Friday, October 23, 2026
home_banner_first
MEDAN

Polda Sumut Ancam Tindak Tegas Ormas Bermasalah, Dirkrimum: Tak Ada Tempat untuk Premanisme

Mistar.idJumat, 23 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB
polda_sumut_ancam_tindak_tegas_ormas_bermasalah_dirkrimum_tak_ada_tempat_untuk_premanisme_

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumut, Kombes Pol Cornelis Mangarahon Simanjuntak. (foto: Matius/Mistar)

Medan, MISTAR.ID (23/10/2026) — Kepolisian Daerah Sumatra Utara (Polda Sumut) menegaskan akan menindak tegas tanpa pandang bulu organisasi masyarakat (ormas) dan sejenisnya yang melakukan pelanggaran hukum.

Pernyataan itu disampaikan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumut, Kombes Pol Cornelis Mangarahon Simanjuntak, saat konferensi pers pengungkapan kasus penembakan yang menewaskan Wakil Komandan Komando Inti (Wadan Koti) Pemuda Pancasila Kabupaten Deli Serdang, Donny Pacek.

"Kami akan proses secara tegas terhadap semua pelanggaran pidana. Kami menyampaikan bahwa Polda Sumut bertindak tegas memberantas setiap aksi premanisme dan tindakan ormas yang melanggar hukum," ujar Kombes Pol Cornelis Mangarahon Simanjuntak, Kamis (23/10/2026) di Polda Sumut.

Cornelis menjelaskan, pengungkapan kasus kematian Donny Pacek merupakan wujud nyata tindakan tegas pihaknya terhadap premanisme dan ormas yang melanggar hukum di wilayah Sumatra Utara.

"Apa yang kita saksikan sekarang adalah wujud nyata kita melakukan tindakan tegas terhadap aksi premanisme dan ormas yang melakukan pelanggaran hukum," tegasnya.

Dalam kesempatan itu, lulusan Akpol 1994 tersebut juga menegaskan tidak ada tempat bagi aksi premanisme maupun ormas yang melanggar hukum. Ia mengimbau seluruh organisasi masyarakat yang terlibat dalam kasus ini agar saling menahan diri.

"Tidak ada tempat, tidak ada ruang bagi aksi premanisme. Kami menyampaikan kepada ormas untuk menenangkan diri, menahan diri. Percayakan kepada Polda Sumut, kami akan memproses penegakan hukum secara profesional dan transparan," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Polda Sumut menyebut motif penembakan Wadan Koti Pemuda Pancasila Kabupaten Deli Serdang Donny Pacek karena persaingan kelompok antarpengurus organisasi masyarakat.

"Motivasi dari peristiwa pembunuhan berencana ini adalah persaingan antardua kelompok ormas," ujar Cornelis, Kamis (23/10/2026).

Dari hasil penyelidikan, penyidik menemukan adanya hubungan antara tersangka Dwika Anggara Cipta (DAC) dan Afriandi Anas Limbong (AAL) dengan kelompok yang melakukan penyerangan ke rumah Fery, rekan korban Donny Pacek.

Kasus ini bermula pada Minggu, 18 Oktober 2026, sekitar pukul 18.00 WIB. Saat itu terjadi keributan antara kubu Doni Kiboy yang diduga dari kelompok ormas FKPPI dengan kubu Donny Pacek dari ormas Pemuda Pancasila (PP).

Pada malam itu, rumah Fery yang merupakan anggota Pemuda Pancasila diserang sejumlah orang yang diduga dari kubu Doni Kiboy. Setelah penyerangan tersebut, Fery menghubungi Donny Pacek untuk meminta bantuan.

Setelah menerima telepon, Donny Pacek mengumpulkan anggota dan rekan-rekannya, di antaranya Juanda, Muhammad Hatta, Muhammad Dio, dan Indra Wijaya. Mereka bersiap menuju rumah Fery menggunakan mobil Toyota Yaris serta membawa sejumlah peralatan, seperti senjata tajam dan senapan angin.

"Ada lima orang di dalam mobil Yaris tersebut, Donny Pacek sebagai pengemudi, Indra Wijaya di samping kiri, Juanda di belakang sopir, Muhammad Dio di tengah, dan Muhammad Hatta di sisi paling kiri," jelas Cornelis.

Di belakang, rombongan Donny Pacek juga diiringi sekitar delapan sepeda motor yang dikendarai rekan-rekannya. Namun, dalam perjalanan menuju rumah Fery, tiba-tiba ada satu sepeda motor Honda Beat yang dikendarai pelaku Dwika Anggara Cipta (DAC) yang mengemudi dan Afriandi Anas Limbong (AAL) yang dibonceng.

Sebelum aksi penembakan, Dwika Anggara Cipta sudah menyampaikan kepada AAL bahwa senjata api yang diselipkan di pinggangnya sudah dikokang, lalu meminta AAL untuk melakukan penembakan.

"Ini ada senjata api, nanti tolong tembak. Lalu pelaku kemudian memotong dan memepet mobil Yaris. Di saat itu, DAC memberi perintah kepada AAL, 'Ini dia orangnya, silakan tembak'. Lalu AAL yang dibonceng kemudian menarik senjata api dari pinggang DAC, menoleh ke kiri, dan menembak korban hingga tewas," ujarnya.(hm02)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN