Mengulang Skema Final Piala Tiger 2002, Kini Garuda Juara

Timnas Indonesia merayakan keberhasilan menjadi juara FIFA ASEAN Cup 2026. Kemenangan ini menjadi penutup penantian panjang Skuad Garuda setelah kegagalan di final Piala Tiger 2002. (foto: BOLA dan PSSI diolah menggunakan Artificial Intelligence/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Pada 29 Desember 2002 silam, Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) menjadi saksi harapan sekaligus luka bagi Timnas Indonesia. Bermain di hadapan publik sendiri, Skuad Garuda gagal mengangkat trofi Piala Tiger 2002 setelah kembali takluk dari Tailan melalui drama adu penalti.
Kala itu, Skuad Garuda yang dinakhodai pelatih asal Bulgaria, Ivan Kolev, melaju ke partai puncak Piala Tiger 2002 dengan asa menjadi juara untuk pertama kalinya di ajang yang kemudian dikenal sebagai cikal bakal Piala AFF.
Timnas Indonesia yang diperkuat nama-nama seperti Budi Sudarsono, Bambang Pamungkas hingga Gendut Doni tampil percaya diri di hadapan publik sendiri. Sementara Tailan masih mengandalkan legendanya, Kiatisuk Senamuang, di bawah asuhan pelatih Peter Withe.
Membawa misi balas dendam setelah kekalahan pada Piala Tiger 2000, Timnas Indonesia kembali harus menerima kenyataan pahit di partai final. Indonesia mengakui ketangguhan skuad Gajah Perang setelah kalah 2-4 dalam adu penalti.
Indonesia sempat tertinggal 0-2 setelah Chukiat Noosarung mencetak gol pada menit ke-26 dan Therdsak Chaiman pada menit ke-38. Namun asa kembali muncul setelah Yaris Riyadi dan Gendut Doni membuat kedudukan menjadi imbang.
Peluang Indonesia semakin terbuka setelah salah seorang pemain Tailan, Chukiat Noosarung, diusir wasit dengan kartu merah. Namun, keunggulan jumlah pemain tak mampu dimanfaatkan BP muda dan kawan-kawan untuk mengalahkan Tailan.
Pertandingan akhirnya harus ditentukan melalui adu penalti.
Empat eksekutor Tailan, yakni Kiatisuk Senamuang, Sakda Joemdee, Therdsak Chaiman dan Manit Noywech, sukses menjalankan tugasnya. Sementara dari kubu Indonesia hanya dua eksekutor yang mampu mencetak gol.
Tailan pun keluar sebagai juara Piala Tiger 2002.
Bambang Pamungkas setidaknya membawa pulang penghargaan individu. Penyerang yang kala itu masih berusia 22 tahun tersebut menjadi top skor Piala Tiger 2002 dengan koleksi delapan gol.
Skema Terulang, Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Berselang 24 tahun, 5 Oktober 2026 malam, SUGBK kembali menjadi saksi persaingan Indonesia dan Tailan dalam perebutan gelar juara Asia Tenggara.
Kali ini, turnamen yang disebut lebih bergengsi, FIFA ASEAN Cup 2026, mempertemukan kedua negara di partai puncak.
Bayangan kegagalan pada 2000, 2002, 2004, 2010, 2016 dan 2020 kembali menghantui para pecinta Skuad Garuda. Indonesia yang kini dinakhodai John Herdman pun datang dengan beban untuk memutus kutukan panjang sebagai runner-up.
Tampil dengan skuad terbaik, Indonesia dan Tailan bermain sama kuat pada 45 menit pertama. Hingga turun minum, skor masih 0-0.
Adu tajam Ole Romeny dan Chanathip Songkrasin juga belum terlihat pada babak pertama.
Pertandingan semakin menegangkan ketika Tailan harus bermain dengan 10 pemain. Nicholas Mickelson diganjar kartu merah pada menit ke-81 setelah dinilai menarik baju Ole Romeny. Indonesia pun mendapatkan tendangan bebas.
Empat menit berselang, skema tendangan bebas Dean James akhirnya memecah kebuntuan. Bola hasil tendangan Dean mengalami defleksi setelah mengenai Iklas Sanron sehingga arahnya berubah dan masuk ke gawang Tailan.
Namun keunggulan Indonesia hanya bertahan tiga menit. Iklas Sanron berhasil menyamakan kedudukan meski Tailan bermain dengan 10 orang.
Skor 1-1 membuat pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu 2x15 menit.
Tailan kemudian berhasil membalikkan keadaan melalui Peeradol Chamrasamee lewat skema serangan balik. Ratusan juta pasang mata pendukung Skuad Garuda sontak terdiam melihat Gajah Perang unggul 2-1 di penghujung pertandingan.
Namun, ketika kemenangan Tailan seolah sudah di depan mata, Indonesia mendapatkan nyawa kedua.
Elkan Baggott mencetak gol pada menit ke-116 untuk menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
Penentuan juara kembali harus dilakukan melalui adu penalti.
John Herdman mempercayakan tugas sebagai algojo kepada Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott dan Shayne Pattynama. Keempatnya sukses menjalankan tugas.
Sebaliknya, dua dari empat eksekutor Tailan, Sarach Yooyen dan Nattapong Sayriya, gagal mencetak gol. Tendangan Yooyen membentur tiang, sedangkan sepakan Nattapong berhasil ditepis Emil Audero Mulyadi.
Indonesia akhirnya keluar sebagai juara edisi perdana FIFA ASEAN Cup 2026 setelah menang 4-2 melalui adu penalti atas Tailan.
Kebanggaan itu semakin lengkap setelah penyerang Indonesia berusia 19 tahun, Mitchell Baker, menjadi pencetak gol terbanyak turnamen dengan koleksi lima gol.
Setelah penantian panjang selama 35 tahun tanpa gelar juara di level senior, malam itu Skuad Garuda akhirnya mengakhiri dahaga tersebut.
Nama-nama pelatih seperti Ivan Kolev, Peter Withe, Alfred Riedl, Shin Tae Yong dan lainnya menjadi bagian dari perjalanan panjang Timnas Indonesia dalam mengejar gelar di Asia Tenggara.
Apa yang terjadi di SUGBK pada 2002 seakan kembali terulang pada 2026. Indonesia kembali bertemu Tailan di partai final, pertandingan kembali harus ditentukan melalui adu penalti, tetapi kali ini cerita akhirnya berbeda.
Jika pada 2002 SUGBK menjadi saksi kekecewaan, 24 tahun kemudian stadion yang sama menjadi saksi lahirnya sejarah baru Skuad Garuda. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Preview Kroasia vs Spanyol: Menghadang Badai Kedua?

















































