Tuesday, June 23, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Waspada! Modus Penipuan Berkedok Nonton Drama China Kian Marak, Ribuan Korban Terjerat

Mistar.idSelasa, 23 Juni 2026 pukul 06.30 WIB
waspada_modus_penipuan_berkedok_nonton_drama_china_kian_marak_ribuan_korban_terjerat

Ilustrasi, Modus Penipuan Berkedok Nonton Drama China Kian Marak, Ribuan Korban Terjerat. (foto:ferry/gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (23/6/2026) - Fenomena penipuan digital kembali menunjukkan wajah barunya. Kali ini, pelaku memanfaatkan tren populer—streaming drama China—sebagai pintu masuk untuk menjerat korban. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mengeluarkan peringatan serius kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap modus yang kian canggih dan sulit dikenali.

Lonjakan Kasus: Ribuan Pengaduan dalam Waktu Singkat

Sepanjang periode 1 Januari hingga 20 Mei 2026, OJK mencatat 17.105 pengaduan terkait entitas ilegal. Angka ini menunjukkan eskalasi signifikan dalam aktivitas kejahatan keuangan digital.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK, Dicky Kartikoyono, mengungkapkan bahwa pelaku kini semakin adaptif dalam memanfaatkan kebiasaan digital masyarakat, termasuk melalui platform hiburan online.

Sebagai respons cepat, Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) telah menghentikan 951 pinjaman online ilegal, menindak 8 penawaran investasi ilegal, dan menghentikan 1 aktivitas keuangan ilegal lainnya.

Modus Baru: Dari Hiburan ke Jerat Finansial

Yang membuat modus ini berbahaya adalah pendekatannya yang tampak “normal”. Aktivitas sederhana seperti menonton drama berubah menjadi skema penipuan berlapis.

Beberapa pola yang teridentifikasi antara lain:

1. Tugas Menonton Berbayar

Korban diminta menonton drama China dan dijanjikan komisi. Awalnya korban benar-benar dibayar, namun kemudian diminta menyetor dana lebih besar untuk “level berikutnya”.

2. Investasi Hak Cipta Fiktif

Pelaku menawarkan pembelian lisensi film dengan janji keuntungan besar, padahal proyek tersebut tidak pernah ada.

3. Copy Trading Kripto Palsu

Korban diarahkan mengikuti transaksi “trader profesional” di platform yang sebenarnya dikendalikan pelaku.

4. Penyamaran (Impersonation)

Pelaku menyamar sebagai pihak resmi atau figur terpercaya untuk meyakinkan korban.

5. Skema Komisi E-commerce

Korban diminta melakukan transaksi palsu demi meningkatkan rating toko, dengan iming-iming komisi yang tidak pernah terealisasi.

Kenapa Drama China Jadi Sasaran? Ini Faktanya

Ada alasan kuat di balik pemilihan modus ini, antara lain karena bebasis penonton besar dan loyal, banyak platform streaming tidak terverifikasi, pengguna cenderung lengah saat mencari hiburan, serta situs ilegal rentan disusupi malware dan skema penipuan.

Pelaku memanfaatkan kondisi psikologis pengguna yang sedang santai, sehingga lebih mudah dipengaruhi tanpa kecurigaan.

Ancaman Nyata di Balik Kemajuan Teknologi

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Fauzi Amro, menyoroti bahwa pesatnya digitalisasi sektor keuangan membawa dua sisi yang berlawanan.

Di satu sisi, teknologi mempermudah akses layanan keuangan. Namun di sisi lain, celah penyalahgunaan juga semakin terbuka lebar.

Menurutnya, ada tiga kunci utama untuk menghadapi ancaman ini, yang pertama peningkatan literasi keuangan, kedua perluasan inklusi keuangan, dan ketiga melakukan penguatan sistem teknologi informasi.

Tanpa ketiganya berjalan beriringan, masyarakat akan terus menjadi target empuk kejahatan digital.

Cara Menghindari Jerat Penipuan Digital

Agar tidak menjadi korban, masyarakat perlu lebih kritis dan waspada. Beberapa langkah penting yang bisa dilakukan:

- Hindari tawaran penghasilan instan dari aktivitas sederhana

- Jangan pernah melakukan deposit awal tanpa verifikasi jelas

- Selalu cek legalitas platform melalui OJK

- Waspadai pihak yang mengaku dari institusi resmi

- Jangan mudah tergiur iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat

Saat Hiburan Tak Lagi Aman

Kasus ini menjadi pengingat bahwa penipuan digital kini telah bertransformasi menjadi lebih halus dan terintegrasi dalam aktivitas sehari-hari. Bahkan hiburan sekalipun tidak lagi sepenuhnya aman.

Di era digital, kewaspadaan bukan lagi pilihan—melainkan kebutuhan. Semakin canggih teknologi, semakin penting pula kemampuan masyarakat untuk memahami risiko di baliknya.

(berbagaisumber/ai/hm27)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN