Mobil Listrik Makin Laris di Australia, Penjualan Mobil Bensin Turun 36 Persen

Mobil Listrik Makin Laris di Australia, Penjualan Mobil Bensin Turun 36 Persen. (foto ilustrasi:gemini/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (8/10/2026) — Pasar otomotif Australia sedang berubah cepat. Penjualan mobil listrik melonjak 117,7 persen, sementara mobil bensin terjun 36,2 persen dalam setahun. EV bahkan kembali mengungguli mobil bensin untuk dua bulan berturut-turut.
Australia mulai memasuki fase baru dalam persaingan otomotif. Pada September 2026, sebanyak 26.287 mobil listrik berbasis baterai (BEV) terjual di Australia, melonjak 117,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebaliknya, penjualan mobil bensin anjlok 36,2 persen menjadi 26.018 unit, sedangkan diesel turun 18,4 persen menjadi 25.173 unit.
Hasilnya cukup mencolok: EV mengambil 24,2 persen pasar mobil baru Australia, lebih dari dua kali lipat dibandingkan pangsa sekitar 11,3 persen pada September 2025. Bahkan, untuk kedua kalinya secara beruntun, penjualan BEV melampaui mobil bensin.
Perubahan ini menarik karena pasar mobil Australia secara keseluruhan tidak tumbuh sedramatis EV. Total penjualan kendaraan baru hanya meningkat sekitar 1,8 persen secara tahunan menjadi 108.778 unit.
Artinya, yang terjadi bukan sekadar pasar mobil bertambah besar. Konsumen Australia sedang mengubah jenis mobil yang mereka pilih.
Bukan Lagi Sekadar Tren, EV Mulai Mengambil Pasar Mobil Bensin
Angka September memperlihatkan semakin jelas bahwa pertumbuhan kendaraan listrik mulai bersifat substitutif.
Ketika penjualan EV melonjak lebih dari dua kali lipat, penjualan mobil bensin justru merosot lebih dari sepertiga. Pada saat yang sama, diesel juga mengalami penurunan.
Namun, transisi tersebut belum berarti mobil bermesin pembakaran internal langsung ditinggalkan. Secara kumulatif hingga September, EV baru menguasai 18,9 persen pasar, sementara bensin masih 28,2 persen dan diesel 24,3 persen.
Jadi, Australia belum sepenuhnya menjadi pasar mobil listrik. Tetapi arah perubahannya semakin sulit diabaikan.
Yang lebih menarik, jika BEV, plug-in hybrid (PHEV), dan hybrid konvensional digabung, kendaraan elektrifikasi mendekati setengah dari seluruh penjualan mobil baru pada September. PHEV sendiri melonjak 122,7 persen menjadi 10.072 unit, sedangkan hybrid naik 20,7 persen menjadi 17.843 unit.
Dengan kata lain, konsumen Australia tidak hanya beralih ke satu jenis teknologi. Mereka semakin terbuka terhadap berbagai pilihan elektrifikasi.
Tesla Tak Lagi Sendirian, BYD dan Merek China Menekan
Perubahan pasar Australia juga memperlihatkan pergeseran kekuatan antar-merek.
BYD mencatat 8.191 penjualan pada September dan menempati posisi kedua di antara merek otomotif, hanya di bawah Toyota yang memiliki catatan 17.682 penjualan. Penjualannya meningkat 61,1 persen secara tahunan. Tesla berada di posisi berikutnya dengan 5.654 unit, naik 21,3 persen.
Tesla tetap menjadi pemain penting. Model Y—termasuk Model Y L— terjual 4.476 unitdan menempati posisi ketiga secara keseluruhan di Australia pada September, hanya di belakang Ford Ranger dan Toyota RAV4.
Namun, kisah yang lebih besar justru terletak pada banyaknya pemain baru.
Geely mencatat pertumbuhan penjualan sekitar 870 persen secara tahunan, sementara Zeekr juga mencatat pertumbuhan lebih dari 1.600 persen. BYD, GWM, MG, dan Geely semuanya masuk jajaran 10 besar merek berdasarkan penjualan September.
Persaingan EV Australia pun semakin jauh dari gambaran lama tentang Tesla melawan produsen mobil tradisional.
Kini konsumen memiliki lebih banyak pilihan dari Tesla, BYD, Geely, Zeekr, GWM, MG, Hyundai, Kia hingga merek Jepang dan Eropa.
China Makin Kuat di Pasar Australia
Kekuatan merek China berjalan beriringan dengan meningkatnya dominasi kendaraan buatan China.
Pada September, kendaraan yang diproduksi di China menyumbang 35,5 persen penjualan kendaraan baru dalam data VFACTS, mengungguli Jepang yang berada di 22,5 persen dan Thailand 17,3 persen.
Fakta ini penting karena menunjukkan bahwa perubahan pasar Australia bukan hanya mengenai teknologi baterai.
Peta rantai pasok dan persaingan manufaktur otomotif juga ikut berubah.
Salah satu buktinya terlihat dari daftar mobil terlaris. Selain Tesla Model Y, BYD Sealion 7 terjual 2.687 unit, sedangkan Geely EX5 mencapai 2.008 unit dan masuk jajaran mobil dengan penjualan tertinggi di Australia pada September.
Masuknya pemain China juga memperluas pilihan EV dan SUV pada berbagai rentang harga. Bagi konsumen, kompetisi tersebut berarti semakin banyak produk yang bisa dibandingkan berdasarkan harga, fitur, jarak tempuh, teknologi, dan biaya penggunaan.
Hampir Separuh Mobil Baru Sudah Elektrifikasi
Ada satu angka yang menunjukkan betapa cepat perubahan tersebut berlangsung.
Jika mobil listrik murni, PHEV, dan hybrid konvensional digabung, kendaraan elektrifikasi menyumbang sekitar 49,8 persen penjualan mobil baru pada September.
Artinya, kira-kira satu dari setiap dua mobil baru yang terjual sudah menggunakan teknologi elektrifikasi dalam satu bentuk atau lainnya.
Ini memperlihatkan bahwa perubahan konsumen tidak harus selalu berupa lompatan langsung dari bensin ke BEV.
Sebagian konsumen dapat memilih hybrid. Sebagian beralih ke PHEV. Sebagian lainnya langsung menggunakan mobil listrik penuh.
Yang berubah terlebih dahulu adalah preferensinya terhadap teknologi penggerak yang lebih efisien dan beragam.
Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?
Perkembangan Australia menjadi menarik bagi Indonesia bukan karena kedua pasar memiliki kondisi yang sama. Keduanya justru sangat berbeda dari sisi geografis, daya beli, infrastruktur, kebijakan, dan pola penggunaan kendaraan.
Namun, Australia memberikan satu pelajaran penting:
Ketika EV semakin kompetitif, konsumen tidak harus membeli mobil listrik hanya karena alasan lingkungan.
Mereka akan mempertimbangkan hal yang lebih praktis: harga, jarak tempuh, biaya energi, fitur, kenyamanan, layanan purnajual, ketersediaan pengisian daya, hingga nilai jual kembali.
Ketika semakin banyak produk mampu menjawab kebutuhan tersebut, EV mulai bersaing langsung dengan mobil bensin dan diesel.
Inilah yang membuat perkembangan Australia relevan untuk diamati Indonesia.
Perang EV Bisa Mengubah Peta Industri Otomotif
Pertumbuhan EV juga mengubah siapa yang memiliki keunggulan di pasar otomotif.
Di era mobil bensin, keunggulan produsen sangat erat dengan pengalaman membuat mesin, transmisi, jaringan pemasok, dan skala produksi kendaraan konvensional.
Dalam era EV, kompetisi semakin bergeser ke baterai, efisiensi motor listrik, software, teknologi digital, sistem bantuan pengemudi, serta kemampuan manufaktur baterai dan kendaraan dalam skala besar.
Perubahan tersebut membuka ruang bagi pemain baru untuk masuk dan berkembang lebih cepat.
Kisah BYD, Geely, Zeekr dan merek China lainnya di Australia memperlihatkan bagaimana elektrifikasi dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk mengubah struktur persaingan otomotif.
Australia Memberi Sinyal, Bukan Ramalan untuk Indonesia
Meski pertumbuhan EV Australia sangat cepat, tidak tepat jika kondisi tersebut langsung dianggap sebagai gambaran pasti masa depan Indonesia.
Namun ada sinyal yang layak diperhatikan.
Ketika harga semakin kompetitif, pilihan model semakin banyak, teknologi semakin matang, dan konsumen semakin terbiasa dengan kendaraan elektrifikasi, perubahan preferensi dapat berlangsung jauh lebih cepat daripada pertumbuhan pasar secara keseluruhan.
Australia menunjukkan proses tersebut secara nyata.
Pada September 2026, pasar mobil baru hampir tidak tumbuh, tetapi komposisi di dalamnya berubah drastis: EV melonjak, bensin anjlok, diesel tertekan, sementara hybrid dan PHEV ikut tumbuh.
Jadi, pertanyaan yang lebih menarik bukan lagi apakah mobil listrik akan hadir di pasar massal.
Pertanyaannya adalah seberapa cepat konsumen mulai menganggap EV sebagai pilihan mobil yang normal—dan bukan lagi sekadar alternatif.
(carexpert/autotalkaustralia/whichcar/carsales/goauto/*/hm27)
















































