Pengungsi Banjir di Tapteng: Bantuan Pemerintah Tak Ada, Bertahan dari Donatur

Tulus Parlindungan Sihombing saat menunjukkan Huntara yang ditempatinya di Asrama Haji Pinangsori, Kelurahan Sitonong Bangun, Kecamatan Pinangsori. (Foto: Feliks/Mistar)
Tapteng, MISTAR.ID
Pemerintah menyebutkan telah melakukan berbagai upaya untuk membantu korban banjir di Tapanuli Tengah (Tapteng). Namun, menurut seorang warga bernama Tulus Parlindungan Sihombing, pengungsi dari Desa Pagaran Honas, Kecamatan Badiri, bantuan yang disebut-sebut pemerintah tidak kunjung diperoleh pengungsi.
Ia mengaku hampir putus asa dengan beban berat yang dia rasakan karena tidak adanya bantuan setelah satu bulan mengungsi di hunian sementara (Huntara) Asrama Haji Pinangsori, Kelurahan Sitonong Bangun, Kecamatan Pinangsori.
Selama mengungsi, Tulus mengatakan sesama masyarakat yang saling tolong-menolong untuk bertahan hidup. “Beberapa donatur ada yang membantu seadanya,” kata Tulus, Minggu (1/3/2026).
Awal mula mengungsi, Tulus dan warga lain ditempatkan ke pengungsian darurat di Desa Kebun Pisang, Kecamatan Badiri. Di sana mereka masih mendapatkan bantuan makanan yang difasilitasi pemerintah daerah dari dapur umum. Ada pula bantuan kesehatan, pendidikan anak-anak dan bentuk bantuan lainnya.
“Di tenda pengungsian darurat beberapa menteri dan pejabat pemerintah pusat datang dan menyampaikan harapan kepada pengungsi. Mereka mengatakan negara akan selalu hadir dan selalu menjanjikan bantuan,” ucapnya.
Dilanjutkannya lagi, “satu bulan lebih tinggal di tenda darurat, bantuan dari negara yang dijanjikan belum juga kami dapatkan. Bahkan seluruh pengungsi kembali dipindahkan ke Huntara Asrama Haji Pinangsori, sebab di lokasi tenda darurat akan dibangun sebagai lokasi Huntara,” tuturnya.
Tulus mengatakan, saat ini ia dan keluarga tinggal di Huntara berukuran 4x4. Menurut pantauan Mistar, di kamar tersebut hanya ada kasur, bantal, tumpukan pakaian yang tergulung tak beraturan, rak piring, perlengkapan memasak. Kamar itu sekaligus menjadi dapur mereka.
“Kamar ini memang lebih layak dibandingkan dengan tenda darurat. Namun, setiap hari harus memasak sendiri karena tidak ada lagi dapur umum dan tidak disediakan pemerintah lagi. Selama mengungsi, saya sudah kehilangan pekerjaan. Biaya untuk menafkahi keluarga tidak ada. Kami sangat mengharapkan sekali bantuan dari pemerintah,” katanya.
Hingga saat ini, makanan yang diperoleh hanya dari donatur dan harus dibagi rata dengan pengungsi lainnya.
“Kalau ada donatur yang beri makan, maka itu saja yang bisa kami makan. Kalau tidak ada, ya sabar-sabar. Itu saja, kami sudah lelah menghadapi bencana ini,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai ibadah puasa, Tulus mengatakan cukup sulit karena terkadang tidak ada makanan.
“Sebagian pengungsi tidak dapat menjalankan ibadah puasa lantaran tidak ada yang bisa dimakan saat sahur. Tidak ada pekerjaan dan semua makanan ditanggung masing-masing pengungsi. Kalau untuk bantuan sosial, kami belum pernah terima sama sekali,” ucapnya.
Masih kata Tulus, “kalau makan sahur dan berbuka kami tidak pilih-pilih. Kalau hanya ada nasi putih dan air putih, kami akan makan. Harus disyukuri.”
Permasalahan lain pengungsi adalah biaya pendidikan anak. Tulus mengungkapkan, ia terpaksa memindahkan anaknya ke sekolah di Sitonong Bangun. Pemindahan sekolah anaknya ini tentu membutuhkan biaya transportasi.
“Permasalahan kami semakin besar karena setiap hari anak yang sekolah butuh biaya transportasi dan jajan. Mau tidak mau harus mencari pinjaman sama orang lain. Terpaksa berutang menunggu datang bantuan dari pemerintah. Ketika dicairkan, baru dibayar nanti,” ucapnya.
Diketahui, banjir di Tapanuli Tengah terjadi pada 25 November 2025. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tapteng dan Basarnas, jumlah warga terdampak mencapai 296.453 jiwa dan pengungsi sebanyak 723 Kepala Keluarga (KK).
Menanggapi lambannya bantuan ke warga terdampak banjir di Tapteng, Direktur Jenderal (Dirjen) Perlindungan dan Jaminan Sosial (Limjamsos), Agus Zainal Arifin, mengatakan segera memberikan bantuan berupa jaminan hidup, termasuk bantuan kerusakan rumah dan modal pemulihan ekonomi.
“Pertama ada bantuan jaminan hidup, bantuan isi hunian rumah, dan ada stimulus untuk membangun ekonominya sehingga bisa balik kembali,” ujarnya.
Agus menjelaskan Dinas Sosial masih mengumpulkan data yang akurat dari pemerintah daerah.
“Ini sudah mulai, sudah bisa kita proses, bisa jalan sekarang. Mudah-mudahan dalam beberapa hari bantuan bisa segera cair. Ada data yang masih belum siap, silakan menyusul. Semoga lancar ya, mohon doanya, kita kerja keras terus,” tuturnya. (hm20)
BERITA TERPOPULER























