Wednesday, October 14, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

5 Rekomendasi Buku Sejarah Indonesia, dari Kisah Batavia hingga Eksploitasi Papua

Mistar.idRabu, 14 Oktober 2026 pukul 21.33 WIB
5_rekomendasi_buku_sejarah_indonesia_dari_kisah_batavia_hingga_eksploitasi_papua

Buku sejarah Indonesia dari masa kolonial hingga Orde Baru (Foto: Daffa Ulhaq)

Jakarta, MISTAR.ID - Minat anak muda terhadap buku fisik kembali terlihat, termasuk buku yang mengangkat sejarah Indonesia. Kisah masa kolonial, kehidupan masyarakat tempo dulu, hingga peristiwa kelam dalam perjalanan bangsa menjadi topik yang menarik untuk ditelusuri melalui bacaan nonfiksi.

Bagi pembaca yang ingin mengenal sejarah Indonesia dari berbagai sudut pandang, berikut lima rekomendasi buku yang bisa masuk daftar bacaan.

1. Riwayat Peranakan Tionghoa di Jawa — Ong Hok Ham

Buku ini menghimpun tulisan Ong Hok Ham, sejarawan keturunan Tionghoa-Indonesia, yang membahas kehidupan sosial dan politik masyarakat Tionghoa peranakan di Jawa dan Madura.

Pembahasannya menelusuri perjalanan masyarakat peranakan sejak sekitar akhir abad ke-18, termasuk proses asimilasi serta percampuran tradisi, budaya, dan kepercayaan dengan masyarakat setempat.

Salah satu sisi menariknya adalah kisah masyarakat Tionghoa peranakan di Madura yang memeluk Islam. Buku ini juga memperlihatkan bahwa identitas masyarakat peranakan tidak seragam, baik dalam bahasa maupun kebiasaan sehari-hari.

2. Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer — Pramoedya Ananta Toer

Karya Pramoedya Ananta Toer ini mengangkat nasib perempuan muda Indonesia yang menjadi korban penipuan dan kekerasan seksual oleh militer Jepang pada masa Perang Dunia II.

Dalam buku tersebut, Pramoedya menelusuri kisah perempuan yang dijanjikan kesempatan bersekolah di Tokyo atau Shonanto, tetapi justru dipaksa menjadi jugun ianfu, yakni perempuan yang dieksploitasi untuk melayani kebutuhan seksual tentara Jepang.

Buku ini juga menyoroti nasib para korban setelah Jepang menyerah pada 1945. Melalui catatan dari Pulau Buru, pembaca diajak memahami salah satu bagian sejarah perang yang menyisakan penderitaan panjang bagi perempuan Indonesia.

3. Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit, dan Senjata Api — Margareet van Till

Buku karya Margareet van Till ini mengajak pembaca menelusuri kehidupan Batavia pada akhir abad ke-19, ketika aksi perampokan dan kriminalitas menjadi bagian dari persoalan perkotaan.

Tokoh-tokoh yang dikenal sebagai jago atau bandit, seperti Pitung, Genteng, dan Tjonat, turut menjadi bagian dari pembahasan. Menariknya, sebagian bandit kala itu justru mendapat perhatian dan kekaguman masyarakat.

Selain mengulas dunia kriminal, buku ini membahas peredaran senjata api, hubungan para bandit dengan pejabat kolonial, serta kebiasaan warga melakukan ronda dan membunyikan kentongan ketika terjadi ancaman.

Lewat buku ini, sejarah Batavia tidak hanya dilihat dari kehidupan pejabat dan pemerintahan kolonial, tetapi juga dari dinamika keamanan dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

4. Kutukan Emas di Papua — Greg Poulgrain

Bagi pembaca yang tertarik pada sejarah pertambangan dan politik sumber daya alam, buku karya sejarawan Greg Poulgrain ini menawarkan penelusuran tentang kekayaan mineral Papua.

Buku tersebut membahas penemuan kandungan emas dalam jumlah besar oleh geolog Jean Jacques Dozy pada 1936. Penemuan itu kemudian menjadi bagian dari kisah panjang kepentingan ekonomi dan politik yang melibatkan Belanda, Amerika Serikat, Jepang, serta pemerintah Indonesia.

Poulgrain juga menyoroti hubungan antara eksploitasi sumber daya alam dan persoalan kesejahteraan masyarakat setempat. Judul Kutukan Emas di Papua mencerminkan sudut pandang kritis buku ini terhadap perebutan kekayaan alam yang tidak selalu berbanding lurus dengan manfaat bagi masyarakat asli Papua.

5. Lesbian, Biseksual, Trans: Sejarah Gerakan Politik di Indonesia — Saskia Wieringa

Buku karya Saskia Wieringa ini mengulas perjalanan kelompok lesbian, biseksual, dan transgender (LBT) di Indonesia dalam konteks sejarah sosial dan politik.

Pembahasannya turut menyinggung keragaman gender dalam kebudayaan Nusantara, termasuk masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan yang mengenal kategori gender seperti makkunrai, calalai, calabai, dan bissu.

Buku ini kemudian menelusuri perkembangan komunitas serta organisasi homoseksual dan waria, termasuk dinamika yang terjadi setelah 1965. Pembaca dapat melihat bagaimana perubahan sosial dan politik memengaruhi perjalanan kelompok-kelompok tersebut di Indonesia.

Membaca Sejarah dari Berbagai Sudut Pandang

Kelima buku tersebut menawarkan tema yang berbeda, mulai dari sejarah masyarakat Tionghoa peranakan, kekerasan pada masa pendudukan Jepang, kehidupan kriminal Batavia, eksploitasi tambang Papua, hingga sejarah gerakan politik kelompok LBT.

Keragaman tema ini bisa menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah Indonesia secara lebih luas. Dengan membaca karya dari berbagai penulis dan sudut pandang, pembaca dapat menelusuri peristiwa masa lalu sekaligus memahami dampaknya terhadap kehidupan masyarakat saat ini.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN