Wednesday, October 14, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Greta Thunberg Dukung Demo Pelajar di Prancis, Ribuan Orang Ditangkap

Mistar.idRabu, 14 Oktober 2026 pukul 15.21 WIB
greta_thunberg_dukung_demo_pelajar_di_prancis_ribuan_orang_ditangkap

Pelajar di Prancis demonstrasi. (Foto: Reuters)

Paris, MISTAR.ID – Aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg, bergabung dengan ribuan pelajar yang menggelar demonstrasi menuntut perbaikan sistem pendidikan di Prancis, Selasa (13/10/2026). Aksi tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara demonstran dan aparat kepolisian.

Dilansir dari AFP, Thunberg yang kini berusia 23 tahun mendatangi SMA Paul Eluard di Saint-Denis, pinggiran Paris, salah satu pusat gerakan protes pelajar.

Kehadirannya disambut sejumlah pengacara yang mengenakan jubah profesi dan membentuk rantai manusia untuk melindungi para pelajar. Langkah itu dilakukan menyusul berbagai tuduhan kekerasan polisi selama gelombang demonstrasi.

"Kaum muda tidak dilibatkan dalam pembicaraan ini. Masa depan kami sedang dirampas," kata Thunberg.

Demonstrasi yang berlangsung sejak akhir September 2026 tersebut dipicu sejumlah persoalan pendidikan, mulai dari tingginya angka ketidakhadiran guru, kondisi bangunan sekolah yang rusak, hingga jadwal pelajaran yang dinilai terlalu padat.

Para pelajar juga menuntut tambahan anggaran pendidikan sebesar 10 miliar euro untuk sekolah menengah atas.

Gerakan ini mendapat dukungan dari serikat pekerja dan partai oposisi sayap kiri France Unbowed. Massa dijadwalkan menggelar pawai di Paris dan sejumlah kota lainnya.

"Mereka tidak mendengarkan kami, jadi kami yang akan mendatangi mereka," tulis serikat mahasiswa l'Union étudiante melalui media sosial X.

Pekan sebelumnya, lebih dari 70.000 orang dilaporkan mengikuti demonstrasi. Sejumlah pelajar memblokade pintu masuk sekolah menggunakan tempat sampah dan membakar penghalang keamanan. Aksi tersebut terjadi di ratusan dari sekitar 3.700 sekolah menengah atas di Prancis, yang sebagian besar siswanya berusia 15 hingga 18 tahun.

Meski sebagian besar aksi berlangsung damai, bentrokan dengan polisi beberapa kali terjadi. Kementerian Pendidikan Prancis melaporkan delapan staf sekolah terluka dalam demonstrasi pada Senin (12/10/2026), terutama di wilayah Paris, Bordeaux, dan Lyon.

Selain itu, tembakan kembang api dari tabung peluncur melukai tiga pekerja sekolah di Reims dan pinggiran Paris, serta seorang polisi di Marseille.

Seorang mahasiswa desain grafis berusia 19 tahun bernama Leo menilai pemerintah belum cukup mendengarkan aspirasi pelajar.

"Suara siswa kurang didengar, begitu pula usulan mereka kepada pihak berwenang dan pejabat terpilih," ujarnya.

Leo juga mengecam tindakan aparat yang dinilainya sebagai bentuk represi terhadap gerakan pelajar.

Lebih dari 6.800 Orang Diamankan

Kementerian Kehakiman Prancis menyebut polisi telah mengamankan lebih dari 6.800 orang selama gelombang demonstrasi tersebut. Sebagian besar di antaranya masih berusia di bawah umur.

Kepolisian juga membuka penyelidikan internal terhadap 24 dugaan kekerasan aparat terhadap demonstran.

Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta para pengunjuk rasa menahan diri dan mengutamakan dialog.

"Ini adalah masalah yang memerlukan waktu, konsultasi, diskusi, dan rasa saling menghormati," kata Macron.

Di sisi lain, pemerintah menjanjikan penempatan sekitar 3.000 guru pengganti di 114 sekolah menengah yang paling terdampak kekurangan tenaga pengajar.

Menteri Pendidikan Edouard Geffray mengatakan, hingga Selasa sebanyak 35 persen dari jumlah guru pengganti tersebut telah ditugaskan.

Ia memperkirakan sekitar 200 sekolah tutup akibat demonstrasi, lebih sedikit dibandingkan pekan sebelumnya.

Gelombang protes pelajar dijadwalkan berlanjut melalui demonstrasi yang lebih luas pada Sabtu (17/10/2026). Aksi tersebut juga akan membawa tuntutan terkait kenaikan biaya hidup.

Naila, siswi berusia 17 tahun asal Rennes, berharap gerakan pelajar dapat bergabung dengan demonstrasi nasional tersebut. (afp)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN