Monday, July 20, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Bibit Siklon Tropis 91S dan 93S Picu Cuaca Ekstrem di Indonesia

Mistar.idSabtu, 13 Desember 2025 pukul 17.18 WIB
bibit_siklon_tropis_91s_dan_93s_picu_cuaca_ekstrem_di_indonesia

Gambaran informasi mengenai Siklon 93S. (foto:bmkg/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan serius menyusul kemunculan dua bibit siklon tropis, yakni 91S dan 93S, yang berpotensi memicu cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia.

Bibit siklon tropis 91S terpantau berada di Samudra Hindia barat Lampung sejak tiga hari terakhir. Dampaknya, hujan dengan intensitas sedang hingga sangat deras mengguyur pesisir barat Sumatera, dengan curah hujan mencapai 128,3 milimeter per hari.

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa gangguan tropis di Perairan Sawu, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang kini berkembang menjadi bibit siklon tropis 93S, turut memperparah kondisi cuaca.

“Selain keberadaan bibit siklon tropis, kombinasi Gelombang Rossby Ekuator dan Gelombang Kelvin di sejumlah wilayah Indonesia juga menjadi pemicu hujan signifikan yang berdampak pada terjadinya banjir,” ujar Andri dalam keterangannya, Sabtu (13/12/2025).

BMKG mencatat sejumlah daerah telah terdampak cuaca ekstrem, di antaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Selatan.

Potensi Hujan Deras dan Angin Kencang Sepekan ke Depan

Dalam sepekan ke depan, Andri menyebut bibit siklon tropis 91S masih berpotensi menyebabkan hujan deras di Sumatera Barat, Bengkulu, dan Lampung. Selain hujan, masyarakat juga diminta waspada terhadap angin kencang di wilayah pesisir barat Sumatera Barat dan Bengkulu.

Sementara itu, bibit siklon tropis 93S diprediksi berada di Samudra Hindia selatan Pulau Sumba dan berpotensi membentuk daerah perlambatan kecepatan angin yang memanjang di wilayah Bali, NTT, dan NTB.

BMKG juga mengungkapkan bahwa kombinasi fenomena atmosfer skala global, regional, dan lokal akan terus memengaruhi cuaca di Indonesia. Pada skala global, Dipole Mode Index (DMI) tercatat bernilai minus 0,63, yang meningkatkan pembentukan awan hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian barat.

“Pada periode 12 hingga 18 Desember, cuaca di Indonesia umumnya didominasi kondisi berawan hingga hujan ringan. Namun, potensi hujan lebat masih perlu diwaspadai,” jelas Andri.

Wilayah yang diminta meningkatkan kewaspadaan meliputi Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, dan Papua Selatan.

BMKG juga memperingatkan potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang.

DPR Minta Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan

Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda, meminta pemerintah memberikan perhatian serius terhadap peringatan BMKG, khususnya terkait bibit siklon tropis 93S di wilayah timur Indonesia.

Menurutnya, bibit siklon tropis 93S tidak hanya berpotensi memicu cuaca ekstrem dan gelombang tinggi, tetapi juga hujan sedang hingga deras di wilayah Bali, NTB, dan NTT.

“Kondisi ini membuka peluang terjadinya banjir bandang dan tanah longsor, seperti yang sebelumnya terjadi di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara,” kata Huda.

Ia mendorong pemerintah pusat meningkatkan komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah daerah guna mengantisipasi dampak terburuk dari cuaca ekstrem.

“Pemerintah harus menerapkan sistem peringatan dini berbasis kearifan lokal, seperti sirene, pengeras suara di tempat ibadah, hingga kentongan. Dengan begitu, warga bisa segera mengungsi saat terjadi banjir atau longsor,” ujarnya.

Selain itu, Huda meminta pemerintah menyiapkan titik-titik evakuasi serta memastikan Basarnas, BNPB, dan BPBD di daerah tetap siaga.

“Kami berharap tidak ada kehilangan golden time saat bencana terjadi. Langkah cepat dan terukur sangat penting untuk meminimalkan korban jiwa dan kerusakan,” pungkasnya. (hm16)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN