Monday, August 31, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Kota Masa Depan Bisa Jadi Tidak Seperti Kota Hari Ini, Panas Ekstrem Jadi Normal?

Mistar.idSenin, 31 Agustus 2026 pukul 20.51 WIB
kota_masa_depan_bisa_jadi_tidak_seperti_kota_hari_ini_panas_ekstrem_jadi_normal

Ilustrasi, Kota Masa Depan Bisa Jadi Tidak Seperti Kota Hari Ini, Panas Ekstrem Jadi Normal? (foto:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (31/8/2026) — Ada satu masa depan yang mungkin tidak pernah dibayangkan ketika sebuah kota dirancang: bagaimana jika panas yang hari ini dianggap ekstrem, suatu hari menjadi suhu normal?

Saat itu terjadi, persoalannya bukan lagi sekadar membawa payung ketika hujan atau menyalakan pendingin ruangan ketika siang terasa terik.

Atap rumah harus bekerja lebih keras menolak panas. Jalan harus dirancang agar tidak berubah menjadi permukaan pemanggang. Trotoar membutuhkan bayangan. Gedung harus mampu mendinginkan dirinya sendiri. Pohon bukan lagi penghias jalan, melainkan bagian dari infrastruktur.

Bahkan kecerdasan buatan bisa ikut menentukan kapan sebuah gedung harus mengurangi konsumsi listrik, kawasan mana yang membutuhkan lebih banyak vegetasi, hingga bagian kota mana yang berisiko menjadi titik panas beberapa jam kemudian.

Kota masa depan, dengan demikian, mungkin bukan kota yang lebih futuristik. Bisa jadi justru kota yang lebih pandai menghindari panas.

Pertanyaan ini semakin relevan bagi kota-kota tropis Indonesia.

Jakarta, Medan, Surabaya dan Makassar tumbuh dengan pola yang berbeda, tetapi menghadapi persoalan yang sama: semakin banyak permukaan terbangun, semakin besar kebutuhan energi untuk mendinginkan bangunan, sementara ruang hijau harus bersaing dengan kebutuhan permukiman, jalan dan aktivitas ekonomi.

Makassar memberikan gambaran betapa seriusnya persoalan tersebut.

Penelitian UGM yang dipublikasikan pada 2026 memodelkan perkembangan surface urban heat island intensity di Makassar. Hasilnya menunjukkan intensitas panas perkotaan maksimum dapat meningkat hingga 8,09 derajat Celsius pada 2034 dalam skenario penelitian tersebut. Salah satu faktor yang disebut adalah hilangnya sekitar 1.202 hektare aset pendingin alami berupa badan air dan vegetasi.

Angka itu bukan berarti suhu udara di seluruh Makassar akan melonjak 8 derajat Celsius.

Namun, ia memberikan pesan yang jauh lebih penting: cara sebuah kota dibangun ikut menentukan seberapa panas kota tersebut terasa.

Ketika AC Bukan Lagi Jawaban Utama

Respons paling mudah terhadap panas adalah AC.

Terlalu panas? Nyalakan pendingin.

Masalahnya, jika seluruh kota mengambil keputusan yang sama, persoalan panas berubah menjadi persoalan energi.

Menurut International Energy Agency (IEA), bangunan menyumbang sekitar 30 persen permintaan energi final global. Di negara berkembang, pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan dan musim panas yang semakin terik mendorong kebutuhan energi untuk pendinginan.

Pendinginan bahkan menjadi salah satu penggunaan energi dengan pertumbuhan tercepat di sektor bangunan sejak 2000, tumbuh lebih dari 4 persen per tahun.

Jadi, kota masa depan tidak bisa hanya menjadi kota yang memiliki lebih banyak AC.

Ia harus menjadi kota yang membutuhkan lebih sedikit AC untuk mencapai kenyamanan yang sama.

Di sinilah desain bangunan mulai memainkan peran.

Atap Rumah Akan Berubah Menjadi “Pelindung Panas”

Bayangkan dua rumah berdiri berdampingan pada siang hari.

Satu memiliki atap gelap yang menyerap radiasi matahari. Rumah lainnya menggunakan material yang lebih reflektif sehingga sebagian energi matahari dipantulkan kembali.

Perbedaannya mungkin tidak terlihat dramatis dari jalan.

Namun bagi bangunan, perbedaan tersebut berarti panas yang masuk ke dalam ruangan bisa ditekan.

Konsep cool roof atau atap reflektif menjadi salah satu teknologi yang relatif sederhana untuk menghadapi panas. Atap hijau menawarkan pendekatan berbeda: permukaan bangunan ditutup vegetasi sehingga selain membantu mengelola panas, ia juga dapat memberikan manfaat ekologis.

Penelitian meta-analisis yang diterbitkan pada 2026 mengenai green roof di kawasan tropis Indonesia juga menempatkan atap hijau sebagai salah satu instrumen yang berpotensi memperkuat ketahanan lingkungan perkotaan.

Artinya, atap masa depan mungkin tidak lagi sekadar “atap”.

Ia bisa menjadi lapisan pertama pertahanan kota terhadap panas.

Gedung yang Mendinginkan Diri Sendiri

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN