Banjir Kendari Meluas, 797 Rumah Terendam dan 3.517 Warga Terdampak

Rumah warga terdampak banjir di Kelurahan Lepo Lepo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari mengevakuasi sejumlah barang yang hanyut dari dalam rumahnya(Foto: Kompas)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Banjir yang melanda Kota Kendari terus meluas. Hingga Senin (11/5/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari mencatat sebanyak 797 unit rumah terendam dan 3.517 jiwa terdampak di tujuh kecamatan.
Jumlah tersebut meningkat dibanding data sebelumnya pada Sabtu hingga Minggu, yang mencatat 657 rumah terendam dengan 2.985 warga terdampak banjir.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Kendari, Cornelius Padang mengatakan proses pendataan masih berlangsung sehingga jumlah korban maupun wilayah terdampak masih berpotensi bertambah.
“Tim masih terus melakukan identifikasi dan verifikasi di lapangan sehingga data masih bersifat sementara,” ujarnya, Senin.
Berdasarkan data BPBD, wilayah dengan dampak paling besar berada di Kecamatan Kambu. Di Jalan Mangkerey tercatat sekitar 100 rumah terdampak dengan total 900 jiwa. Sementara di Lorong Hidayatullah, sebanyak 76 rumah dengan sekitar 300 jiwa ikut terdampak banjir.
Di Kecamatan Poasia, Kelurahan Anduonohu menjadi salah satu titik dengan genangan cukup luas. Sebanyak 85 rumah yang dihuni 225 warga terdampak banjir di kawasan tersebut.
Sementara itu, di Kecamatan Baruga, Kelurahan Lepo-Lepo menjadi wilayah dengan dampak cukup parah. Pada RT 03 tercatat 69 rumah dengan 224 jiwa terdampak, sedangkan di RT 14 sebanyak 34 rumah dengan 176 jiwa ikut terendam.
Banjir juga dilaporkan melanda sejumlah wilayah lain seperti Kecamatan Abeli, Kadia, dan Wuawua.
Meski sebagian genangan mulai surut, ratusan warga di Kelurahan Lepo-Lepo masih bertahan di lokasi pengungsian. Warga mengungsi di masjid, tenda darurat, hingga rumah kerabat yang tidak terdampak banjir.
Salah seorang warga terdampak, Uni Nasra mengaku banjir tahun ini lebih besar dibanding kejadian pada 2025 lalu. Menurutnya, air naik sangat cepat hingga mencapai ketinggian sekitar satu sampai satu setengah meter.
Ia menyebut banyak barang elektronik miliknya tidak sempat diselamatkan akibat derasnya banjir.
Selain itu, warga pengungsi kini sangat membutuhkan bantuan bahan pokok. Menurut Nasra, sebagian warga lebih membutuhkan sembako mentah dibanding makanan siap saji dari dapur umum karena harus mencukupi kebutuhan seluruh anggota keluarga.
BPBD bersama pemerintah daerah saat ini masih melakukan pemantauan dan penanganan terhadap warga terdampak sambil menunggu kondisi cuaca membaik.
























