Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Spesies Ngengat Baru dari Indonesia Bernama Sutrisno

Mistar.idKamis, 5 Maret 2026 06.00
EH
spesies_ngengat_baru_dari_indonesia_bernama_sutrisno

Spesies ngengat baru. (Foto: Jurnal Zootaxa)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan dua spesies ngengat baru dari genus Glyphodella dan Chabulina. Keduanya diberi nama Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 dan Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026.

Penemuan ini merupakan hasil penelitian dari Hari Sutrisno dan Rosichon Ubaidillah dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN.

Rosichon menjelaskan, kedua spesies tersebut memiliki ciri morfologi khas, terutama pada pola sayap dan struktur genitalia yang menjadi kunci identifikasi.

Glyphodella fojaensis memiliki bercak kuning bulat pada sayap depan serta struktur genitalia jantan yang berbeda dari spesies terdekatnya. Sementara Chabulina celebesensis dikenali dari pola garis pada sayap serta bentuk genitalia yang unik. Perbedaan karakter ini menjadi dasar ilmiah penetapan keduanya sebagai spesies baru.

“Karakter morfologi tersebut menunjukkan adanya proses evolusi dan adaptasi yang berbeda sesuai habitat masing-masing, yakni di Papua dan Sulawesi,” ujar Hari, dilansir dari Kompas, Kamis (5/3/2026).

Riset dilakukan melalui survei lapangan di Papua dan Sulawesi pada 2002–2017, serta kajian spesimen koleksi di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Bogor. Hasil penelitian telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Raffles Bulletin of Zoology.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Glyphodella fojaensis merupakan satu-satunya spesies genus Glyphodella yang ditemukan di Indonesia dan bersifat endemik Papua. Spesies ini hidup di hutan tropis primer Pegunungan Foja.

Adapun Chabulina celebesensis merupakan spesies endemik Sulawesi yang ditemukan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara, dengan habitat hutan sekunder tropis. Kedua ngengat ini bersifat nokturnal atau aktif pada malam hari.

“Pengumpulan spesimen dilakukan menggunakan perangkap cahaya, lalu diamati secara detail dengan mikroskop. Seluruh spesimen disimpan dan didokumentasikan di Museum Zoologicum Bogoriense sebagai bagian dari koleksi nasional,” tuturnya.

Penemuan ini menambah data keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya ngengat famili Crambidae, sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu pusat biodiversitas dunia. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa spesies endemik yang memiliki sebaran terbatas rentan terhadap ancaman perubahan lingkungan seperti deforestasi dan degradasi habitat.

Karena itu, Rosichon menekankan pentingnya perlindungan ekosistem hutan di Papua dan Sulawesi agar spesies-spesies tersebut tetap lestari. Ke depan, tim BRIN akan terus melakukan eksplorasi dan penelitian biodiversitas serangga di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari upaya pendataan, konservasi, dan pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN