Film Pendek 'Deru Mesin' Hibur Warga Siantar di Acara Pray for Sumatera

Warga menikmati pertunjukan di Lapangan Adam Malik, Pematangsiantar, dalam gelaran Pray for Sumatera, penggalangan dana bagi korban bencana. (Foto: Indra/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Film pendek Deru Mesin sukses menghibur warga Kota Pematangsiantar dalam acara Pray for Sumatera, penggalangan dana bagi korban bencana, yang digelar di Lapangan Adam Malik, Senin (29/12/2025) malam. Kegiatan ini menarik perhatian ratusan pengunjung dari berbagai kalangan.
Film berdurasi kurang dari 30 menit tersebut ditayangkan perdana di hadapan publik dan menjadi salah satu suguhan utama yang paling menyita perhatian pengunjung. Sejak awal pemutaran, antusiasme warga terlihat tinggi, menandai sambutan positif terhadap karya film lokal itu.
Deru Mesin mengangkat kisah menyentuh tentang seorang pemilik becak Becak Siantar Asli (BSA) yang berada dalam dilema ekonomi keluarga, namun tetap berjuang mempertahankan becak BSA sebagai sumber mata pencaharian sekaligus simbol identitas Kota Pematangsiantar.
Baca Juga: Wali Kota Pematangsiantar Gelar Open House Natal 2025, Perkuat Silaturahmi dan Kepedulian Sosial
Cerita yang dekat dengan realitas masyarakat tersebut ditulis oleh Alvin Nasution, yang juga berperan sebagai Ketua BSA dalam film dan merupakan warga Sapangambei Manoktok Hitei.
Suasana pemutaran film berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Warga tampak duduk lesehan di depan panggung utama, sementara layar besar serta tata cahaya profesional membuat kawasan Lapangan Adam Malik seolah berubah menjadi bioskop terbuka. Anak-anak hingga orang dewasa terlihat khusyuk mengikuti alur cerita, sesekali diselingi tawa dan tepuk tangan penonton.
Sejumlah penonton mengaku terharu dengan pesan yang disampaikan film tersebut. Rina, salah seorang warga yang hadir, mengatakan kisah pemilik becak BSA sangat merepresentasikan perjuangan masyarakat kecil di tengah tekanan ekonomi.
“Ceritanya sederhana, tapi kena di hati. Ini bukan sekadar film, tapi pengingat tentang identitas dan perjuangan orang Siantar,” ujarnya.
Tanggapan positif juga disampaikan Andi, mahasiswa asal Pematangsiantar. Menurutnya, Deru Mesin berhasil mengangkat kearifan lokal dengan cara yang menarik dan relevan bagi generasi muda. Ia berharap ke depan akan lebih banyak karya film lokal yang diproduksi dan ditayangkan di ruang publik.
“Nonton bareng di lapangan seperti ini rasanya beda. Suasananya hangat, ramai, dan filmnya bikin bangga karena ceritanya tentang kota sendiri, dengan lokasi yang setiap hari kita lewati,” katanya.
Selain pemutaran film, acara Pray for Sumatera juga dimeriahkan dengan penampilan sejumlah band lokal yang tampil sebelum dan sesudah film diputar. Alunan musik tersebut menambah semarak acara sekaligus menjadi ruang ekspresi bagi para musisi daerah. (hm25)
BERITA TERPOPULER



















