Pakar Kritik Pemerintahan Prabowo-Gibran: Bangun Sekolah Baru Bukan Solusi Utama Pendidikan

Ilustrasi SMA Unggul Garuda Baru Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara.(Foto: Dokumen SMA Unggul Garuda)o
Jakarta, MISTAR.ID – Kebijakan pendidikan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendapat sorotan dari pakar pendidikan Itje Chodidjah. Ia menilai pembangunan berbagai jenis sekolah baru bukan langkah ideal untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
Dalam keterangannya kepada Kompas.com, Rabu (14/10/2026), Itje mengatakan pemerintah semestinya memprioritaskan perbaikan sekolah yang sudah beroperasi, alih-alih mengalokasikan anggaran besar untuk membangun institusi pendidikan baru.
“Gagasan membuat sekolah baru dengan jenis-jenis baru bukan gagasan ideal,” kata Itje.
Sekolah Baru Dinilai Berisiko Menggerus Capaian yang Ada
Itje menyoroti kemunculan sejumlah program sekolah baru, seperti Sekolah Unggul Garuda, Sekolah Rakyat, dan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT). Menurutnya, program tersebut seolah-olah menjadi jawaban atas kekurangan sekolah yang selama ini ada.
Padahal, ia menilai pembangunan sekolah baru dengan kebutuhan biaya besar berpotensi mengurangi perhatian dan anggaran yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan mutu sekolah yang sudah berjalan.
“Kok tiba-tiba ada sekolah baru dengan gagasan membutuhkan dana yang sangat besar dan itu seolah-olah menjadi pajangan sebagai capaian. Bukan. Itu capaian yang menghancurkan apa yang sudah ada,” ujarnya.
Ia menegaskan, peningkatan mutu pendidikan seharusnya dimulai dari pembenahan kualitas pembelajaran dan fasilitas di sekolah yang telah tersedia.
Anggaran Sekolah Baru Disarankan untuk Perbaikan Mutu
Menurut Itje, dana yang digunakan untuk membangun sekolah baru dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas sekolah yang sudah ada. Dengan begitu, peningkatan mutu pendidikan bisa menjangkau lebih banyak siswa tanpa hanya berpusat pada institusi tertentu.
Ia mengingatkan bahwa pembangunan sekolah baru membutuhkan anggaran tinggi yang berpotensi mengurangi alokasi dana bagi sekolah-sekolah lainnya.
“Jadi saat ini yang mestinya diperbaiki adalah kualitas sekolah-sekolah yang ada, bukan bikin gagasan sekolah-sekolah baru yang membutuhkan budget yang tinggi,” pungkasnya.
Mengenal Sekolah Rakyat, Garuda, dan SNT
Pemerintah memiliki sejumlah program sekolah dengan sasaran berbeda. Sekolah Rakyat ditujukan bagi anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, terutama kelompok desil 1 dan 2. Program ini menyediakan pendidikan dari jenjang SD hingga SMA dengan sistem asrama.
Sementara itu, SMA Unggul Garuda dirancang sebagai sekolah berasrama bagi siswa berprestasi dengan kriteria kemampuan tertentu. Program ini menargetkan lulusan yang mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terkemuka dunia.
Adapun Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) ditujukan bagi siswa berprestasi pada jenjang SMP dan SMA tanpa sistem asrama.
Perdebatan mengenai program-program tersebut menyoroti pilihan kebijakan pendidikan: membangun institusi baru dengan sasaran khusus atau memusatkan sumber daya untuk meningkatkan mutu sekolah yang telah ada.
PREVIOUS ARTICLE
Beasiswa Garuda Segera Dibuka, Ini 10 Bidang Prioritas dan Syarat yang Wajib DipenuhiBERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER
























































