Kejar Hattrick US Open, Sabalenka Hadapi Ujian Terberat

Aryna Sabalenka beraksi bersama Novak Djokovic pada babak 16 besar ganda campuran US Open 2026 di Flushing Meadows, New York, Selasa (25/8/2026). (foto; Reuters/Eduardo Munoz via CNA)
New York, MISTAR.ID - Aryna Sabalenka menghadapi dua pertaruhan besar saat turun di nomor tunggal US Open 2026. Selain memburu gelar ketiga berturut-turut di Flushing Meadows, petenis Belarus itu juga harus mempertahankan statusnya sebagai peringkat satu dunia.
Sabalenka berpeluang menjadi petenis putri pertama sejak Serena Williams yang mampu menjuarai US Open tiga tahun secara beruntun. Serena terakhir melakukannya pada periode 2012 hingga 2014.
Dominasi Sabalenka di New York dibangun lewat permainan bertenaga dan presisi. Namun, perjalanan menuju gelar ketiga kali ini tidak terlihat semulus dua musim sebelumnya.
Petenis berusia 28 tahun tersebut mengawali musim dengan meyakinkan setelah menjuarai turnamen lapangan keras di Brisbane, Indian Wells, dan Miami. Namun, momentumnya kemudian menurun.
Sejak April, Sabalenka mencatat 17 kemenangan dan tujuh kekalahan, menunjukkan penurunan konsistensi menjelang Grand Slam terakhir tahun ini.
Persiapannya menuju nomor tunggal US Open juga mendapat pukulan setelah tersingkir pada babak 16 besar Cincinnati Open. Sabalenka dikalahkan petenis Ceko Sara Bejlek.
Di tengah tren tersebut, Sabalenka menyadari status sebagai pemain nomor satu dunia membuat setiap lawan semakin termotivasi untuk menumbangkannya.
“Semua orang ingin mengalahkan Anda,” kata Sabalenka menjelang Cincinnati Open.
Namun, tekanan tersebut tidak membuatnya gentar. Sabalenka bahkan mengaku menikmati posisinya sebagai pemain yang menjadi sasaran utama rival-rivalnya.
“Saya suka menjadi target,” ujarnya.
Sabalenka mengatakan peringkat bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Fokus utamanya adalah terus berkembang, baik sebagai petenis maupun sebagai pribadi. Ia juga senang melihat pemain generasi muda menjadikannya sebagai inspirasi.
Meski demikian, posisi Sabalenka di puncak peringkat WTA memang sedang dalam ancaman. Juara Australian Open 2026 Elena Rybakina terus memangkas jarak dan memiliki peluang mengambil alih peringkat satu selepas US Open.
WTA mencatat Sabalenka membawa 2.000 poin dari gelar US Open tahun lalu yang harus dipertahankan. Rybakina menjadi salah satu dari tiga pemain yang secara matematis berpeluang mengambil posisi puncak darinya.
Situasi tersebut membuat setiap hasil di New York memiliki konsekuensi besar, bukan hanya terhadap upaya Sabalenka mencetak sejarah, tetapi juga dalam persaingan peringkat dunia.
Mantan petenis peringkat empat dunia sekaligus komentator ESPN Mary Joe Fernandez menilai pertahanan gelar Sabalenka kali ini tidak berada dalam kondisi ideal.
Fernandez menyoroti Sabalenka yang belum kembali mencapai final setelah kesuksesannya di Indian Wells dan Miami. Ia juga melihat Sabalenka beberapa kali kesulitan memenangi poin-poin penting dan kehilangan keunggulan dalam pertandingan.
“Dia rentan,” kata Fernandez.
Sorotan lebih tajam datang dari analis tenis Rick Macci, yang pernah melatih Serena Williams pada awal 1990-an. Menurutnya, persoalan terbesar Sabalenka menjelang US Open bukan semata-mata berasal dari rival.
“Saat ini Sabalenka bersaing melawan dirinya sendiri,” kata Macci.
Macci menilai persoalan kepercayaan diri bisa memainkan peran besar dalam perjalanan Sabalenka di Flushing Meadows. Ia bahkan menyebut persaingan tunggal putri tahun ini sangat terbuka, dengan sekitar 15 pemain memiliki peluang untuk menjadi juara. (Reuters/CNA)





















