Pasokan BBM Terhambat di Simalungun, Sopir dan Petani Paling Terdampak

Sejumlah kendaraan antrean BBM di SPBU Raya Kabupaten Simalungun. (foto: Indra/mistar)
Simalungun, MISTAR.ID
Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertalite dan solar yang telah berlangsung tiga hari terakhir membuat aktivitas masyarakat di Kabupaten Simalungun terganggu. Distribusi BBM diduga tersendat akibat bencana yang melanda sejumlah wilayah Sumatera Utara (Sumut) sehingga pasokan ke SPBU tidak lancar.
Pantauan di SPBU Raya pada Senin (1/12/2025) pagi, antrean kendaraan mengular hingga puluhan meter. Ratusan pengendara roda dua dan roda empat menunggu berjam-jam demi mendapatkan BBM, sementara bahu jalan dipenuhi kendaraan yang berhenti menunggu giliran.
Seorang sopir angkutan pedesaan, Rizal, mengaku sudah tiga hari kesulitan beroperasi karena tidak mendapatkan solar. Untuk tetap mengangkut penumpang, ia harus memutar arah dan menghabiskan lebih banyak bahan bakar hanya untuk mencari SPBU yang masih memiliki stok.
"Banyak kali rugi kami. Solar susah, penumpang pun banyak terlantar karena jadwal kacau. Hari ini la baru ada di SPBU raya, sudah tiga hari juga kosong, makanya ini rela antri," katanya.
Seorang petani, Junaidi, juga merasakan dampaknya. Ia membutuhkan BBM untuk menghidupkan mesin pompa air dan mengangkut hasil panen, namun kelangkaan membuat pekerjaannya tertunda.
"Air sawah kami mesti disedot pakai mesin. Kalau minyak langka begini, tertunda semua. Panen pun bisa terganggu," ujarnya.
Seorang kurir paket, Aldy Sipayung, turut terjebak dalam situasi sulit ini. Ia bahkan harus keluar dari Simalungun untuk mendapatkan BBM demi melanjutkan pekerjaannya.
"Mulai hari Jumat sudah payah dicari. Kami sampai ke SPBU Dokan mencari minyak, terganggu la kerjaan pastinya," kata Aldy saat ditemui di sekitar SPBU Raya.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari Pertamina terkait penyebab pasti dan waktu normalisasi pendistribusian BBM di wilayah Simalungun. Masyarakat berharap pasokan segera kembali stabil agar kegiatan ekonomi tidak semakin lumpuh dan antrean panjang tidak terus berulang.






















