Wednesday, October 14, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

P2G Soroti Daya Juang Pelajar Indonesia yang Dinilai Menurun, Usulkan Evaluasi Kenaikan Kelas SMA

Mistar.idRabu, 14 Oktober 2026 pukul 21.10 WIB
p2g_soroti_daya_juang_pelajar_indonesia_yang_dinilai_menurun_usulkan_evaluasi_kenaikan_kelas_sma

Ilustrasi anak SMA (Foto: AI)

Jakarta, MISTAR.ID – Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menyoroti kondisi semangat belajar pelajar Indonesia yang dinilai cenderung melemah. Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim, menyebut sebagian siswa menunjukkan kecenderungan ingin menyelesaikan segala sesuatu secara instan tanpa menghadapi proses yang menantang.

“ Mentalnya instan, serba ingin cepat selesai gitu kan, pengen semuanya itu dihadapi secara smooth, mulus. Nah, itu memang menjadi kondisi real di sekolah-sekolah hari ini,” kata Satriwan kepada Kompas.com, Senin (12/10/2026).

Banyak Faktor Memengaruhi Daya Juang Siswa

Menurut Satriwan, rendahnya daya juang pelajar tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Lingkungan sosial, perkembangan dunia digital, hingga pola asuh keluarga turut memengaruhi sikap dan motivasi anak dalam menghadapi tantangan.

Ia juga menegaskan, kondisi tersebut tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan kebijakan pendidikan pada masa Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim, termasuk kebijakan terkait kenaikan kelas.

Karena itu, menurutnya, persoalan motivasi belajar perlu dilihat secara menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi kehidupan siswa.

P2G Nilai Evaluasi Kenaikan Kelas SMA Perlu Diperhatikan

Satriwan menilai evaluasi kenaikan kelas, termasuk kemungkinan siswa tidak naik kelas, penting dipertimbangkan terutama pada jenjang SMA dan SMK. Menurutnya, keputusan kenaikan kelas dapat menjadi salah satu konsekuensi dari proses belajar sekaligus mendorong siswa mencapai target akademik.

“Daya juang itu kemudian muncul ketika ada target yang dicapai, termasuk juga kenaikan kelas. Ketika mereka tidak naik kelas, nah ini tentu menjadi konsekuensi bagi anak tersebut,” ujarnya.

Ia menilai hal tersebut relevan karena siswa SMA dan SMK akan menghadapi persaingan lebih ketat setelah lulus, baik ketika melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi maupun memasuki dunia kerja.

Persaingan Setelah Lulus Menjadi Pertimbangan

Menurut Satriwan, seleksi masuk perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi negeri, menuntut kesiapan dan kemampuan bersaing. Dunia kerja juga memiliki tantangan tersendiri yang perlu dipersiapkan sejak bangku sekolah.

Ia mengingatkan, jika siswa terus dinaikkan kelas tanpa mempertimbangkan pencapaian belajarnya, dikhawatirkan hal tersebut tidak membantu pembentukan motivasi dan daya juang.

Meski demikian, evaluasi kenaikan kelas perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. Pendampingan guru, dukungan keluarga, dan lingkungan belajar yang positif tetap penting agar siswa mampu memperbaiki hasil belajar serta menghadapi tantangan secara bertahap.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN