Friday, October 9, 2026
home_banner_first
OTOMOTIF

Mobil Listrik Rp170 Jutaan Bisa Hemat Rp41 Juta dalam 5 Tahun? Ini Hitungannya

Mistar.idJumat, 9 Oktober 2026 pukul 20.06 WIB
mobil_listrik_rp170_jutaan_bisa_hemat_rp41_juta_dalam_5_tahun_ini_hitungannya

Mobil Listrik Rp170 Jutaan Bisa Hemat Rp41 Juta dalam 5 Tahun? (foto ilustrasi:wuling/gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (9/10/2026) — Mobil listrik Rp170 jutaan berpotensi menghemat biaya energi dan servis hingga Rp41,25 juta selama lima tahun dibandingkan mobil bensin. Namun, benarkah mobil listrik selalu lebih murah? Pajak, cicilan, biaya pengisian daya, dan harga jual kembali bisa mengubah hasil perhitungannya.

Dengan asumsi jarak tempuh 15.000 km per tahun, biaya listrik mobil listrik diperkirakan hanya Rp3,25 juta per tahun. Sementara itu, mobil bensin dengan konsumsi 15 km per liter membutuhkan sekitar Rp10 juta untuk bahan bakar dalam jarak yang sama.

Selisihnya mencapai Rp6,75 juta per tahun. Jika ditambah potensi penghematan servis, mobil listrik terlihat menjanjikan bagi konsumen yang mencari kendaraan harian dengan biaya operasional lebih rendah.

Namun, angka tersebut merupakan simulasi berdasarkan asumsi tertentu, bukan jaminan bahwa total biaya kepemilikan mobil listrik pasti lebih murah.

Biaya Listrik Mobil Listrik Lebih Murah dari Bensin?

Simulasi ini menggunakan konsumsi listrik 15 kWh per 100 km dan tarif listrik Rp1.444,70 per kWh. Dengan jarak tempuh 15.000 km per tahun, kebutuhan listrik mencapai 2.250 kWh.

Hasilnya, biaya pengisian diperkirakan sekitar Rp3,25 juta per tahun atau Rp16,25 juta selama lima tahun.

Sebagai pembanding, mobil bensin dengan konsumsi 15 km per liter membutuhkan sekitar 1.000 liter bahan bakar per tahun. Jika harga bensin diasumsikan Rp10.000 per liter, pengeluarannya mencapai Rp10 juta per tahun atau Rp50 juta selama lima tahun.

Dengan demikian, potensi penghematan energi mencapai sekitar Rp33,75 juta dalam lima tahun.

Tarif Rp1.444,70 per kWh berlaku untuk golongan pelanggan tertentu, termasuk rumah tangga 1.300 VA dan 2.200 VA pada periode Juli–September 2026. Tarif pelanggan dengan daya berbeda dapat lebih tinggi. Konsumsi aktual dan rugi-rugi pengisian juga bisa membuat biaya listrik berbeda dari simulasi.

Servis Mobil Listrik Bisa Lebih Hemat

Selain energi, biaya perawatan menjadi faktor yang membuat mobil listrik menarik. Kendaraan listrik tidak memerlukan penggantian oli mesin, busi, maupun perawatan sistem knalpot seperti mobil bensin.

Dalam simulasi, biaya servis mobil listrik diasumsikan Rp1,5 juta per tahun, sedangkan mobil bensin Rp3 juta per tahun. Selisihnya mencapai Rp1,5 juta per tahun atau Rp7,5 juta selama lima tahun.

Jika digabungkan dengan penghematan energi, potensi penghematan operasional mencapai Rp41,25 juta selama lima tahun.

Meski begitu, biaya servis aktual bergantung pada model kendaraan, jadwal perawatan, garansi, dan harga suku cadang. Pemilik mobil listrik tetap perlu memperhitungkan ban, rem, suspensi, serta komponen kelistrikan.

Angka Rp41,25 juta tersebut juga belum mencakup pajak, asuransi, biaya pemasangan pengisi daya rumah, dan depresiasi kendaraan.

Wuling Aira ev Dibanderol Mulai Rp155 Juta

Salah satu pilihan mobil listrik di kisaran harga tersebut adalah Wuling Aira ev, yang diluncurkan pada 29 Juli 2026 di ajang GIIAS 2026.

Mengutip informasi resmi Wuling, Aira ev tersedia dalam dua varian dengan harga OTR Jakarta Rp155 juta untuk Standard Range dan Rp175 juta untuk Long Range.

Wuling mengklaim jarak tempuh hingga 205 km untuk Standard Range dan 301 km untuk Long Range berdasarkan standar CLTC. Angka tersebut merupakan hasil pengujian, sehingga jarak tempuh dalam pemakaian sehari-hari bisa berbeda akibat kecepatan, penggunaan AC, beban penumpang, dan kondisi jalan.

Untuk perjalanan harian di perkotaan, jarak tempuh tersebut berpotensi mencukupi kebutuhan komuter. Namun, pengguna yang sering bepergian jauh tetap perlu merencanakan rute dan lokasi pengisian daya.

Pengisian di rumah juga menjadi keuntungan bagi pemilik yang memiliki parkir pribadi dan instalasi listrik memadai. Sebaliknya, pengguna yang bergantung pada stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) perlu memperhitungkan tarif pengisian dan waktu yang dibutuhkan.

Cicilan Mobil Listrik Rp170 Jutaan Sekitar Rp3,17 Juta per Bulan

Bagaimana jika mobil listrik dan mobil bensin sama-sama dibeli seharga Rp170 juta?

Dengan uang muka 20%, tenor lima tahun, dan bunga flat 8% per tahun, simulasi cicilan menghasilkan angsuran sekitar Rp3,17 juta per bulan.

Perhitungannya menggunakan uang muka Rp34 juta dan pokok pinjaman Rp136 juta. Total bunga selama lima tahun mencapai Rp54,4 juta, sehingga total angsuran menjadi Rp190,4 juta.

Angka tersebut hanya ilustrasi pembiayaan. Cicilan aktual dapat berbeda karena biaya administrasi, asuransi, promo, dan ketentuan leasing.

Jika harga kendaraan dan skema kredit dibuat identik, cicilan keduanya akan sama. Keunggulan mobil listrik dalam skenario ini terutama berasal dari potensi penghematan energi dan servis, bukan dari cicilan yang lebih rendah.

Pajak dan Harga Jual Kembali Bisa Mengubah Hasil

Penghematan operasional tidak otomatis membuat mobil listrik lebih hemat secara keseluruhan. Pajak kendaraan, premi asuransi, biaya pengisian daya, serta harga jual kembali perlu diperhitungkan sebelum mengambil keputusan.

Ketentuan pajak kendaraan listrik juga perlu diperiksa berdasarkan regulasi nasional dan kebijakan daerah yang berlaku. Konsumen sebaiknya tidak berasumsi bahwa seluruh mobil listrik otomatis bebas pajak di semua daerah.

Faktor lain yang penting adalah depresiasi. Harga jual kembali mobil listrik dapat dipengaruhi kondisi baterai, sisa garansi, perkembangan teknologi, dan permintaan pasar. Mobil bensin juga mengalami penurunan nilai yang dipengaruhi usia, kondisi, serta popularitas model.

Sebagai ilustrasi, jika penghematan energi dan servis mencapai Rp41,25 juta, tetapi nilai jual kembali mobil listrik Rp20 juta lebih rendah daripada mobil bensin pembanding, selisih keuntungan dari kedua komponen tersebut turun menjadi Rp21,25 juta sebelum biaya lainnya.

Angka itu hanya contoh perhitungan, bukan prediksi harga jual kembali. Perbandingan yang adil harus menggunakan kendaraan sekelas dengan usia, jarak tempuh, dan kondisi serupa.

Siapa yang Lebih Diuntungkan Membeli Mobil Listrik?

Mobil listrik Rp170 jutaan berpotensi lebih menarik bagi komuter perkotaan yang menempuh jarak rutin, memiliki akses pengisian di rumah, dan ingin menekan biaya energi harian.

Semakin tinggi jarak tempuh tahunan, semakin besar peluang penghematan energi, selama asumsi konsumsi dan harga energi tetap sebanding.

Sebaliknya, penghuni apartemen tanpa fasilitas pengisian pribadi perlu menghitung biaya dan waktu penggunaan SPKLU. Pengguna yang sering melakukan perjalanan jauh juga perlu mempertimbangkan ketersediaan infrastruktur pengisian di rute yang dilalui.

Pada akhirnya, perbandingan mobil listrik dan mobil bensin harus menggunakan total biaya kepemilikan atau total cost of ownership (TCO). Perhitungan ini mencakup harga beli, bunga kredit, energi, servis, pajak, asuransi, biaya pengisian, dan nilai jual kembali.

Kesimpulannya, mobil listrik Rp170 jutaan berpotensi menghemat sekitar Rp41,25 juta untuk energi dan servis selama lima tahun berdasarkan simulasi ini. Namun, belum dapat dipastikan bahwa mobil listrik selalu lebih hemat secara total. Hasil akhirnya bergantung pada pola penggunaan, akses pengisian daya, biaya kepemilikan, dan nilai jual kembali kendaraan.

(wulingmotors/hondaindonesia/ptpln/djp/antara/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN