Monday, August 31, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Kota Masa Depan Bisa Jadi Tidak Seperti Kota Hari Ini, Panas Ekstrem Jadi Normal?

Mistar.idSenin, 31 Agustus 2026 pukul 20.51 WIB
kota_masa_depan_bisa_jadi_tidak_seperti_kota_hari_ini_panas_ekstrem_jadi_normal

Ilustrasi, Kota Masa Depan Bisa Jadi Tidak Seperti Kota Hari Ini, Panas Ekstrem Jadi Normal? (foto:gemini/mistar)

news_banner

Gedung yang Mendinginkan Diri Sendiri

Tetapi atap hanyalah permulaan.

Bangunan masa depan juga akan semakin mengandalkan pendinginan pasif.

Ventilasi silang, orientasi bangunan, pelindung matahari, insulasi, bentuk fasad, bukaan jendela dan material bangunan dapat dirancang untuk mengurangi panas sebelum AC dinyalakan.

UN-Habitat mendefinisikan passive cooling sebagai metode nonmekanis untuk menjaga kenyamanan temperatur dengan memanfaatkan aliran panas alami, sehingga kebutuhan energi untuk pendinginan dapat ditekan.

Prinsipnya sebenarnya bukan teknologi baru.

Rumah tropis tradisional sudah lama memiliki teras, atap lebar, ventilasi dan ruang transisi untuk menghadapi panas.

Teknologi modern hanya membuat prinsip tersebut semakin presisi.

Sensor dapat membaca suhu dan kelembapan. Sistem bangunan kemudian menentukan kapan ventilasi dibuka, kapan peneduh diturunkan dan kapan pendingin mekanis benar-benar diperlukan.

IEA juga menekankan bahwa bentuk, orientasi, insulasi dan massa termal bangunan dapat memengaruhi perolehan panas serta kebutuhan pendinginan selama puluhan tahun umur bangunan.

Jadi, gedung paling pintar belum tentu gedung dengan sistem digital terbanyak.

Gedung paling pintar bisa jadi adalah gedung yang sejak awal tidak mudah panas.

Jalan Kota Tidak Harus Menjadi “Kompor”

Masalah berikutnya ada di bawah kaki.

Aspal dan beton mendominasi banyak kawasan perkotaan. Pada siang hari, permukaan tersebut menyerap panas dan kemudian melepaskannya kembali.

Karena itu, desain kota masa depan juga akan berbicara tentang apa yang digunakan untuk membangun jalan, trotoar, halaman, area parkir dan ruang publik.

Material dengan kemampuan memantulkan lebih banyak radiasi matahari dapat menjadi bagian dari strategi cool pavement. Namun, teknologi material saja tidak cukup.

Trotoar yang menggunakan material lebih sejuk tetap tidak nyaman jika tidak memiliki pohon atau tempat berteduh.

Maka, kota harus berhenti melihat jalan hanya sebagai ruang kendaraan.

Jalan juga merupakan ruang manusia.

Dan manusia membutuhkan bayangan.

Pohon Bukan Dekorasi

Dalam kota yang semakin panas, sebatang pohon bukan sekadar ornamen.

Ia adalah perangkat pendingin alami.

Pohon memberikan keteduhan, sementara vegetasi melalui evapotranspirasi dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih sejuk. Karena itu, ruang hijau, koridor hijau, taman, jalur pedestrian dan ruang biru dapat dipandang sebagai bagian dari infrastruktur kota.

UN-Habitat dan mitra internasional kini mendorong kota-kota di Global South menggunakan kombinasi green infrastructure, pendinginan pasif dan sistem pendinginan berkelanjutan sebagai bagian dari strategi menghadapi panas perkotaan.

Yang menarik, kota masa depan tidak cukup hanya menghitung berapa jumlah pohon yang ditanam.

Pertanyaannya berubah menjadi:

Di mana pohon harus ditanam agar paling efektif menurunkan paparan panas?

Dan untuk menjawabnya, pemerintah membutuhkan data.

AI Bisa Membantu Kota Membaca Panas



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN