Friday, June 5, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Guru Kristen Mengajar di Madrasah, Apriyanti Tunjukkan Harmoni di Tengah Perbedaan

Mistar.idSelasa, 18 November 2025 06.30
journalist-avatar-top
SH
guru_kristen_mengajar_di_madrasah_apriyanti_tunjukkan_harmoni_di_tengah_perbedaan

Apriyanti Marpaung, guru matematika yang beragama Kristen dan bertugas di MTsN Tapanuli Utara (foto: Kemenag Sumut/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Kisah inspiratif datang dari Apriyanti Marpaung, guru Kristen yang memulai penugasan CPNS 2025 di MTsN Tapanuli Utara. Identitas yang berbeda dengan tempat ia mengajar langsung menarik perhatian banyak orang.

Apriyanti mengaku hari pertamanya di madrasah menjadi momen yang tidak terlupakan. “Beberapa pasang mata menatap saya dengan heran,” ujar anak bungsu dari empat bersaudara itu, Senin (17/11/2025).

Bahkan, sebagian orang terdengar bertanya, “Lho, kok guru Kristen mengajar di madrasah?”

Pertanyaan itu tidak membuatnya gentar. Ia justru melihatnya sebagai awal perjalanan yang membuka mata tentang bagaimana perbedaan bisa menjadi jembatan.

Apriyanti lahir dan besar di Rantau Prapat dalam keluarga sederhana. Ia menempuh pendidikan hingga ke Universitas Negeri Medan. Dukungan orang tua menguatkannya hingga akhirnya lulus sebagai CPNS Kementerian Agama pada 2025 dan ditempatkan di MTsN Tapanuli Utara.

Setiap hari mengajar mata pelajaran matematika di madrasah membuatnya belajar banyak hal. Ia menyaksikan bagaimana siswa dan rekan guru menjalankan nilai-nilai Islam dengan ketulusan, serta memahami tradisi dan kegiatan keagamaan mereka sebagai tambahan pengetahuan.

“Yang membuat hati saya terharu, mereka pun menerima saya apa adanya. Mereka menghargai keyakinan saya, cara saya beribadah, dan setiap langkah yang saya ambil sebagai pendidik,” kata Apriyanti.

Ia menegaskan bahwa moderasi beragama bukan hanya teori di seminar atau modul pelatihan, tetapi hadir dalam sikap sehari-hari di antaranya bagaimana menyapa, memahami, dan bekerja sama meski berbeda keyakinan.

Menurutnya, keberagaman bukan sesuatu yang menakutkan, melainkan membuat seseorang tumbuh lebih terbuka. “Di balik label agama yang berbeda, kita tetap manusia yang sama-sama ingin dihargai dan menghargai,” ucapnya.

Apriyanti mengaku bangga dapat mengabdi di madrasah. Baginya, MTsN Taput menjadi bukti bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh, tetapi untuk mendekat dan saling menguatkan. “Damai itu lahir ketika kita menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan ancaman,” tuturnya.

“Dan saya menemukan kedamaian di tempat yang tidak disangka-sangka oleh orang lain, yaitu madrasah, yang menjadi rumah bagi harmoni di tengah keberagaman,” tambahnya.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN