Ramadan ke-19: Antusiasme Belanja Kue Kering di Medan Meningkat

Situasi toko kue di UD Bunda Ida. (foto:amita/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Memasuki hari ke-19 Ramadan 1447 H, geliat belanja kue kering dan camilan khas Idulfitri mulai memadati sejumlah toko legendaris di Kota Medan. Salah satunya adalah UD. Bunda Ida, Jalan Rawa No. 9, Timbang Deli, Kecamatan Medan Amplas, toko kue yang telah berdiri selama 30 tahun, di mana antusiasme pembeli dari dalam dan luar kota mulai terlihat meski kondisi ekonomi sedang menghadapi tantangan kenaikan harga.
Pemilik toko UD Bunda Ida, Ida Maslaeni, mengungkapkan bahwa puncak keramaian biasanya mulai terasa pada 17 Ramadan dan akan terus melonjak hingga malam takbiran, terutama saat masyarakat telah menerima Tunjangan Hari Raya (THR).
Toko ini menyediakan sekitar 306 varian camilan, mulai dari keripik tradisional hingga kue kering modern. Khusus untuk nastar, terdapat 11 macam pilihan yang menjadi favorit utama konsumen. Harga yang ditawarkan pun sangat variatif, mulai dari Rp17.000 hingga Rp70.000 per 500 gram.
"Paling banyak dicari itu kacang, kue bawang, orong-orong, dan kalau kue kering primadonanya tetap nastar. Kami sedia dari yang murah sampai yang paling mahal dengan toples cantik. Pembeli kami bukan cuma dari Medan, ada yang rombongan naik angkot dari Pancur Batu dan Tuntungan. Bahkan banyak langganan partai besar yang beli bal-balan untuk dikirim ke Aceh dan Pekanbaru," kata Ida, Senin (9/3/2026).
Meski stok secara umum aman, Ida mengakui adanya sedikit kendala pada bahan baku untuk jenis kue tradisional tertentu, seperti keripik pisang. Ia juga merasakan adanya sedikit penurunan daya beli dibandingkan tahun lalu akibat faktor ekonomi global.
Bagi sebagian warga, membeli kue siap saji menjadi solusi praktis di tengah kesibukan menjelang Lebaran. Ami, 53 tahun, salah seorang pembeli, mengaku sudah tiga kali mendatangi toko tersebut karena dipercaya oleh keluarga besar untuk membelikan stok camilan.
"Ini sudah dua kali, eh tiga kali malah ke sini. Belanja untuk stok di rumah dan kirim ke kampung. Tadinya budget cuma Rp100.000, eh malah sudah habis Rp400.000 karena keluarga, kakak ipar, sampai adik pada nitip semua. Pilih beli karena kalau buat sendiri repot, mending beli yang nggak bisa kami buat sendiri di rumah seperti emping bawang batu," ucap Ami sembari menunjukkan belanjaannya.
Meskipun harga bahan pokok sedang fluktuatif, tradisi menyajikan kue kering di meja tamu saat Idulfitri tetap menjadi prioritas bagi masyarakat Medan dan sekitarnya. (hm27)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



















