Kakanwil Kemenag Sumut Minta Pendataan Menyeluruh ASN dan Sarpras Terdampak Banjir

Situasi bencana di Kabupaten Tapanuli Selatan. (foto:iqbal/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sumatera Utara, Ahmad Qosbi, menginstruksikan seluruh Kemenag kabupaten/kota untuk melakukan pendataan menyeluruh terhadap ASN, keluarga, serta sarana prasarana keagamaan yang terdampak banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah Sumut.
Arahan ini disampaikan setelah cuaca dan kondisi hujan di Sumatera yang tak kunjung reda hingga mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah. Hal ini juga dipertegas melalui surat resmi Kanwil bernomor B-1915/Kw.02/1/HM.01/11/2025 perihal imbauan donasi dan data dampak bencana alam.
Dalam surat tersebut, Kanwil meminta setiap satuan kerja segera menginventarisasi kondisi kantor, madrasah, KUA, rumah ibadah, pondok pesantren, serta memperkirakan kerugian akibat bencana.
Pendataan diminta dilakukan secara cepat agar langkah penanganan dan pemulihan dapat terkoordinasi. Selain itu, madrasah yang terdampak diberi keleluasaan untuk melaksanakan pembelajaran secara daring sesuai kondisi masing-masing wilayah, serta melakukan sosialisasi mengenai kewaspadaan dini terhadap cuaca ekstrem.
Ahmad Qosbi juga menyampaikan duka mendalam atas kejadian banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah daerah seperti Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Kota Sibolga, Nias, dan wilayah lainnya.
“Mari kita bermunajat, mendoakan seluruh saudara kita yang kena musibah. Semoga bencana ini cepat berlalu dan seluruh korban mendapat ketabahan,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Mistar, Jumat (28/11/2025).
Ia juga meminta seluruh ASN untuk saling menguatkan dan membantu korban berdasarkan kemampuan masing-masing. “Sebagai umat beragama, mari kita mengulurkan tangan untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah agar dampak yang mereka rasakan bisa berkurang,” katanya.
Tidak hanya soal respons darurat, Kakanwil menyoroti pentingnya edukasi berkelanjutan mengenai ekoteologi dan kesadaran menjaga lingkungan. Menurutnya, kerusakan alam dan hutan berkontribusi besar terhadap terjadinya bencana.
“Bencana terjadi akibat ulah manusia yang merusak lingkungan. Maka, kami minta penyuluh agama, guru, dan seluruh ASN agar melakukan penyuluhan secara masif terkait ekoteologi. Dengan menjaga lingkungan, kita bisa mencegah bencana mulai dari diri sendiri, keluarga, dan masyarakat dampingan kita,” tuturnya.
“Semoga Sumut dan Indonesia dijauhkan dari segala marabahaya, baik bencana alam maupun kerusakan akibat perbuatan manusia,” ucapnya lagi. (hm27)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



















