Dari Teheran ke Lebanon: Strategi Menuju Greater Israel?

Ilustrasi. (Foto: AI/Mistar)
Oleh: Anwar Suheri Pane
Presiden Donald Trump kini berada dalam posisi yang tidak mudah. Operasi militer yang semula diproyeksikan sebagai serangan cepat dan menentukan terhadap Iran justru berkembang menjadi konflik berkepanjangan yang semakin sulit dikendalikan.
Serangan gabungan Amerika Serikat-Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026 yang dikenal sebagai “Operation Lion’s Roar” dan kemudian dielu-elukan sebagai “Epic Fury” awalnya dipasarkan sebagai demonstrasi kekuatan. Narasi kemenangan cepat disebarluaskan, seolah-olah Iran akan lumpuh dalam hitungan hari.
Namun, realitas di lapangan berkata lain.
Alih-alih melemah, Iran justru menunjukkan kapasitas adaptasi yang signifikan. Serangan balasan tidak lagi bersifat sporadis, melainkan semakin terstruktur dan menyasar titik-titik strategis, termasuk fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Israel sendiri juga dilaporkan mengalami tekanan dari serangan balasan Iran, meski tidak sepenuhnya diakui secara resmi oleh pemerintahan Benjamin Netanyahu. Ambisi untuk memperkuat posisi sebagai kekuatan dominan di Timur Tengah dinilai membuat pemerintah Israel mengesampingkan dampak terhadap warganya sendiri. Sejumlah protes warga juga dilaporkan mulai mencuat di dalam negeri.
Konflik dengan Iran kini telah bergeser dari sekadar aksi militer menjadi perang ketahanan di mana logistik, ekonomi, dan daya tahan politik menjadi faktor penentu.
Amerika Serikat, dengan segala superioritas militernya, mulai merasakan tekanan tersebut. Biaya perang yang membengkak, meningkatnya beban sistem pertahanan udara, serta kerentanan terhadap serangan balasan menjadi indikator bahwa konflik ini jauh dari skenario awal yang direncanakan.
Di saat yang sama, Israel yang awalnya diposisikan sebagai mitra dalam operasi di Iran, kini tampak menjalankan agenda militernya sendiri.
Operasi di Lebanon Selatan terus berlanjut dan dilaporkan menimbulkan ribuan korban jiwa serta gelombang pengungsian yang meluas. Di Tepi Barat, ketegangan juga meningkat, memperlihatkan pola yang konsisten: ekspansi tekanan militer di berbagai front secara simultan.
Pertanyaan kunci pun muncul: apakah konflik dengan Iran semata-mata didorong oleh faktor keamanan, atau terdapat tujuan strategis yang lebih luas?
Sejumlah pengamat melihat adanya kemungkinan bahwa eskalasi ini dimanfaatkan untuk mengalihkan perhatian internasional sekaligus membuka ruang bagi perubahan peta kekuasaan di kawasan. Dalam logika geopolitik, perang tidak hanya soal menang atau kalah di medan tempur, tetapi juga tentang menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi agenda jangka panjang.
Jeffrey Sachs, pakar kebijakan publik asal Amerika Serikat, menilai bahwa motivasi Israel tidak semata terkait pertahanan diri atau ancaman nuklir Iran. Ia melihat adanya dorongan untuk memastikan dominasi strategis di kawasan Timur Tengah.
Dalam kerangka tersebut, sebagian analisis mengaitkannya dengan gagasan Greater Israel sebuah konsep yang kerap diperdebatkan dan sering muncul dalam diskursus geopolitik terkait arah kebijakan jangka panjang Israel.
Di sisi lain, Iran selama ini dipandang sebagai salah satu aktor utama yang secara konsisten menantang posisi Israel di kawasan. Selain keterlibatan langsung, Iran juga memiliki jaringan aliansi regional, termasuk Houthi di Yaman, Hezbollah di Lebanon, serta Hamas di Palestina.
Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik yang berlangsung bukan sekadar pertarungan dua negara, melainkan bagian dari dinamika kekuatan yang lebih luas melibatkan aliansi, kepentingan regional, serta pertarungan pengaruh yang telah berlangsung lama.
Jika ditarik lebih jauh, eskalasi yang terjadi hari ini sulit dilepaskan dari arah kebijakan pemerintahan Benjamin Netanyahu yang sejak awal menempatkan isu keamanan sebagai justifikasi utama bagi langkah-langkah militer yang lebih agresif.
Dalam praktiknya, pendekatan ini tidak hanya bersifat defensif, tetapi juga ofensif dengan memperluas ruang operasi militer ke berbagai wilayah yang dinilai memiliki nilai strategis. Lebanon Selatan dan Tepi Barat menjadi contoh paling nyata bagaimana tekanan militer terus ditingkatkan di luar konteks konflik langsung dengan Iran.
Di titik inilah, narasi keamanan mulai beririsan dengan ambisi geopolitik.
Konsep Greater Israel meskipun tidak selalu diakui secara resmi kerap menjadi lensa untuk membaca arah kebijakan jangka panjang tersebut. Dalam perspektif ini, konflik tidak lagi semata bertujuan menetralisir ancaman, tetapi juga menciptakan kondisi yang memungkinkan perluasan pengaruh, baik secara militer maupun politik.
Keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran menjadi faktor krusial. Ketika perhatian global tersedot pada eskalasi besar antara dua kekuatan tersebut, dinamika di wilayah lain berpotensi luput dari sorotan internasional. Situasi ini membuka ruang yang lebih leluasa bagi Israel untuk mengintensifkan operasinya di kawasan yang selama ini menjadi titik sengketa.
Lebih jauh, pendekatan multi-front dari Iran, Lebanon Selatan, hingga Tepi Barat mengindikasikan adanya strategi yang terintegrasi. Tekanan simultan di berbagai wilayah tidak hanya melemahkan lawan secara kolektif, tetapi juga berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan secara fundamental.
Pernyataan-pernyataan Benjamin Netanyahu di masa lalu, ditambah dengan ekspansi operasi militer IDF di Lebanon Selatan, memperkuat dugaan bahwa perang terhadap Iran bukan sekadar respons keamanan. Arah kebijakan ini menunjukkan indikasi kuat menuju agenda yang lebih besar yakni realisasi konsep Greater Israel, yang secara eksplisit pernah ia akui sebagai bagian dari visi historisnya.
Dalam konteks itu, perang terhadap Iran tidak lagi dapat dilihat semata sebagai respons terhadap ancaman, melainkan sebagai bagian dari dinamika yang lebih besar di mana kepentingan keamanan, strategi regional, dan ambisi geopolitik saling bertaut erat. **
PREVIOUS ARTICLE
Ketika Kabar Perang Dunia Sampai ke Tangki KendaraanNEXT ARTICLE
Dampak Ekonomi Perang Iran vs AS-IsraelBERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



















