)

news_banner

Tapanuli Selatan, MISTAR.ID

Terletak di Simpang terakhir masuk Tambang Emas Martabe, Bagas Silua yang bermakna rumah oleh-oleh, kini menjadi urat nadi baru perekonomian Batang Toru. Dari tempat itu, lahir usaha dan harapan baru yang menegaskan tambang boleh berganti masa, tapi kehidupan harus terus berjalan.

Berada di Kelurahan Aek Pining, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Bagas Silua hadir berkat inisiatif PT Agincourt Resources (AR). Tujuannya sebagai wadah bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal memasarkan produk unggulan mereka.

Sejak diresmikan pada 28 September 2024, rumah oleh-oleh ini, menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perusahaan tambang dan masyarakat dapat menumbuhkan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus memperkuat.

Kemandirian Warga di Sekitar Wilayah Operasional

Shanty Budi Lestari (36) pengusaha batik Tapsel merasakan betul, dampak ekonomi dari hadirnya Bagas Silau ini. Omsetnya naik drastis, berkat promosi dan pelatihan mengembangkan produk yang diterimanya dari PT AR dan Bagas Silua.

"Sebelum didampingi PT AR, omset tahunan Batik Tapsel sekitar Rp60-70 juta per tahun, kini setelah didampingi salah satunya dengan Bagan Silua meningkat menjadi Rp120-150 juta per tahun," ujarnya, kepada Mistar.id, Selasa (11/11/2025).

Dari pendampingan yang diterimanya, pasar Batik Tapsel miliknya semakin meluas. Sejumlah provinsi di pulau Sumatera, Jawa dan Sulawesi meminatinya. Ratusan kain yang dijualnya pun laku setiap bulannya.

Shanty senang betul dengan keadaan ini, karena baginya Batik Tapsel bukan sekedar produk ekonomi, melainkan sarana pelestarian budaya Tapsel.

Sejak didirikan tahun 2016, usaha rintisan Santi, konsisten menggunakan motif khas yang melambangkan identitas Kabupaten Tapsel.

"Menggunakan motif-motif khas daerah Tapsel seperti salak sibakua, dalihan natolu, burangir, bulang dan ampu, kopi Sipirok, kebun kopi, gimbang dan bintang. Setiap motif menyimpan filosofi dan cerita yang mencerminkan identitas Tapsel," katanya.

Pemberdayaan Perempuan di Lingkar Tambang

Di sisi lain cita-citanya untuk pemberdayaan ekonomi perempuan lokal di sekitar lokasi tambang juga terwujud. Kini dia memiliki lebih dari 18 karyawan yang terdiri dari ibu rumah tangga dan anak remaja putus sekolah.

Mereka diajari membatik dari nol oleh Santi dan kini sudah memperoleh penghasilan tambahan.

“Saya melihat masyarakat sekitar khususnya perempuan disini banyak menghabiskan waktu dengan mengobrol, saya melihatnya gak produktif. Saya lalu mengajak mereka untuk membatik," ujarnya

"Sekarang dengan keterampilan ini, mereka bisa memperoleh penghasilan tambahan, pekerjaannya fleksibel menyesuaikan pekerjaan dengan rutinitas rumah tangga. Dalam sebulan bisa menambah penghasilan mereka Rp1 sampai Rp2 juta," tambahnya.

Tentunya keberhasilan, mengelola Batik Tapsel tidak terjadi begitu saja, dia mengalami proses jatuh bangun sebelumnya akhirnya dia bertemu dengan PT AR pada 2019. Sejak itu dia mendapatkan berbagai pelatihan yang dijadikan bekal untuk menjalankan bisnis dan pemberdayaan perempuan lokal.

"Pendampingannya mulai dari diajarkan teknik membatik dengan pewarna sintetis maupun alami pengelolaan administrasi untuk pendaftaran HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) dan merek dagang, hingga studi banding ke Yogyakarta dan Solo untuk mempelajari pembuatan batik," ujarnya.

Pendampingan ini juga membuat Santi semakin percaya diri dalam mengelola usaha dan meningkatkan skill timnya.

Ke depan, Ia pun bertekad untuk mengembangkan batiknya ini, agar semakin banyak membuka lapangan pekerjaan.

"Mudah-mudahan bisa menampung lebih banyak perempuan untuk berkreasi membuat batik Tapsel dan mendorong masyarakat Tapsel semakin tertarik dengan kerajinan batik," harapnya.

Pendampingan dan Motivasi 35 UMKM

Batik Tapsel sendiri, merupakan 1 dari 65 produk dari 35 UMKM binaan PT AR yang dipasarkan di Bagas Silua. Tempat itu, tidak hanya sekedar untuk mempromosikan produk UMKM. Namun juga 'laboratorium' menguji kualitas produk melalui masukan pelanggan.

“Misalnya ada UMKM kuliner, yang produknya kurang enak dirasakan pelanggan. Nanti keluhan pelanggan ini kita infokan ke PT AR untuk menyampaikan ke UMKM dampingannya, maka nanti akan dilakukan uji coba rasa kembali,” ujar pengelola Bagas Silua, Puspa kepada Mistar.id, Senin (10/11/2025)

Selanjutnya dalam proses pemasaran produk UMKM binaannya, Bagas Silua konsisten mempromosikannya melalui bazar, event UMKM hingga live TikTok.

"Distribusi mampu menjangkau pasar pembelian hingga Jakarta, Bandung, Sulawesi dan daerah lainnya," ujar Puspa Nurjannah

Dalam proses pengelolaannya, kata Puspa, Bagas Silua juga menekankan pentingnya pendampingan dan motivasi, karenanya pihaknya akan memberi reward untuk produk UMKM dengan penjualan terbanyak setiap bulannya.

“Produk yang terjual terbanyak itu kita kasih sembako untuk membangkitkan semangat mereka,” jelasnya.

Selain itu, Bagas Silua, juga memiliki produk Inovasi yang menjadi primadona, bernama Golden Snack. Komposisi makanan ini terdiri dari 10 varian, mulai dari keripik talas, pisang, ubi ungu dan lainnya. Keunikannya produk ini menggunakan edible gold atau serbuk emas asli yang bisa dimakan.

"Jadi Golden Snack, salah satu produk Bagas Silua, unik karena taburan emas yang dapat dikonsumsi," katanya.

Sama dengan Batik Tapsel, makanan ringan ini juga diminati hingga luar Sumut. Pihaknya sering melayani pembelian dari Bandung, Jakarta dan daerah lainnya.

Penghargaan Subroto

Karena perannya mendorong ekonomi di sekitar pertambangan naik kelas, Bagas Silua meraih Penghargaan Subroto dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia pada 28 Oktober 2025. Penghargaan merepresentasikan kontribusi PT AR terhadap tata kelola pertambangan yang baik dan kepatuhan terhadap regulasi fiskal sektor ESDM.

Prestasi ini juga bukan sekadar simbol, tetapi validasi bahwa tambang bisa berjalan selaras dengan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian budaya lokal. Sekaligus merupakan rancangan ekonomi berkelanjutan bahwa masyarakat di Batang Toru dan sekitarnya memiliki kesempatan untuk tumbuh bersama dengan PT AR dan tetap mandiri hingga tambang tidak lagi beroperasi.

“Berkat peningkatan produk dan omzet juga yang kini mencapai Rp38-57 juta per bulan hingga Bagas Silua meraih Penghargaan Subroto,” ungkap Puspa.

Bagan Silua Dirancang Untuk Ekonomi Berkelanjutan

Manager Community Development PT AR Rohani Simbolon mengatakan kehadiran Bagas Silua ini memang dirancang sebagai wujud kolaborasi antara perusahaan tambang dan masyarakat lokal untuk menciptakan peluang bisnis berkelanjutan, meningkatkan kapasitas usaha lokal dan memperkuat kemandirian ekonomi di sekitar wilayah operasional.

Jadi kata dia, PT AR tidak hanya berfokus pada tambang, pihaknya juga menyediakan pelatihan kewirausahaan, desain produk, literasi keuangan, serta pendampingan pemasaran ke pelaku UMKM di Batang Toru. Program dilakukan dengan prinsip co-creation perusahaan dan masyarakat bersama model usaha yang sesuai dengan potensi lokal.

Hasilnya, Bagas Silua kini menjadi pusat ekonomi kreatif sekaligus model berkelanjutan di kawasan tambang. Bahkan PT AR berupaya tetap menjaga keberlanjutan program meski operasi tambang berakhir.

“Keberlanjutan dijaga melalui penguatan kelembagaan lokal seperti pembentukan koperasi atau BUMDes sebagai pengelola, peningkatan kapasitas usaha pelaku UMKM, sistem pemasaran digital, serta pendampingan bisnis sehingga ekosistem ekonomi lokal tidak bergantung pada keberlangsungan tambang,” ujar Rohani.

Lebih lanjut kata dia, kehadiran Bagas Silua merupakan bagian dari komitmen PT AR pada pilar sosial (Social) dalam konsep ESG (Environmental, Social, and Governance) khususnya pada penguatan ekonomi lokal.

"Program ini menghadirkan ruang pemasaran tetap dan profesional bagi UMKM, membuka peluang kerja, memperkuat inklusi ekonomi, dan mendorong pertumbuhan usaha masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan," ujarnya

Dia juga mengatakan saat ini Bagas Silua menargetkan omzet pendapatan Rp1 miliar pada tahun pada 2025. Tentunya untuk tahun berikutnya omzet akan terus ditingkatkan. Berbagai jurus pun telah disiapkan PT AR.

"Upaya yang dilakukan meliputi kurasi produk unggulan, peningkatan kualitas dan kemasan, diversifikasi produk berbasis kekhasan lokal, promosi dan partisipasi dalam event regional, integrasi pemasaran digital, penguatan kelembagaan pengelola, serta pembinaan intensif agar UMKM mampu naik kelas," tandasnya.

Kehadiran Bagas Silua juga mendapat sambutan hangat dari Sekretaris Dinas Koperasi dan UMKM Pemkab Tapanuli Selatan, Hotmatua Rambe. Dia mengapresiasi dukungan yang diberikan PT Agincourt Resources kepada kelompok UMKM dan mendukung langkah strategis terhadap Bagas Silua.

“Pemkab Tapsel akan mendorong Bagas Silua menjadi salah satu pusat pemasaran jajanan khas Tapsel. Kita juga akan membantu pengurusan sertifikat halal pada setiap kemasan produk yang dipasarkan,” ujarnya.

Kemandirian Ekonomi

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin menilai inisiatif PT AR dalam mendirikan Bagas Silua langkah tepat mendorong kemandirian ekonomi lokal.

"Kehadiran Bagas Silua ini punya peran strategis dalam mendorong kemajuan UMKM di sekitar wilayah kerja PT Agincourt. Ini langkah bagus untuk mempromosikan produk UMKM dengan kearifan lokal dan saya meyakini bahwa kehadiran Bagas Silua itu sudah melalui kajian yang mendalam dan sudah diperhitungkan agar bisa dieksekusi di lapangan,” ungkapnya, Rabu (12/11/2025).

Agar ekonomi di Tapsel naik kelas, Benjamin juga menyarankan Pemkab Tapsel mengeluarkan peraturan atau himbauan agar masyarakat lebih banyak menggunakan produk yang dijajakan di Bagas Silua sebagai buah tangan khas wilayah tapanuli selatan.

"Misalnya seperti mendorong agar PNS, pegawai perusahaan, maupun masyarakat di wilayah Tapanuli Tengah membeli produk batik atau kuliner Bagas Silua untuk dikonsumsi pribadi atau digunakan sebagai hadiah dan buah tangan dalam sesi acara tertentu," ujarnya.

Menuju Harmoni Tambang dan Masyarakat

Kini Bagas Silua, bukan sekadar rumah oleh-oleh. Ia menjadi denyut nadi model ekonomi kreatif berkelanjutan, menunjukkan bahwa tambang dan masyarakat lokal bisa tumbuh bersama.

Dari Batang Toru, lahir pesan sederhana, bahwa tambang boleh beroperasi sementara, tapi ekonomi keberlanjutan masyarakat, harus tetap jadi prioritas utama. (hm21)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN