Friday, June 5, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

FTBI Sumut 2025 Jadi Panggung Kreativitas Bahasa Daerah Pelajar dari 11 Kabupaten

Mistar.idSabtu, 13 Desember 2025 19.34
JS
SH
ftbi_sumut_2025_jadi_panggung_kreativitas_bahasa_daerah_pelajar_dari_11_kabupaten

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin. (foto:susan/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2025 di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menjadi ruang ekspresi bagi pelajar dari 11 kabupaten untuk menampilkan kreativitas berbahasa daerah melalui berbagai cabang lomba.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) yang digagas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Kepala BPPB, Hafidz Muksin, mengatakan FTBI merupakan salah satu tahapan akhir dari program revitalisasi bahasa daerah. Sebelum sampai ke festival, para peserta telah mengikuti pembelajaran bahasa daerah di sekolah dengan pendekatan yang menyenangkan sesuai minat dan kegemaran masing-masing.

“Jadi ada lomba menyanyi, pidato, komedi tunggal, puisi, hingga menulis cerpen. Ini menggambarkan aktivitas bahasa daerah yang kita harapkan dapat mewariskan semangat kepada anak-anak untuk mempelajari dan mencintai bahasa daerah agar tidak punah,” ujarnya di Kota Medan, Sabtu (13/12/2025).

Tahun ini, RBD di Sumut mencakup tiga bahasa, yakni Batak, Melayu, dan Nias, yang diikuti oleh 11 kabupaten. Hafidz menyebut kehadiran peserta dari berbagai daerah menjadi media untuk menampilkan kreativitas anak-anak, sekaligus mendorong motivasi belajar bahasa daerah di tengah berbagai tantangan yang dihadapi.

Ia menegaskan pelestarian bahasa daerah tidak bisa dilakukan sendiri. BPPB, sebutnya, terus berkomitmen mendukung dan berkolaborasi dengan pemerintah daerah melalui berbagai program, mulai dari pembelajaran muatan lokal, peminatan bahasa di sekolah, hingga pelaksanaan FTBI di kabupaten dan kota.

Hafidz juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah yang telah berjuang bersama dan berkomitmen melestarikan bahasa daerah. Ia turut mengucapkan terima kasih kepada seluruh kabupaten yang hadir dan tetap membersamai pelaksanaan FTBI meskipun berlangsung dalam kondisi yang tidak mudah.

“Melalui bahasa daerah, kita bisa memperoleh nilai-nilai karakter, tidak hanya dari bahasa lisan, tetapi juga dari tutur dan kata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Ia berharap dukungan pelestarian bahasa daerah tidak hanya datang dari pemerintah daerah, tetapi juga dari pendidik, orang tua, dan masyarakat. Upaya menjaga bahasa daerah, menurutnya, harus berlangsung tidak hanya di sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Dalam pelaksanaan tahun ini, Kabupaten Nias belum dapat berpartisipasi karena faktor jarak. Namun, Hafidz memastikan revitalisasi bahasa daerah akan kembali digiatkan pada tahun depan dan diperluas ke daerah lain.

“Jadi yang sudah dilakukan saat ini dan sudah mandiri dengan dukungan anggaran program dari dinas pendidikan provinsi dan kabupaten tetap berjalan, dan akan diperluas lagi ke daerah lain,” tuturnya.

Hafidz juga menyoroti antusiasme peserta dari daerah terdampak banjir, seperti Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng). Ia mengungkapkan kegiatan ini justru mendapat respons luar biasa dari siswa yang telah lama menantikan FTBI setelah sempat tertunda. Bahkan, peserta dari Tapteng hadir langsung dari tempat pengungsian.

“Mereka datang didampingi guru dan kepala sekolah. Ini menunjukkan keinginan kuat untuk tampil. Saya berharap motivasi ini bisa meningkatkan semangat belajar mereka, khususnya dalam bahasa daerah,” ucapnya.

Ia juga terus menguatkan slogan Badan Bahasa, yakni Trigatra Bangun Bahasa, yang menyemangati untuk “mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing”. Menurutnya, semangat tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun karakter dan literasi generasi muda melalui bahasa. (hm16)


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN