Tokoh Samosir Soroti Kearifan Lokal, Harus Jadi Penuntun di Era Modern

Mantan Penjabat Bupati Samosir, Wilmar Eliezer Simanjorang. (Foto: Pangihutan/Mistar)
Samosir, MISTAR.ID
Tokoh masyarakat sekaligus mantan Penjabat Bupati Samosir saat awal pemekaran, Dr. Wilmar Eliezer Simanjorang, menegaskan pentingnya kearifan lokal sebagai penuntun hidup di tengah perubahan zaman.
Hal itu disampaikannya, Kamis (2/4/2026), menanggapi kondisi masyarakat yang dinilai semakin memandang nilai dan kebenaran sebagai sesuatu yang relatif dan dapat dinegosiasikan.
“Kebenaran menjadi relatif, makna menjadi lentur, dan identitas lebih sering ditampilkan daripada dihidupi,” ujarnya.
Menurut Wilmar, tradisi saat ini berada dalam posisi dilematis, yakni dipertahankan tanpa pemahaman atau justru ditinggalkan tanpa pertimbangan. Padahal, kearifan lokal seharusnya menjadi landasan dalam berpikir, menilai, dan menjalani kehidupan.
Ia menjelaskan, dalam tradisi Batak, terdapat falsafah hidup yang menekankan proses “menimbang” dalam memahami kebenaran. Proses ini menuntut kejernihan berpikir, keadilan, serta tanggung jawab dalam mengambil keputusan.
“Menimbang berarti tidak tergesa-gesa, melihat persoalan dari berbagai sisi, serta mempertimbangkan dampak secara menyeluruh,” jelasnya.
Namun, ia menilai nilai-nilai tersebut mulai melemah ketika hanya dijadikan slogan tanpa pemaknaan mendalam. Akibatnya, kearifan lokal kehilangan daya kritis dan hanya menjadi simbol budaya semata.
“Budaya masih diucapkan, tetapi tidak lagi dihidupi,” tegasnya.
Wilmar juga menyoroti krisis integritas yang dikenal dalam tradisi Batak dengan istilah siganjang dila, yakni pandai berbicara namun tidak sejalan dengan tindakan.
“Nilai diucapkan, tetapi tidak dijalankan. Prinsip dibanggakan, tetapi diabaikan dalam praktik,” ungkapnya.
Ia menilai kondisi tersebut merupakan krisis kolektif, di mana manusia modern cenderung menyesuaikan kebenaran dengan kepentingannya sendiri.
Menurutnya, kearifan lokal perlu diuji secara kritis, bukan untuk ditinggalkan, melainkan dimurnikan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
“Setiap nilai harus diuji, apakah adil, membangun, dan tetap benar meski tidak menguntungkan,” katanya.
Wilmar juga mengingatkan bahwa modernitas sering menawarkan jalan pintas dengan meninggalkan tradisi demi efisiensi, yang berisiko membuat manusia kehilangan arah hidup.
“Kearifan lokal adalah penuntun arah, penyeimbang kekuasaan, dan pengikat relasi sosial,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemulihan kearifan lokal bukan berarti kembali ke masa lalu secara romantis, tetapi memahami esensinya dan menghidupkannya dalam konteks kekinian.
Baca Juga: Pemerhati Lingkungan Dr Wilmar Simanjorang: “Selamatkan Danau Toba, Kalau Bukan Kita Siapa Lagi?”
Menurutnya, persoalan utama saat ini bukan kekurangan nilai, melainkan tidak dijalankannya nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita tahu apa yang benar, kita mampu mengatakannya, tetapi tidak selalu melakukannya,” katanya.
Wilmar menambahkan, generasi saat ini hidup di antara arus globalisasi dan akar tradisi yang harus disikapi secara bijak.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa kekuatan kearifan lokal terletak pada implementasinya dalam kehidupan nyata.
“Yang menentukan bukan seberapa banyak nilai diwarisi, tetapi seberapa sungguh nilai itu dijalankan,” pungkasnya.
BERITA TERPOPULER


















