Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
KULINER

Fakta Kue Kering, Mulai dari Sejarah Hingga Selera Lokal

Mistar.idRabu, 4 Maret 2026 06.00
EH
fakta_kue_kering_mulai_dari_sejarah_hingga_selera_lokal

Kue Kering. (Foto: Freepik)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Kue kering selalu hadir memeriahkan perayaan Idulfitri sebagai suguhan di meja tamu. Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan memiliki akar sejarah panjang yang membentuknya hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari Lebaran di Indonesia.

Selain hidangan utama, aneka kue kering hampir selalu tersaji setiap tahun. Meski tren kue modern terus bermunculan, varian klasik seperti nastar, kastengel, dan putri salju tetap memiliki tempat istimewa.

Bagi banyak orang, kue-kue tersebut bukan hanya camilan, tetapi juga pengingat masa kecil dan suasana rumah yang hangat saat berkumpul bersama keluarga.

Berikut lima fakta menarik mengenai sejarah kue kering hingga menjadi tradisi Lebaran di Indonesia:

1. Berasal dari Persia

Jejak awal kue kering diyakini bermula dari Persia, kini dikenal sebagai Iran, sekitar abad ke-7. Konon, kue kering tercipta secara tidak sengaja. Pada masa itu, pembuat roti mencoba menguji suhu oven dengan menjatuhkan sedikit adonan. Adonan kecil yang matang tersebut kemudian berkembang menjadi cikal bakal kue kering.

2. Pernah Jadi Santapan Kaum Bangsawan Eropa

Di Eropa, kue kering sempat tergolong kudapan mewah yang hanya dinikmati kalangan bangsawan. Penyebarannya tak lepas dari peran pedagang Muslim yang memperkenalkannya ke berbagai wilayah, termasuk Spanyol saat berada di bawah kekuasaan Muslim. Seiring waktu, kue kering tidak lagi eksklusif bagi kerajaan dan mulai dinikmati masyarakat luas.

3. Produksi Semakin Terkontrol

Awalnya, kue kering diproduksi dalam skala rumahan dengan resep yang beragam. Memasuki abad ke-17 hingga ke-19, kemajuan teknologi mendorong produksi massal. Industri kue mulai berkembang dan pengolahannya diawasi asosiasi profesional. Sejak saat itu, kue kering semakin populer sebagai suguhan dalam berbagai perayaan di Eropa dan Amerika.

4. Masuk ke Indonesia pada Era Kolonial

Kue kering hadir di Indonesia pada masa kolonial Belanda. Salah satu yang diperkenalkan adalah nastar. Nama “nastar” berasal dari bahasa Belanda, yakni ananas (nanas) dan taart (pai/tart). Awalnya, isian nastar menggunakan blueberry. Namun karena bahan tersebut sulit diperoleh di Indonesia, masyarakat menggantinya dengan nanas yang lebih mudah ditemukan.

5. Beradaptasi dengan Selera Lokal

Seiring waktu, masyarakat Indonesia mengembangkan kue kering dengan sentuhan lokal. Teknik pembuatan ala Eropa dipadukan dengan bahan dan cita rasa Nusantara. Lahirlah nastar dengan selai nanas melimpah, putri salju berbentuk bulan sabit bertabur gula halus, hingga kastengel bercita rasa keju yang kuat.

Pada akhirnya, kue kering bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol penyambutan tamu saat Lebaran.

Tradisi menyajikan kue dalam stoples mulai populer pada abad ke-20. Selain praktis dan tahan lama, kue kering menjadi penanda keramahan tuan rumah dalam merayakan Idul Fitri bersama keluarga dan kerabat. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN