136 Lulusan STT HKBP Diwisuda, Ephorus Tekankan Transformasi dan Pelayanan

Prosesi wisuda kepada lulusan STT HKBP (Foto: Patiar/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID – Sebanyak 136 lulusan Sekolah Tinggi Teologi (STT) HKBP Pematangsiantar diwisuda pada Jumat (16/10/2026) di Gedung HKBP Siantar Kota, Ressort Siantar Kota, Distrik V Sumatra Timur.
Jumlah tersebut terdiri atas 84 lulusan Program Sarjana Teologi (S-1) dan 52 lulusan Program Magister Teologi (S-2). Wisuda tahun ini juga menjadi momen istimewa karena merupakan wisuda pertama setelah STT HKBP meraih predikat Akreditasi Unggul.
Dari lulusan program magister, sebanyak 50 orang berasal dari jemaat HKBP dan 2 orang dari gereja non-HKBP, yakni utusan dari GKPI dan HKI. Sementara itu, dari program sarjana, 75 lulusan berasal dari HKBP dan 9 orang dari gereja non-HKBP.
Sebelum prosesi wisuda, di hadapan tamu undangan dan keluarga para lulusan, Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST, menyampaikan pesan kepada seluruh lulusan agar tetap menjadi bagian dari gerakan transformasi di tengah tantangan yang semakin berat, baik di tingkat daerah, nasional, maupun global.
Ia menegaskan bahwa transformasi harus menjadi bagian dari cara berpikir, bersikap, melayani, serta memperlakukan sesama dan seluruh ciptaan Tuhan.
Menurutnya, dunia saat ini masih dihadapkan pada berbagai persoalan, seperti kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan alam, konflik, dan berbagai bentuk penderitaan lainnya.
“Wisuda adalah pintu menuju tanggung jawab yang lebih besar. Pendidikan yang sejati tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi harus menghadirkan perubahan bagi kehidupan orang lain,” ujarnya.
Ephorus juga mendorong para lulusan STT HKBP agar berperan aktif dalam menjaga kebenaran, integritas, kebijaksanaan, dan nilai-nilai kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
“Kiranya dengan bertambahnya Sarjana Teologi dan Magister Teologi, bertambah pula kebaikan di dunia ini,” katanya.
Ia kemudian menjelaskan lima kualitas pelayanan yang tercantum dalam buku panduan transformasi HKBP, yakni spiritualitas yang tangguh, karakter yang teruji dan terpuji, kecerdasan intelektual yang cemerlang, keterampilan melayani yang mumpuni, serta semangat melayani yang berkobar-kobar.
“Kiranya para wisudawan menjadi satu barisan dengan gerakan transformasi HKBP ini,” ujarnya.
Sementara itu, Bishop GKPI, Pdt. Dr. Humala Lumbantobing, M.Th., dalam khotbahnya mengajak para wisudawan dan jemaat yang hadir untuk mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba, sebagaimana tertulis dalam Filipi 2:2–6. Menurutnya, sikap tersebut menjadi dasar untuk melayani orang lain dengan tulus.
Ia mengingatkan para wisudawan agar tetap setia dalam pelayanan, tidak terjebak dalam kesombongan karena gelar akademik, serta menyadari keterbatasan akal manusia dalam memahami Allah yang tidak terbatas.
“Para wisudawan dan wisudawati, ketika nanti melanjutkan pelayanan, tetaplah setia dan tanggalkan kemuliaan diri. Jangan terus merasa hebat karena sudah menjadi sarjana. Sehebat apa pun pemikiran teologis kita, tidak akan pernah mampu memahami sepenuhnya ketidakterbatasan Allah,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa setiap pencapaian merupakan anugerah Tuhan sehingga tidak sepatutnya menjadi alasan untuk menyombongkan diri.
“Rendah hati bukan berarti rendah diri, melainkan memahami bahwa keberadaan kita adalah karena Tuhan. Jangan sampai kita memosisikan diri lebih tinggi daripada sesama. Dalam pelayanan gereja, tujuan kita adalah melayani,” tegasnya.
Mewakili Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) RI, Pungka Marudut Sinaga, S.Kom., M.H., Kepala Biro Umum, Protokol, dan Hubungan Masyarakat Kementerian HAM RI, turut menyampaikan bahwa HAM merupakan bagian penting dari iman Kristen. Kitab Kejadian mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sehingga setiap manusia memiliki martabat yang tidak dapat dicabut oleh siapa pun. Nilai ini sejalan dengan Deklarasi Universal HAM 1948 dan UUD 1945.
“Pesan Nabi Amos tentang keadilan serta ajaran Yesus untuk melayani mereka yang lemah menegaskan bahwa gereja dipanggil membela martabat manusia dan melindungi kelompok yang terpinggirkan,” katanya.
Demokrasi merupakan hasil perjuangan panjang umat manusia. Perkembangannya dimulai dari demokrasi Athena, pembatasan kekuasaan raja melalui Magna Carta dan Bill of Rights, revolusi Amerika dan Prancis, perluasan hak pilih, hingga lahirnya Deklarasi Universal HAM setelah Perang Dunia II.
Perkembangan ini berlanjut melalui dekolonisasi, gelombang demokratisasi dunia, dan Reformasi Indonesia 1998 yang memperkuat kebebasan berpendapat, kebebasan pers, pemilihan langsung, serta jaminan HAM. Namun, demokrasi saat ini menghadapi tantangan berupa polarisasi, disinformasi, politik identitas, pemusatan kekuasaan, dan penyempitan kebebasan sipil.
Demokrasi penting karena menjamin kedaulatan rakyat, mengelola perbedaan secara damai, membatasi kekuasaan, melindungi kelompok minoritas, mendorong pemerintahan yang bertanggung jawab, dan menghargai martabat setiap warga negara. Demokrasi bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk mewujudkan keadilan, perdamaian, dan kesejahteraan bersama.
Gereja memiliki peran penting dalam memperjuangkan HAM dan demokrasi. Tokoh seperti Dietrich Bonhoeffer, Martin Luther King Jr., Desmond Tutu, A.A. Maramis, dan J. Leimena menunjukkan bahwa iman dapat diwujudkan melalui perjuangan melawan ketidakadilan, diskriminasi, dan penindasan, serta melalui pembangunan bangsa bersama masyarakat yang beragam.
Dalam orasi ilmiahnya, Ketua STT HKBP, Pdt. Dr. Sukanto Limbong, M.Th., menyampaikan bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan, seperti krisis iklim, kerusakan lingkungan, ketidakadilan sosial, dan ketidakstabilan ekonomi global.
Di tengah situasi tersebut, ia mengangkat Mikha 6:8 dengan tema “Berjalan dengan Kerendahan Hati di Hadapan Tuhan” dan subtema “Wisudawan/wati STT HKBP Diutus untuk Menegakkan Keadilan, Menghidupi Belas Kasih, dan Melayani dengan Rendah Hati.” Ayat tersebut menjadi pedoman kehidupan umat Tuhan melalui tiga nilai utama, yakni berlaku adil, mencintai kesetiaan atau belas kasihan, serta hidup dengan rendah hati di hadapan Allah.
Ia menekankan bahwa STT HKBP berupaya mewujudkan nilai-nilai tersebut melalui peningkatan mutu pendidikan. Upaya itu diwujudkan melalui keberhasilan Program Studi S-1 Teologi meraih Akreditasi Unggul, peningkatan jabatan fungsional dosen, pengembangan penelitian dan publikasi ilmiah, pembaruan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), serta penguatan kerja sama nasional dan internasional.
Selain itu, STT HKBP terus melaksanakan pengabdian kepada masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi, pelayanan sosial, dan kolaborasi dengan berbagai lembaga.
Menurut Sukanto, keadilan berarti membela hak-hak orang yang lemah dan tertindas. Belas kasihan dan kesetiaan berarti menunjukkan kasih yang nyata, tulus, dan berkelanjutan. Sementara itu, kerendahan hati diwujudkan melalui kesediaan menyadari keterbatasan diri, terus belajar, dan mengutamakan kehendak Allah di atas kepentingan pribadi.
Ketiga nilai tersebut, lanjutnya, tidak dapat dipisahkan karena saling melengkapi dalam mewujudkan perubahan nyata. Karena itu, para wisudawan tidak hanya dipanggil menjadi lulusan yang berpengetahuan, tetapi juga menjadi saksi Kristus dan agen transformasi bagi gereja, masyarakat, dan bangsa.
Di sisi lain, sejumlah lulusan mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan mereka menyelesaikan pendidikan di STT HKBP.
Salah seorang lulusan, Rio Simanjuntak, menilai STT HKBP memiliki keunggulan yang patut dibanggakan, khususnya dalam pengajaran melalui studi biblika. Menurutnya, bidang tersebut menjadi salah satu kekuatan STT HKBP yang dikenal di Asia Tenggara.
Hal senada disampaikan Rismauli Hutagaol. Ia mengatakan bahwa kehidupan di STT HKBP membangun kebersamaan di tengah perbedaan cara pandang dan latar belakang. Para mahasiswa dari empat stambuk juga dapat saling mengenal dan membangun relasi.
Sementara itu, Mariska Sinaga mengaku memperoleh banyak pengetahuan teologi yang baru dan mendalam selama menjalani pendidikan. Pengetahuan tersebut dinilainya sangat berguna sebagai bekal untuk melanjutkan pelayanan di tengah masyarakat.
“Dengan akreditasi Unggul yang baru diraih STT HKBP, tentu hal itu membuat kami semakin percaya diri,” katanya. (hm27)


















































