Newsroom: Sambut Ramadan, Lasima Tetap Setia Berdagang Pangir Sejak Gadis

Newsroom: Sambut Ramadan, Lasima Tetap Setia Berdagang Pangir Sejak Gadis
Newsroom: Sambut Ramadan, Lasima Tetap Setia Berdagang Pangir Sejak Gadis
Medan, MISTAR.ID
Sehari menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, suasana Pasar Sukaramai, Kota Medan, Sumatera Utara, Rabu (18/2/2026), mulai terasa berbeda. Di salah satu sudut persimpangan pasar, seorang perempuan lanjut usia tampak setia menunggu pembeli.
Dialah Lasima Siregar, 67 tahun. Sejak masih gadis hingga kini, ia tetap menjajakan pangir—ramuan mandi tradisional berbahan rempah. Namun, dagangan ini hanya ia jual secara musiman, terutama saat memasuki bulan suci Ramadan.
Sehari-hari, Lasima mencari tambahan penghasilan dengan berjualan barang pecah belah untuk kebutuhan rumah tangga. Menjelang Ramadan, pangir selalu menjadi salah satu buruan umat Islam yang bersiap menjalankan ibadah puasa.
Tampak penjual dan pembeli bertransaksi seperti biasa. Warga yang membeli pangir umumnya para pengguna jalan yang melintas maupun pengunjung yang tengah berbelanja kebutuhan pokok di pasar.
Tradisi mandi menggunakan rempah-rempah ini masih bertahan hingga kini. Bagi sebagian masyarakat, pangir bukan sekadar untuk membersihkan tubuh, tetapi juga menjadi simbol penyucian lahir dan batin sebelum memasuki bulan penuh berkah.
Bahan pangir sepenuhnya alami, tanpa campuran bahan kimia. Rempah-rempahnya mudah ditemukan di lingkungan sekitar, di antaranya daun pandan wangi, jeruk purut, sereh wangi, daun nilam, mayang pinang, serta berbagai jenis akar-akaran.
Aroma jeruk purut dan sereh memberikan sensasi segar, sementara pandan dan nilam menghadirkan wangi lembut yang menenangkan.
Cara penggunaannya pun sederhana. Pangir direndam atau diremas dalam air yang telah dididihkan, lalu dicampur dengan air biasa hingga hangat. Setelah itu, air rempah tersebut digunakan untuk mandi.
Di tengah arus modernisasi, Lasima tetap menjaga tradisi. Pangir yang ia jual bukan sekadar dagangan, melainkan warisan budaya yang terus hidup, menyambut Ramadan dengan keharuman alami dan makna penyucian diri. (hm21).























