Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
SUMUT

Gema Natal di Tengah Pengungsian Tukka, Harapan yang Tak Pernah Padam

Mistar.idKamis, 25 Desember 2025 21.01
journalist-avatar-top
gema_natal_di_tengah_pengungsian_tukka_harapan_yang_tak_pernah_padam_

Jemaat HKBP Resort Tukka merayaan Natal dengan sukacita. (foto: feliks/mistar)

news_banner

Feliks Manalu, Tapteng

NATAL 2025 tiba di Sumatera Utara (Sumut) dengan suasana yang berbeda. Sebulan sebelum hari raya kelahiran Kristus itu dirayakan, bencana banjir bandang dan tanah longsor menerjang Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), tepatnya pada 25 November 2025. Kecamatan Tukka menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak. Desa dan kelurahan di kawasan ini luluh lantak, dihantam arus air yang membawa gelondongan kayu, batu, dan lumpur, meninggalkan kehancuran yang sulit dilupakan.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapteng mencatat, sebanyak 16.124 jiwa terdampak. Sebanyak 33 orang meninggal dunia, 18 lainnya masih dalam pencarian, dan 812 warga terpaksa mengungsi, meninggalkan rumah yang rata dengan tanah atau tertimbun material longsor.

Bagi para korban, Natal tahun ini bukan dirayakan di rumah yang hangat atau di gereja yang megah. Natal hadir di tenda-tenda pengungsian, di bawah langit yang dingin dan hujan yang kerap turun tanpa jeda. Suasana sukacita terasa samar, namun harapan tetap dijaga agar gema Natal mampu menghadirkan kekuatan baru di tengah keterbatasan.

Di Posko Pengungsian Sipange, umat Katolik Stasi Santo Andreas Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Paroki Santo Yosef Pandan, tetap merayakan ibadah Natal. Gereja mereka mengalami kerusakan berat dan seluruh material bangunan hanyut terbawa banjir. Namun, keterbatasan itu tak memadamkan iman.

Ibadah Natal dipimpin Vikaris Jenderal Keuskupan Sibolga, Pastor Ignatius Purwo OSC, Rabu (24/12/2025) malam. Dalam suasana hujan lebat, umat berkumpul di bawah tenda darurat. Tak ada bangku gereja yang rapi, tak ada dekorasi Natal yang meriah. Yang ada hanyalah tanah becek, lampu seadanya, dan doa-doa yang dipanjatkan dengan hati yang rapuh namun penuh pengharapan.

Menariknya, perayaan Natal ini tidak hanya diikuti umat Katolik. Umat Protestan turut bergabung, mengingat gereja HKBP di wilayah tersebut juga mengalami kerusakan parah dan tidak dapat digunakan. Dalam kesederhanaan, sekat denominasi pun luruh. Natal dirayakan bersama sebagai satu keluarga besar.

“Kami masih percaya Tuhan menyertai kami. Dalam bencana ini, kami mohon kekuatan untuk menjalani hidup,” demikian penggalan doa umat yang dibacakan malam itu. Doa-doa tersebut bergema lirih, namun sarat makna.

Pastor Ignatius menyampaikan pesan penguatan. Ia mengatakan, Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi menjanjikan penyertaan dan kekuatan di tengah penderitaan.

“Malam ini kita merayakan Natal di tenda pengungsian. Dalam keterbatasan, kita merayakan kelahiran Tuhan yang juga lahir dalam kesederhanaan,” ujarnya. Ia berharap, keadaan umat segera membaik dan pemulihan dapat segera terwujud.

Vikaris Jenderal Keuskupan Sibolga, Pastor Ignatius Purwo OSC saat memimpin perayaan natal umat Gereja Katolik Stasi Santo Andreas Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Paroki Santo Yosef di posko pengungsian Sipange. (foto: feliks/mistar)

Di antara jemaat, Mario Tambunan, warga Hutanabolon yang rumahnya hanyut terseret banjir, duduk khusyuk sejak awal ibadah hingga doa penutup. Sesekali matanya terpejam, seolah berbincang langsung dengan Tuhan.

“Saya bahagia malam ini meski Natal di pengungsian. Saya yakin Tuhan tidak akan meninggalkan kami,” ujarnya lirih. Ia mengaku rindu rumah, rindu Natal bersama keluarga dan tetangga. Meski persaudaraan di pengungsian terasa erat, baginya kebahagiaan itu akan lebih utuh saat bisa kembali pulang.

Sementara itu, jemaat HKBP Resort Tukka Hutanabolon masih dapat melaksanakan ibadah Natal di gedung gereja, meski dengan keterbatasan. Lumpur telah dibersihkan, namun bekas ketinggian air masih jelas terlihat di dinding gereja. Empat gereja lainnya di wilayah Tukka hingga kini belum bisa difungsikan.

Ibadah Natal HKBP digelar pada siang hari, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ratusan jemaat hadir, melewati genangan air yang masih mengelilingi gereja. Sukacita tetap terasa, meski tanpa dekorasi mewah.

Pendeta Paten Sidabutar menegaskan bahwa Natal bukan soal kemeriahan, melainkan tentang kehadiran Tuhan yang memberi kekuatan di tengah penderitaan.

“Tuhan datang memberi pengharapan. Di tengah bencana dan kegalauan, Dia hadir bersama kita,” ujarnya, sembari mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan agar tragedi serupa tak terulang.

Pemandangan paling memilukan terlihat di Gereja GKPI Hutanabolon. Lumpur setinggi lebih dari satu meter masih mengubur sebagian dinding gereja. Bangku jemaat terdorong ke pintu, jendela jebol, pagar hilang, dan jalan di samping gereja berubah menjadi aliran air berlumpur. Aula sekolah minggu yang dulu berdiri megah kini lenyap terseret banjir.

Kondisi Gereja GKPI Hutanobolon yang terkubur lumpur tebal satu mencapai satu setengah meter. (foto: feliks/mistar)

Jemaat GKPI kini hidup di tenda pengungsian. Untuk sementara, mereka merayakan Natal di tenda bantuan BPBD yang didirikan di samping gereja.

“Kami tetap bersyukur bisa merayakan Natal meski di tenda. Gereja kami memang rusak, tapi iman kami tidak,” kata Erik Supando Sirait, salah seorang jemaat. Ia juga menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan pemerintah dan para dermawan.

Gema Natal yang berkumandang di tengah bencana di Tukka menjadi pengingat bagi semua. Bahwa di balik duka, selalu ada harapan. Namun lebih dari itu, Natal ini mengajak untuk tidak melupakan tragedi yang terjadi, agar empati tidak berhenti sebatas bantuan sesaat.

Gema Natal di tengah pengungsian adalah panggilan untuk menjaga kehidupan, merawat alam, dan menumbuhkan tanggung jawab bersama—sebelum bencana kembali mengetuk kesadaran manusia.*

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN