Friday, June 5, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Dedi Mulyadi: Revitalisasi Gedung Sate–Gasibu dan Imbauan Uang Nikah untuk Beli Rumah

Mistar.idRabu, 15 April 2026 21.40
journalist-avatar-top
dedi_mulyadi_revitalisasi_gedung_sategasibu_dan_imbauan_uang_nikah_untuk_beli_rumah

Gubernur Jawa Barat Dedy Mulyadi (KDM) saat bersama Bupati Tapteng Masinton Pasaribu di Bandara Pinangsori. (foto:dokumen/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Nama Dedi Mulyadi kembali menjadi sorotan publik. Gubernur Jawa Barat itu bukan hanya tampil lewat kebijakan penataan ruang publik ikonik di Bandung, tetapi juga lewat imbauan sosial yang menyentuh gaya hidup generasi muda: lebih baik membeli rumah ketimbang menggelar pesta pernikahan mewah.

Kebijakan dan pernyataannya memicu diskusi luas, mulai dari tata kota, mitigasi banjir, hingga ketahanan ekonomi keluarga muda.

Siapa Dedi Mulyadi? Profil dan Rekam Jejak Politik

Dedi Mulyadi lahir di Subang, Jawa Barat, 11 April 1971. Ia dikenal luas sebagai figur politik yang mengusung pendekatan budaya Sunda dalam kepemimpinannya. Kariernya dimulai dari legislatif daerah, sebelum kemudian menjabat Bupati Purwakarta (2008–2018).

Pada 2019, ia terpilih menjadi anggota DPR RI. Dalam perjalanan politiknya, Dedi sempat berkiprah di Partai Golkar sebelum bergabung dengan Gerindra pada 2023. Puncaknya, ia memenangkan Pilkada Jawa Barat 2024 dan resmi menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat sejak Februari 2025.

Gaya kepemimpinannya dikenal populis, komunikatif, dan sering menyampaikan pesan kebijakan melalui pendekatan budaya dan sosial yang dekat dengan masyarakat akar rumput.

Revitalisasi Gedung Sate–Gasibu: Proyek Strategis atau Kontroversial?

Salah satu kebijakan terbaru yang ramai diperbincangkan adalah penataan kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu di pusat Kota Bandung.

Pemprov Jawa Barat menggulirkan proyek revitalisasi dengan nilai anggaran sekitar Rp15 miliar. Tujuannya adalah mengintegrasikan halaman Gedung Sate dan Gasibu menjadi satu kawasan ruang publik terpadu.

Apa yang Berubah?

- Penataan ulang sumbu kawasan antara Gedung Sate dan Gasibu

- Rekayasa lalu lintas di sekitar Jalan Diponegoro

- Penguatan fungsi kawasan sebagai ruang publik dan kegiatan kenegaraan

Menurut Dedi Mulyadi, penataan ini bertujuan menciptakan ruang publik yang lebih representatif sekaligus mendukung kelancaran acara pemerintahan maupun aktivitas warga. Ia menegaskan, Jalan Diponegoro tidak ditutup, melainkan dialihkan untuk mendukung konsep tata ruang baru.

Namun, proyek ini juga menuai kritik. Sejumlah pihak mempertanyakan urgensi anggaran dan dampak lalu lintas. Diskursus publik berkembang, terutama soal transparansi perencanaan dan partisipasi warga dalam perubahan kawasan yang menjadi ikon Jawa Barat tersebut.

Tata Ruang Kabupaten Bandung: Sorotan pada Banjir dan Alih Fungsi Lahan

Selain Bandung Raya, Dedi Mulyadi juga menaruh perhatian pada tata ruang Kabupaten Bandung, khususnya terkait persoalan banjir tahunan di wilayah seperti Dayeuhkolot dan Bojongsoang.

Menurutnya, banjir bukan semata persoalan teknis drainase, melainkan akumulasi kesalahan tata ruang selama puluhan tahun, termasuk alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan permukiman.

Beberapa arah kebijakan yang disorot antara lain:

- Rehabilitasi kawasan hulu sungai

- Penataan ulang permukiman di bantaran sungai

- Normalisasi dan penguatan fungsi daerah resapan

Pendekatan ini menegaskan bahwa tata ruang bukan hanya soal estetika kota, tetapi juga menyangkut mitigasi bencana dan keberlanjutan lingkungan.

Mengapa Uang Pesta Pernikahan Disarankan untuk Beli Rumah?

Di luar isu tata ruang, Dedi Mulyadi juga menyampaikan pesan sosial yang viral di media sosial: pasangan muda sebaiknya memprioritaskan kepemilikan rumah daripada menghabiskan dana besar untuk resepsi pernikahan.

Ia menilai fenomena pesta pernikahan mewah kerap mendorong pasangan muda berutang demi gengsi sosial. Padahal, setelah pesta usai, tantangan finansial justru baru dimulai.

“Lebih baik punya rumah sederhana tapi milik sendiri, daripada menjadi raja dan ratu sehari,” menjadi inti pesannya.

Imbauan ini berkaitan dengan realitas ekonomi generasi muda, terutama tingginya harga properti dan tekanan gaya hidup. Menurut Dedi, fondasi keluarga yang kuat dimulai dari stabilitas ekonomi, dan kepemilikan hunian adalah salah satu bentuk keamanan finansial jangka panjang.

Politik, Tata Kota, dan Narasi Sosial

Dari revitalisasi kawasan pusat pemerintahan hingga imbauan gaya hidup, langkah-langkah Dedi Mulyadi menunjukkan satu benang merah: pembangunan tidak hanya fisik, tetapi juga perubahan cara pandang masyarakat.

Di satu sisi, ia mendorong penataan ruang publik dan tata wilayah yang lebih terintegrasi. Di sisi lain, ia mengajak generasi muda berpikir realistis tentang prioritas ekonomi keluarga.

Kontroversi mungkin menyertai, tetapi diskusi yang tercipta menunjukkan bahwa kebijakan dan pernyataannya berhasil memancing perhatian publik secara luas.

Apakah langkah-langkah tersebut akan berdampak jangka panjang terhadap wajah Jawa Barat dan pola pikir generasi mudanya? Waktu yang akan menjawab.

(berbagaisumber/ai/hm27)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN