Monday, August 31, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

AVI Edukasi Siswa SMK di Deli Tua tentang Hak Hidup Hewan dan Anti-Kekerasan

Mistar.idSenin, 31 Agustus 2026 pukul 20.04 WIB
avi_edukasi_siswa_smk_di_deli_tua_tentang_hak_hidup_hewan_dan_antikekerasan

Foto bersama usai kegiatan edukasi tentang hak hidup hewan di SMK Putra Bangsa Berbudi Medan. (foto:Susan/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID (31/8/2026) – Animal Voice Indonesia (AVI) mulai melakukan program edukasi kesadaran hak hidup hewan dan anti-kekerasan ke sekolah-sekolah. Kali ini, organisasi perlindungan hewan tersebut menyambangi SMK Putra Bangsa Berbudi di kawasan Deli Tua, Deli Serdang, untuk memberikan pemahaman moral dan budi pekerti kepada ratusan siswa.

Founder AVI, Daniel Halim, menjelaskan bahwa program edukasi ini merupakan langkah besar untuk membentuk karakter generasi penerus bangsa sejak dini. Menurut Daniel, maraknya konten kekerasan serta pola didikan yang salah dari lingkungan sering kali membuat anak-anak menormalisasi tindakan brutal, termasuk kekerasan terhadap hewan.

“Kita berharap semakin banyak sekolah yang melek tentang pengetahuan hak hidup hewan. Jadi bukan hanya berlaku lembut atau soft spoken saja. Antikekerasan bukan hanya sama manusia, tapi sama yang memiliki nyawa atau makhluk hidup lainnya,” kata Daniel kepada Mistar, Senin (31/8/2026).

Ia menilai, masa remaja, khususnya tingkat sekolah dengan rentang usia 16 hingga 18 tahun, merupakan fase krusial di mana anak-anak tengah mencari jati diri.

Jika dibiarkan tanpa bimbingan budi pekerti yang tepat, tindakan kekerasan kecil seperti menyakiti hewan berpotensi berkembang menjadi perilaku agresif seperti tawuran antarpelajar atau bahkan lebih dari itu menjadi psikopat.

Anak cenderung menganggap kekerasan tersebut sebagai tindakan untuk meluapkan emosi, padahal masih banyak ranah lainnya yang bisa dituju selain tindak kekerasan.

“Ke hewan saja mereka sudah berani melakukan tindakan kekerasan, apalagi ke manusia. Jadi bisa berpotensi psikopat. Penelitian juga menunjukkan, tindakan kekerasan berawal ke hewan dulu baru ke manusia,” tuturnya lagi.

Daniel juga menekankan bahwa tidak ada paksaan untuk menyukai atau mengagumi hewan, sebab itu merupakan hak dari setiap individu. Namun, jika tidak menyukai hewan, minimal jangan menyakiti. “Kalau memang nggak suka, ya diamkan saja, jangan dipukul atau ditendang atau diapa-apakan gitu,” ucapnya.

Selain itu, Daniel juga mengatakan bahwa pihaknya terbuka untuk memberikan edukasi ke sekolah-sekolah, bahkan hingga universitas maupun instansi pemerintahan nantinya, demi memberikan bekal dari sisi kemanusiaan selain dari akademis.

Kehadiran komunitas pecinta hewan ini turut disambut hangat oleh pihak sekolah. Kepala SMK Putra Bangsa Berbudi, Rezky, menyebut bahwa nilai-nilai yang dibawa AVI sejalan dengan visi sekolah yang selalu mengajarkan siswa untuk mencintai sesama makhluk hidup dan menjaga lingkungan.

“Jadi selain hewan, lingkungan, semua siswa di sini juga kami ajarkan untuk saling mencintai, menjaga sesama. Makanya setiap pagi pun kami instruksi ke anak-anak untuk menjaga lingkungan dengan cara kebersihan dan lain-lain,” kata Rezky.

Di sekolah sendiri, Rezky menyebutkan ada beberapa hewan yang memang dirawat dan dipelihara oleh seluruh warga sekolah. “Kami berharap dengan adanya kegiatan ini, anak-anak lebih paham bagaimana berinteraksi dengan hewan. Paham hewan itu apa dan bagaimana kita bisa menjaga hewan,” tuturnya lagi. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN