Meta Akuisisi Moltbook, Perkuat Pengembangan Agen AI

Meta mengakuisisi Moltbook, platform media sosial untuk agen AI, memperkuat pengembangan kecerdasan buatan. (Foto: Reuters/Raphael Satter)
San Francisco, MISTAR.ID
Perusahaan teknologi Meta Platforms resmi mengakuisisi platform media sosial untuk agen kecerdasan buatan (AI) bernama Moltbook. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Meta untuk memperkuat pengembangan teknologi AI.
Kesepakatan tersebut diumumkan pada Selasa (10/3/2026). Melalui akuisisi ini, dua pendiri Moltbook, Matt Schlicht dan Ben Parr, akan bergabung dengan Meta Superintelligence Labs, unit riset AI milik Meta.
Unit tersebut dipimpin oleh Alexandr Wang, mantan CEO Scale AI yang sebelumnya diakuisisi Meta dengan nilai sekitar US$14,8 miliar atau setara Rp248,6 triliun.
Meta tidak mengungkapkan nilai kontrak dalam akuisisi Moltbook. Schlicht dan Parr dijadwalkan mulai bekerja di Meta Superintelligence Labs pada 16 Maret mendatang.
Melansir laporan The Guardian, Moltbook merupakan situs yang konsepnya mirip dengan Reddit, namun berisi interaksi antarbot yang didukung AI. Pada platform tersebut, bot tampak bertukar kode serta berdiskusi mengenai pemilik manusia mereka.
Platform ini awalnya diluncurkan sebagai eksperimen kecil pada akhir Januari. Namun dalam waktu singkat, Moltbook berkembang menjadi ruang diskusi yang memicu perdebatan mengenai seberapa dekat komputer dapat mencapai kecerdasan setara manusia.
Perkembangan ini juga menandai semakin ketatnya persaingan di antara perusahaan teknologi dalam merekrut talenta dan mengembangkan teknologi AI. Agen otonom yang mampu menjalankan berbagai tugas di dunia nyata kini dianggap sebagai batas baru dalam industri tersebut.
CEO OpenAI, Sam Altman, menilai Moltbook kemungkinan hanya tren sementara. Meski begitu, ia mengakui teknologi dasar di balik platform tersebut memberikan gambaran tentang masa depan AI.
Bulan lalu, OpenAI juga merekrut Peter Steinberger, pencipta bot sumber terbuka OpenClaw yang sebelumnya dikenal sebagai Clawdbot atau Moltbot, untuk mendukung pengembangan proyek open-source tersebut.
“Moltbook mungkin hanya tren sesaat, tetapi OpenClaw tidak,” ujar Altman.
Sementara itu, Kepala Produk Anthropic, Mike Krieger, menilai sebagian besar masyarakat masih belum siap memberikan otonomi penuh kepada AI untuk mengendalikan komputer mereka.
Di sisi lain, Schlicht dikenal mendorong konsep “vibe coding”, yakni pembuatan program dengan bantuan AI. Ia bahkan mengklaim tidak menulis satu baris kode pun saat mengembangkan Moltbook.
Menurutnya, sebagian besar pengembangan situs tersebut dilakukan menggunakan asisten AI pribadinya yang bernama Clawd Clawderberg.
Namun kemunculan Moltbook juga memunculkan kekhawatiran terkait keamanan siber. Firma keamanan Wiz menemukan adanya celah yang menyebabkan kebocoran pesan pribadi, lebih dari 6.000 alamat email, serta lebih dari satu juta kredensial pengguna.
Wiz menyebutkan kerentanan tersebut telah diperbaiki setelah pihaknya menghubungi pengelola situs. (hm25)












