Friday, September 25, 2026
home_banner_first
HIBURAN

Cerita Buku Pelajaran Mandarin Diadaptasi Jadi Drama Pendek di China

Mistar.idJumat, 25 September 2026 pukul 07.59 WIB
cerita_buku_pelajaran_mandarin_diadaptasi_jadi_drama_pendek_di_china

Cerita-cerita tradisional di buku pelajaran SD dan SMP digarap jadi drama pendek China. (Foto: Courtesy of Haojiahuo)

news_banner

Beijing, MISTAR.ID - Sejumlah kreator di China mengadaptasi kisah-kisah legendaris dari buku pelajaran bahasa Mandarin tingkat sekolah dasar dan menengah menjadi serial drama pendek berbentuk video.

Inisiatif yang dipelopori tim kreator akun Haojiahuo tersebut mendapat perhatian luas dan telah meraih lebih dari 130 juta penayangan, seperti diberitakan Global Times, Selasa (22/9/2026).

Sejumlah karya yang diadaptasi antara lain Kong Yiji, A Letter to My Wife, Monument, hingga serial kolosal 1937 Nanjing. Drama-drama tersebut mengangkat kembali kisah sejarah dan sastra yang sebelumnya dikenal siswa melalui buku pelajaran.

Salah satu proyek terbesar mereka, 1937 Nanjing, membutuhkan waktu persiapan hampir satu tahun. Naskahnya direvisi lebih dari 30 kali dengan biaya produksi mencapai 1 juta yuan atau sekitar Rp2,6 miliar.

Untuk membangun suasana perang secara realistis, tim bahkan menggali dan merancang set darurat di ruang bawah tanah.

Perjalanan Haojiahuo sendiri bermula pada 2024 dengan kondisi yang jauh lebih sederhana. Saat menggarap Kong Yiji, tim hanya terdiri dari empat orang. Mereka meminjam satu perangkat pencahayaan dan melibatkan warga desa sebagai pemeran figuran.

Video pertama mereka mendapat kritik terkait akting dan sinematografi. Dengan anggaran awal 20 ribu yuan yang telah habis, tim sempat mempertimbangkan untuk membubarkan diri.

Titik balik terjadi setelah seorang guru bahasa Mandarin memberi tahu bahwa salah satu muridnya yang dikenal malas belajar menangis setelah menyaksikan adaptasi Monument. Kisah tersebut mengangkat perjuangan Barisan Merah dalam peristiwa Long March.

"Saat itu saya menyadari bahwa kami tidak sekadar membuat video dari cerita buku pelajaran. Kami sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih bermakna," kata Zhang, perwakilan tim Haojiahuo.

Sejak itu, tim mulai memperdalam teknik sinematografi, seni peran, serta riset sejarah untuk menghasilkan adaptasi yang lebih kuat.

Dalam menggarap A Letter to My Wife, yang berkisah tentang surat perpisahan tokoh revolusioner Lin Juemin kepada istrinya pada 1911, mereka menambahkan latar gejolak politik Pemberontakan Guangzhou serta adegan interogasi yang tidak terdapat dalam buku teks.

Langkah tersebut dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih utuh kepada generasi muda mengenai latar sejarah cerita.

Namun, mempertahankan kualitas produksi bukan perkara mudah. Biaya produksi rata-rata mencapai 100 ribu yuan per episode. Tekanan finansial bahkan membuat tim menghentikan kanal mereka selama dua bulan pada akhir 2025.

Mereka sempat mempertimbangkan untuk beralih membuat drama modern yang lebih murah dan cepat menghasilkan pendapatan.

Keputusan itu akhirnya dibatalkan setelah banyak pesan dari anak-anak, guru, dan orang tua yang menanyakan kapan mereka kembali berkarya.

Setelah aktif kembali pada awal tahun ini, serial 1937 Nanjing mendapat respons besar dan disukai lebih dari satu juta pengguna. Sejumlah guru bahkan menggunakan serial tersebut sebagai bahan ajar di kelas.

Pakar kebudayaan asal Beijing, Wang Deyan, menilai daya tarik drama pendek tersebut berasal dari kekuatan narasi asli yang sudah memiliki karakter dan emosi kuat dalam buku pelajaran.

Menurutnya, adaptasi ke layar memberikan cara lain bagi generasi muda untuk memahami cerita, tokoh, dan latar yang sebelumnya hanya mereka bayangkan melalui bacaan.

Namun, ia mengingatkan agar inovasi media baru tidak mengorbankan karakter dasar, konteks sejarah, dan nilai inti cerita hanya demi mengejar jumlah penayangan.

Di tengah penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin luas, tim Haojiahuo memilih tetap menggunakan pemeran manusia dan lokasi syuting nyata untuk mempertahankan unsur emosional dalam cerita.

Kini, anggota tim telah berkembang menjadi sembilan orang. Mereka tengah mempersiapkan adaptasi sejumlah kisah sejarah lainnya, termasuk Bethune dan The Lily.

"Bagi kami, menyampaikan cerita sejarah berarti tentang kontak mata, hembusan napas, dan detak jantung yang saling terhubung," kata Zhang.

"Audiens tidak harus mengingat nama tim kami, selama mereka mengingat bagian dari sejarah itu, itu sudah lebih dari cukup," ucapnya lagi. (hm25/CNN Indonesia)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN