Apple Akuisisi Startup AI Asal Israel

Apple. (Foto: Reuters/Aly Song)
Jakarta, MISTAR.ID
Apple dikabarkan mengakuisisi sebuah startup Artificial Intelligence (AI) asal Israel dengan nilai mencapai USD 2 miliar atau sekitar Rp33,5 triliun.
Perusahaan yang diambil alih tersebut bernama Q.ai, yang dikenal mengembangkan teknologi pelacakan gerakan wajah berbasis AI.
Pengumuman akuisisi ini muncul tak lama setelah Apple terlihat menjalin kedekatan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan menghadiri penayangan perdana film dokumenter mengenai Ibu Negara Melania Trump. Informasi akuisisi tersebut pertama kali dilaporkan oleh Bloomberg, Sabtu (31/1/2026).
Q.ai memiliki keunggulan pada teknologi analisis komunikasi nonverbal. Sistem yang dikembangkan startup ini mampu membaca pergerakan otot wajah seseorang saat berbicara, sehingga dapat memahami maksud atau ekspresi tanpa bergantung pada suara.
Teknologi ini diperkirakan berpotensi diintegrasikan ke dalam berbagai produk Apple, termasuk AirPods yang disebut-sebut akan terus dibekali fitur AI lanjutan di masa depan.
Selain itu, kemampuan Q.ai juga dinilai relevan untuk layanan FaceTime, serta proyek perangkat wearable Apple seperti kacamata pintar dan headset generasi berikutnya.
Wakil Presiden Senior Teknologi Perangkat Keras Apple, Johny Srouji, menyebut Q.ai sebagai perusahaan inovatif yang menghadirkan pendekatan baru dalam pemanfaatan teknologi pencitraan dan pembelajaran mesin.
“Kami sangat antusias mengakuisisi perusahaan yang dipimpin oleh Aviad, dan semakin antusias melihat apa yang bisa kami ciptakan ke depan,” ujar Srouji dalam pernyataannya kepada Ynet News, dikutip dari Gizmodo.
Aviad yang dimaksud adalah Aviad Maizels, salah satu pendiri Q.ai. Sosok ini bukan nama baru bagi Apple. Pada 2005, Maizels mendirikan PrimeSense, perusahaan sensor 3D yang teknologinya digunakan pada generasi awal Xbox Kinect milik Microsoft.
PrimeSense kemudian diakuisisi Apple pada 2013 dan menjadi fondasi pengembangan Face ID, fitur pengenal wajah Apple yang diperkenalkan pada 2017.
Maizels sempat bekerja di Apple selama beberapa tahun sebelum akhirnya keluar dan mendirikan Q.ai sebagai startup independen.
Meski demikian, akuisisi ini berpotensi menuai penolakan dari sebagian internal Apple. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah karyawan diketahui mendesak perusahaan untuk menghentikan investasi dan keterlibatan bisnis di Israel.
Apple disebut-sebut pernah dikritik karena kontribusi ke lembaga yang berhubungan dengan Pasukan Pertahanan Israel (IDF), yang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dikaitkan dengan dugaan pelanggaran HAM berat di Gaza, serta organisasi yang terlibat dalam pembangunan permukiman ilegal di wilayah pendudukan.
Apple sendiri telah memiliki pusat riset dan pengembangan di Israel selama hampir satu dekade. Laporan CTech menyebutkan sekitar 30 persen karyawan Q.ai direkrut untuk menjalani dinas militer di IDF setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. (hm20)
PREVIOUS ARTICLE
10 Aturan Baru Registrasi Kartu SIM Berbasis Biomentrik





















