Sunday, July 5, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Proses Pembuatan Uranium Hingga Menjadi Nuklir

Mistar.idSenin, 18 Mei 2026 pukul 05.00 WIB
proses_pembuatan_uranium_hingga_menjadi_nuklir

Energi Nuklir. (Foto: Pexels)

news_banner

Teheran, MISTAR.ID

Di tengah memanasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat, uranium kembali menjadi perhatian dunia. Pemerintah Iran dikabarkan bersedia mengurangi stok uranium dan memindahkannya ke negara ketiga sebagai respons atas proposal Washington untuk mengakhiri perang.

Sejumlah sumber menyebut Teheran menyetujui usulan tersebut dengan sejumlah syarat. Iran meminta jaminan bahwa uranium yang dipindahkan akan dikembalikan apabila perundingan menemui jalan buntu. Selain itu, Iran juga menolak pembongkaran fasilitas nuklirnya.

Sumber dari pihak Iran hanya mengonfirmasi bahwa pemerintah telah memberikan tanggapan atas proposal Amerika Serikat, tetapi tidak mengungkap detail lebih lanjut.

Program nuklir Iran telah lama menjadi salah satu isu utama dalam hubungan kedua negara, bahkan sebelum perang pecah pada 28 Februari.

Pemerintahan Presiden Donald Trump ingin menghentikan perkembangan program nuklir Iran, sedangkan Teheran menuntut agar hak mereka untuk memperkaya uranium tetap dihormati.

Asal Uranium

Uranium berasal dari bijih yang terdapat di dalam kerak bumi. Setelah ditambang, bahan ini diolah menjadi gas agar dapat melalui proses pengayaan, baik untuk kebutuhan energi nuklir maupun tujuan militer.

Menurut Council on Foreign Relations, Senin (18/5/2026), uranium ditemukan di berbagai belahan dunia, meski sebagian besar hanya dalam jumlah kecil. Sekitar dua pertiga cadangan uranium global diketahui berada di lima negara, yakni Australia, Kanada, Kazakhstan, Namibia, dan Rusia.

Secara alami, uranium terdiri dari dua isotop utama, yaitu uranium-235 (U-235) dan uranium-238 (U-238). U-235 sangat penting karena dapat mengalami fisi nuklir dengan mudah, tetapi jumlahnya sangat sedikit, kurang dari 1 persen dari total uranium alami.

Karena itu, negara yang ingin memanfaatkan energi nuklir atau mengembangkan senjata nuklir harus meningkatkan kadar U-235 melalui proses yang disebut pengayaan.

Proses Pengayaan Uranium

Metode pengayaan yang paling umum adalah sentrifugasi gas. Uranium yang telah diubah menjadi gas dimasukkan ke dalam sentrifus yang berputar sangat cepat untuk memisahkan U-235 dari U-238 yang lebih berat.

Uranium yang diperkaya dibagi ke dalam dua kategori utama:

Uranium diperkaya rendah (LEU), dengan kandungan U-235 di bawah 20 persen. Jenis ini umumnya digunakan pada pembangkit listrik tenaga nuklir, penelitian, dan keperluan medis.

Uranium diperkaya tinggi (HEU), dengan kandungan U-235 sebesar 20 persen atau lebih. Material ini banyak digunakan untuk keperluan militer dan aplikasi khusus seperti reaktor kapal selam nuklir.

Untuk pembuatan senjata nuklir, uranium biasanya diperkaya hingga sekitar 90 persen, yang dikenal sebagai uranium tingkat senjata.

Semakin tinggi tingkat pengayaan, semakin sedikit uranium yang dibutuhkan untuk membuat senjata. Hal ini memungkinkan hulu ledak dibuat lebih kecil dan ringan, sehingga dapat dibawa oleh rudal jarak jauh atau pesawat tempur.

Begitu sebuah negara memiliki kemampuan pengayaan uranium, waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan material tingkat senjata dapat berlangsung hanya dalam hitungan bulan.

Inilah yang membuat pengawasan proliferasi nuklir menjadi sangat menantang bagi lembaga internasional. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN