Tuesday, October 6, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Harga Cabai di Pematangsiantar Tembus Rp85 Ribu, Pengamat Soroti Dampak MBG

Mistar.idSelasa, 6 Oktober 2026 pukul 16.45 WIB
harga_cabai_di_pematangsiantar_tembus_rp85_ribu_pengamat_soroti_dampak_mbg

Pedagang cabai di Pasar Dwikora. (Foto: Abdi/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (6/10/2026) – Harga cabai di Kota Pematangsiantar terus mengalami kenaikan. Saat ini, harga cabai merah mencapai Rp85.000 per kilogram, cabai rawit Rp60.000 per kilogram, dan cabai hijau Rp44.000 per kilogram.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Simalungun (USI), Darwin Damanik, menilai kondisi tersebut menjadi peringatan serius bagi stabilitas pangan daerah. Menurutnya, lonjakan harga terjadi karena dua faktor utama secara bersamaan, yakni gangguan pasokan dan peningkatan permintaan.

Dari sisi hulu, cuaca yang tidak biasa, seperti curah hujan tinggi, memukul sentra produksi cabai di sejumlah wilayah Sumatera Utara, di antaranya Kabupaten Simalungun, Karo, dan Humbang Hasundutan.

“Curah hujan yang tinggi membuat bunga cabai mudah jatuh. Tanaman juga mudah terkena penyakit patek atau antraknosa. Selain itu, hujan menghambat pengiriman. Akibatnya, pasokan yang masuk ke Pasar Dwikora berkurang drastis,” kata Darwin kepada Mistar.id, Selasa (6/10/2026).

Selain faktor alam, Darwin mengatakan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga memberikan tekanan terhadap rantai pasok. Program nasional tersebut menciptakan tambahan permintaan dalam jumlah besar setiap hari.

“Jika penyedia katering MBG membeli bahan baku dari pasar eceran seperti Pasar Dwikora, bukan lewat kontrak langsung dengan petani atau distributor besar, stok untuk publik otomatis ikut terambil. Sesuai hukum ekonomi, barang yang sedikit dan permintaan yang tinggi akan membuat harga naik tajam,” ungkapnya.

Darwin menyambut baik langkah pemerintah daerah yang mengadakan operasi pasar murah. Menurutnya, upaya tersebut dapat menahan gejolak harga dan menjaga daya beli masyarakat, sekaligus mencegah aksi borong. Namun, ia mengingatkan bahwa operasi pasar bukan solusi jangka panjang.

“Pasar murah itu seperti obat pereda nyeri, bukan penyembuh penyakit. Langkah ini tidak menyelesaikan akar masalah. Masalah utamanya adalah kelangkaan stok. Begitu operasi pasar selesai, harga di pasar reguler akan naik lagi. Hal ini terjadi selama pasokan dari petani belum pulih,” tegas Darwin.

Ia menambahkan, kenaikan harga cabai berdampak luas. Bukan hanya pemilik warung makan yang terpukul, rumah tangga dan pelaku UMKM, seperti pedagang gorengan, mi balap, hingga industri sambal rumahan, juga merasakan dampaknya.

Menurutnya, para pelaku usaha tersebut dihadapkan pada pilihan sulit jika harus menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan.

Selain itu, kenaikan harga komoditas tersebut berpotensi mendorong inflasi di daerah. Cabai merah merupakan salah satu komoditas yang dapat memengaruhi inflasi. Harga cabai merah yang tinggi dapat menekan daya beli dan nilai riil pendapatan masyarakat Pematangsiantar.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Darwin meminta Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar terlibat secara menyeluruh, mulai dari sisi hulu hingga hilir.

Pertama, Pemko Pematangsiantar perlu memperkuat kerja sama antardaerah (KAD) dengan wilayah penghasil cabai seperti Simalungun dan Karo. Jika terjadi gagal panen di satu daerah, pemerintah kota harus memiliki peta wilayah surplus sebagai alternatif pasokan. Selain itu, pemerintah juga perlu menyiapkan dukungan terhadap biaya transportasi pengiriman.

Kedua, pemerintah perlu mengatur rantai pasok bagi penyedia program MBG. Vendor atau katering pelaksana MBG sebaiknya diarahkan membeli pasokan secara langsung dari koperasi petani atau distributor besar. Cara ini dinilai dapat menjaga ketersediaan bahan pangan masyarakat di pasar eceran.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN