Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Cuaca Ekstrem hingga Banjir Mengintai Hampir Seluruh Wilayah di Pematangsiantar

Mistar.idKamis, 18 Desember 2025 17.32
journalist-avatar-top
HH
cuaca_ekstrem_hingga_banjir_mengintai_hampir_seluruh_wilayah_di_pematangsiantar

Peta resiko cuaca ekstream di Kota Pematangsiantar. (Foto: Istimewa/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Kota Pematangsiantar berada dalam pusaran ancaman bencana alam yang kian nyata. Hampir seluruh wilayah kecamatan di kota dengan moto "Sapangambei Manoktok Hitei" ini tercatat memiliki tingkat kerawanan terhadap bencana, mulai dari cuaca ekstrem, banjir, hingga tanah longsor.

Kepala BPBD Kota Pematangsiantar, Dedi Harahap, menyampaikan cuaca ekstrem menjadi ancaman paling merata. Perubahan pola hujan yang tak menentu, disertai intensitas hujan tinggi dan angin kencang, berpotensi mengganggu aktivitas warga serta meningkatkan risiko bencana turunan.

"Hampir semua kecamatan di Siantar masuk dalam kategori rawan terhadap kondisi cuaca ekstrem ini," ujar Dedi Harahap saat dikonfirmasi, Kamis (18/12/2025).

Ancaman lain yang tak kalah serius yakni banjir. Sistem drainase yang belum sepenuhnya optimal, ditambah tingginya curah hujan, membuat sejumlah wilayah rentan tergenang air. Kondisi banjir ini pun rata-rata dapat terjadi di delapan kecamatan di Pematangsiantar.

Banjir bukan hanya berdampak pada infrastruktur dan ekonomi warga, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit dan kerusakan lingkungan.

Sementara itu, potensi tanah longsor menjadi perhatian khusus di Kecamatan Siantar Sitalasari. Kondisi topografi yang berbukit, dikombinasikan dengan curah hujan tinggi, menjadikan wilayah ini rawan pergerakan tanah.

Adapun dampak dari longsor ini berpotensi mengancam pemukiman warga serta akses jalan yang vital bagi mobilitas masyarakat. Kerawanan bencana yang hampir merata ini menunjukkan Kota Siantar membutuhkan langkah mitigasi yang lebih serius dan terintegrasi.

Upaya penataan lingkungan, penguatan sistem peringatan dini, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana di masa mendatang.

"Untuk bencana yang sering terjadi yakni, cuaca ekstrem, banjir, dan juga tanah longsor," ucapnya.

Tanpa langkah antisipatif yang kuat, bencana alam bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan ancaman yang siap terjadi kapan saja di Kota Siantar.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN