Kisah Tandon Menara Air Warisan Belanda di Kisaran, Puluhan Tahun Jadi Penanda Imsak dan Berbuka

Tandon menara air warisan Belanda berdiri kokoh di Jalan Panglima Polem, Kisaran. (Foto: Perdana/Mistar)
Asahan, MISTAR.ID
Di masa ketika teknologi belum secanggih sekarang, belum ada notifikasi ponsel atau siaran televisi yang mengingatkan waktu berbuka, warga Kisaran menggantungkan penanda waktu puasa pada satu sumber suara: sirine dari menara air PDAM.
Suara sirine itu pernah menjadi detak jantung Ramadan di Kisaran. Menggema dari ketinggian, memekakkan telinga, namun justru paling dirindukan.
Bagi warga Kisaran dan sekitarnya di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, terutama generasi 1970 hingga 1990-an, dentuman sirine dari tandon menara air peninggalan Belanda itu adalah penanda sakral: waktu imsak dan berbuka telah tiba.
Kini, bangunan tua itu masih berdiri kokoh di Jalan Panglima Polem, Kecamatan Kisaran Barat. Catnya memang telah diperbarui, tetapi sejarah yang melekat di setiap bata dan tiang besinya tetap utuh. Tandon menara air yang dibangun pada 1928 itu dulunya tak sekadar infrastruktur air bersih, melainkan saksi perjalanan waktu dan tradisi Ramadan masyarakat di Kisaran.
Gegap gempita bunyinya mampu menjangkau berbagai sudut kota. Ketika sirine berbunyi menjelang subuh, warga tahu waktu imsak telah tiba. Saat senja datang dan suara itu kembali meraung, anak-anak hingga orang tua bergegas menyiapkan hidangan berbuka.
“Kalau sudah dengar sirine itu, kami langsung tahu waktunya berbuka. Suaranya keras sekali, tapi justru itu yang bikin suasana Ramadan terasa,” kenang Ahmad Panjaitan, 58 tahun, warga Jalan Mas Mansyur, Kisaran Barat, yang sejak kecil tinggal tak jauh dari menara tersebut, Sabtu (28/2/2026).
Menurut cerita warga, operasional hidup-mati sirine kala itu masih dilakukan secara manual. Petugas dari kantor PLN yang lokasinya berdekatan dengan menara bertugas menyalakan dan mematikan sirine sesuai jadwal waktu imsak dan berbuka.
“Dulu belum ada pengeras suara masjid sebanyak sekarang. Jadi sirine itu sangat membantu karena tempatnya tinggi. Semua orang dengar, tidak ada yang terlewat,” tambah Siti, 63 tahun, warga lainnya.
Pada masanya, tandon menara air tersebut merupakan bangunan paling tinggi di kawasan itu. Berdiri menjulang di antara bangunan rendah khas kota kecil, menara ini menjadi ikon tersendiri.
Di bagian atasnya tertera tulisan “Water Leading Bedrif” dan angka 1928 penanda tahun berdirinya di era kolonial Belanda. Struktur tiang-tiang pilar besinya hingga kini masih kokoh, ditopang fondasi batu bata dan cor beton asli yang bertahan hampir satu abad.
Setelah Belanda meninggalkan Asahan, wilayah yang dulu dikenal potensial karena hasil perkebunannya melimpah, fungsi utama tandon air perlahan berhenti. Namun, bangunannya tidak pernah benar-benar hilang dari kehidupan warga.
Kini, di sekitar lokasi menara berdiri Pasar Buah Kisaran yang ramai setiap hari. Aktivitas jual beli berlangsung di bawah bayang-bayang bangunan bersejarah yang pernah menjadi pusat perhatian kota.
Saat ini, tandon menara air tersebut telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Bentuk aslinya dipertahankan, hanya dilakukan pengecatan ulang agar tampak lebih terawat.
Kepala Bidang Hubungan Pelanggan PDAM Tirta Silau Piasa, Iswanto, menjelaskan menara tersebut memiliki nilai sejarah tinggi bagi masyarakat Asahan.
“Menara air ini bukan sekadar bangunan tua. Ia bagian dari sejarah pelayanan air bersih di Kisaran sekaligus saksi perjalanan sosial masyarakat, termasuk tradisi Ramadan,” ujar Iswanto.
Ia menambahkan meskipun sudah tidak difungsikan sebagai tandon aktif, struktur bangunan tetap dijaga keasliannya di bawah pengawasan pemerintah daerah karena masuk dalam cagar budaya.
“Bentuknya masih sama seperti dulu, hanya dilakukan pengecatan agar lebih indah dan tidak terkesan terbengkalai,” jelasnya.
Perkembangan zaman membuat peran sirine menara air perlahan tergantikan oleh pengeras suara masjid, radio, televisi, hingga aplikasi digital penentu waktu salat. Namun bagi generasi lama, tak ada yang bisa menggantikan sensasi menunggu dentuman sirine dari ketinggian itu.
Ramadan kala itu terasa sederhana, namun sarat kebersamaan. Anak-anak bermain di halaman, orang tua menyiapkan hidangan, lalu tiba-tiba suara sirine meraung panjang seolah memberi aba-aba bahwa satu hari puasa telah ditunaikan.
Kini, meski sirine itu tak lagi berbunyi, kenangannya tetap hidup dalam ingatan warga Kisaran. (hm25)
BERITA TERPOPULER























