Revitalisasi Laboratorium dan UKS Tingkatkan Kualitas Pembelajaran di SMAN 2 Medan

Guru dan siswa SMAN 2 Medan berfoto bersama usai praktikum di laboratorium baru. (Foto: Susan/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Revitalisasi sejumlah fasilitas pendidikan di SMA Negeri 2 Medan dinilai membawa dampak signifikan terhadap proses pembelajaran siswa, terutama melalui kehadiran laboratorium baru yang lebih lengkap dan representatif.
Kehadiran fasilitas tersebut membuat kegiatan praktikum menjadi lebih efektif serta membantu siswa memahami materi pelajaran secara langsung melalui praktik.
Kepala SMAN 2 Medan, Marsito, mengatakan revitalisasi yang bersumber dari program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah itu telah rampung pada Desember 2025. Program tersebut mencakup rehabilitasi enam ruang kelas, pembangunan Unit Kesehatan Sekolah (UKS), serta laboratorium IPA.
“Pekerjaan selesai pada Desember 2025 dan kini seluruh fasilitas sudah dimanfaatkan oleh siswa. Laboratorium dan UKS yang baru sangat membantu karena SMA Negeri 2 Medan kini memiliki fasilitas yang lebih standar dan layak digunakan,” ujarnya kepada Mistar, Rabu (17/6/2026).
Menurut Marsito, keberadaan laboratorium dan UKS baru menjadi peningkatan penting bagi kualitas sarana dan prasarana pendidikan di sekolah tersebut.
Meski telah menerima bantuan revitalisasi, pihak sekolah tetap melakukan berbagai perbaikan menggunakan anggaran yang tersedia. Namun, penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) memiliki keterbatasan karena hanya dapat digunakan untuk rehabilitasi ringan.
“Kami terus melakukan pembaruan dengan anggaran yang ada. Dana BOS hanya boleh digunakan untuk rehabilitasi ringan dan penggunaannya dibatasi maksimal 20 persen. Namun tetap kami manfaatkan untuk memperbaiki ruang-ruang kelas agar semakin layak digunakan,” katanya.
Ajukan Revitalisasi Gedung D dan E
Untuk tahun 2026, SMAN 2 Medan kembali mengajukan proposal revitalisasi kepada Kementerian Pendidikan. Fokus pengajuan tersebut adalah rehabilitasi Gedung D dan Gedung E yang saat ini dinilai membutuhkan perhatian serius.
Marsito menjelaskan kedua gedung tersebut direncanakan direhabilitasi dan difungsikan menjadi ruang kelas dengan ukuran yang lebih sesuai standar pembelajaran.
“Nantinya bagian bawah Gedung D akan dijadikan ruang kelas dengan ukuran standar. Saat ini ukurannya masih 6 x 9 meter dan kurang ideal untuk kegiatan belajar siswa SMA,” ujarnya.
Selain itu, lantai atas Gedung D direncanakan menjadi aula serbaguna yang mampu menampung lebih dari 200 orang apabila rehabilitasi dapat direalisasikan.
Dukungan Masyarakat Masih Dibutuhkan
Marsito mengakui dukungan masyarakat dan orang tua siswa masih sangat diperlukan dalam pengembangan fasilitas sekolah. Pasalnya, sejumlah pekerjaan tidak dapat dibiayai melalui dana BOS sehingga membutuhkan sumber pendanaan lain yang sah.
Salah satu contohnya adalah perbaikan pagar belakang sekolah yang berbatasan langsung dengan sungai dan sempat roboh akibat usia bangunan yang sudah tua.
“Itu akan kami perbaiki secara bertahap sesuai kemampuan sekolah. Dengan anggaran yang terbatas, tetap akan kami kerjakan,” katanya.
Ia menegaskan seluruh upaya tersebut dilakukan untuk memastikan siswa dan guru dapat menjalankan proses belajar mengajar dengan aman dan nyaman.
Marsito menambahkan revitalisasi bukan hal baru bagi SMAN 2 Medan. Sebelumnya, sekolah tersebut juga pernah menerima bantuan revitalisasi dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara serta pembangunan yang didanai melalui anggaran internal sekolah.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sekolah tidak hanya ditentukan oleh aset fisik berupa gedung dan fasilitas, tetapi juga aset nonfisik berupa sumber daya manusia, khususnya siswa.
“Aset fisik itu gedung yang ada. Aset nonfisik adalah siswa dan sumber daya manusianya. Karena aset terbesar sekolah adalah siswa. Jika mereka tidak diberdayakan, tidak didampingi, dan tidak diberikan contoh yang baik dalam menjaga fasilitas, maka kita gagal dalam menjalankan fungsi pendidikan,” tuturnya.
Ia juga mengajak orang tua dan masyarakat untuk datang melihat langsung kondisi sekolah. Menurutnya, pihak sekolah terbuka terhadap kritik dan masukan yang konstruktif demi peningkatan kualitas pendidikan.
Diketahui, pemerintah saat ini tengah menggencarkan program revitalisasi satuan pendidikan untuk memperbaiki dan memperbarui infrastruktur sekolah di seluruh Indonesia. Program tersebut tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 dan menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) pemerintah.
PREVIOUS ARTICLE
Dosen dan Mahasiswa UDA Keluhkan BKD, Ijazah hingga Status Akademik Akibat Konflik YayasanBERITA TERPOPULER

Portugal vs RD Kongo: Misi Cristiano Ronaldo Dimulai, Selecao Siap Tebar Ancaman di Piala Dunia 2026



Mbappe Pecahkan Rekor Bersejarah! Prancis Tundukkan Senegal 3-1 dalam Laga Dramatis Piala Dunia 2026



















