Tuesday, July 21, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Astronaut ISS Abadikan Fenomena Langka Lunar Halo di Atas Samudra Hindia

Mistar.idSabtu, 27 Desember 2025 pukul 07.05 WIB
astronaut_iss_abadikan_fenomena_langka_lunar_halo_di_atas_samudra_hindia

Lunar Halo. (Foto: Dok. Wikipedia)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Seorang astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS) berhasil mengabadikan fenomena optik langka berupa Lunar Halo saat mengorbit di atas Samudra Hindia. Foto tersebut menampilkan busur cahaya tipis yang tampak melayang di atas tepi biru atmosfer bumi, seolah terpisah dari planet tempat manusia berpijak.

Fenomena ini dilaporkan terjadi pada 25 Desember 2025 dan dipublikasikan melalui pengamatan Earth Observations Facility ISS milik NASA. Lunar Halo terbentuk akibat pembiasan cahaya bulan oleh kristal es di lapisan atmosfer yang sangat tinggi, tempat udara menjadi sangat tipis.

Atmosfer Bumi Bertindak sebagai Lensa Alami

Dari ketinggian orbit rendah bumi, posisi ISS memungkinkan bulan berada tepat di belakang lapisan atmosfer dalam garis pandang kamera. Kondisi tersebut membuat atmosfer berperan seperti lensa raksasa yang membelokkan dan menyebarkan cahaya bulan hingga membentuk busur cahaya yang khas.

ISS sendiri mengorbit bumi pada ketinggian lebih dari 200 mil. Pada momen tertentu, geometri orbitnya menciptakan sudut pandang unik yang jarang dapat diamati dari permukaan bumi.

Foto tersebut juga memperlihatkan struktur atmosfer bumi secara berlapis, mulai dari troposfer berwarna jingga, stratosfer putih pucat, hingga lapisan biru gelap di bagian atas. Di atasnya terdapat mesosfer, lapisan atmosfer bersuhu sangat dingin yang berada di ketinggian sekitar 30 hingga 54 mil dan sesekali mengandung kristal es langka.

Mengapa Halo Tidak Berbentuk Cincin Utuh?

Secara umum, Lunar Halo terlihat sebagai cincin cahaya dengan radius sekitar 22 derajat dari posisi bulan. Namun, dalam foto ini hanya tampak sebagian busur. Para peneliti menjelaskan bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh distribusi kristal es yang tidak merata di atmosfer.

Bentuk dan orientasi kristal es umumnya berupa pelat dan kolom heksagonal sangat menentukan arah pembiasan cahaya. Perubahan sudut yang kecil saja dapat menghasilkan tampilan halo parsial, bukan lingkaran sempurna.

Penelitian menunjukkan bahwa es pada ketinggian ekstrem seperti ini tergolong sangat jarang. Lapisan es tertinggi di atmosfer bumi biasanya terbentuk di wilayah dengan suhu musim panas paling dingin, sekitar 50 mil di atas permukaan bumi, dan sangat sensitif terhadap perubahan suhu serta gelombang gravitasi dari bawah.

Peran Earthshine dan Nilai Ilmiah Foto

Meski bulan berada dalam fase sabit muda saat foto diambil, pengaturan eksposur kamera membuat seluruh cakram bulan tampak terang. Efek ini diperkuat oleh earthshine, yaitu cahaya matahari yang dipantulkan oleh bumi ke sisi gelap bulan, sehingga bulan terlihat hampir utuh.

NASA menilai foto ini menegaskan pentingnya peran astronaut dalam pengamatan visual langsung. Selain melengkapi data dari sensor otomatis, dokumentasi semacam ini membantu ilmuwan memahami interaksi kompleks antara optika, cuaca, dan kimia atmosfer dalam skala planet.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN