Nyepi dan Ramadan Beriringan, Toleransi Umat Beragama Terjaga di Medan

Pura Agung Raksa Bhuana, Medan. (Foto: Amita/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Perayaan Hari Raya Nyepi tahun 2026 di Kota Medan berlangsung dalam suasana penuh khidmat dan harmoni. Ditambah karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan.
Bagi umat Hindu Bali di Sumatra Utara (Sumut), momentum ini menjadi wujud nyata penerapan toleransi beragama yang telah mengakar kuat selama ribuan tahun di Indonesia.
Ketua Masyarakat Bali Sumut, I Wayan Dirgayasa Tangkas, menegaskan bahwa pelaksanaan Nyepi yang beriringan dengan aktivitas ibadah umat Muslim seperti salat Tarawih bukanlah sebuah hambatan, melainkan bagian dari kewajaran hidup bermasyarakat di Medan.
Wayan menjelaskan, umat Hindu memiliki prinsip dasar hidup yang disebut Desa, Kala, Patra. Konsep ini menjadi landasan bagi umat untuk tetap adaptif dan peka terhadap lingkungan sekitar.
Desa (Tempat) adalah menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal, Kala (Waktu) artinya menyesuaikan dengan situasi zaman atau waktu tertentu, dan Patra (Kondisi) yaitu fleksibilitas dalam menyikapi keadaan atau situasi yang ada.
"Sehingga kalau pelaksanaan Nyepi bertepatan dengan Ramadan dan Idulfitri itu sudah biasa dan tidak masalah. Umat Hindu memiliki kearifan lokal yang memungkinkan penyesuaian diri tanpa kehilangan esensi ajaran," kata I Wayan, Kamis (19/3/2026).
Sebelum memasuki puncak Nyepi, umat Hindu di Medan telah melaksanakan sejumlah ritual penyucian. Berbeda dari biasanya, ritual Melasti (pembersihan diri dan benda sakral dengan sumber air) yang umumnya digelar di pantai, tahun ini hanya dilaksanakan di area Pura.
Selanjutnya, H-1 Nyepi telah dilakukan upacara Pecaru. Ritual ini bertujuan untuk mensucikan alam semesta dari energi negatif menggunakan aroma wewangian dan perangkat sesaji yang mencapai 100 item.
Pada puncak perayaan Nyepi esok hari, umat Hindu akan menjalani ritual Catur Brata Penyepian. Ritual ini merupakan bentuk pembersihan diri dari aktivitas duniawi dengan mematuhi empat larangan utama, yaitu Amati Geni atau tidak menyalakan api maupun cahaya, Amati Karya tidak bekerja atau melakukan aktivitas fisik, Amati Lelunganan tidak bepergian atau keluar rumah, dan Amati Lelanguan tidak melakukan hiburan atau menyembunyikan suara-suara.
"Pelaksanaan Nyepi dilakukan selama 24 jam. Ada yang mulai pukul 00.00 WIB tadi, ada juga yang sudah memulai sejak pukul 06.00 WIB pagi tadi hingga keesokan harinya," ucapnya.
Melalui keheningan Nyepi, umat Hindu Bali di Medan berharap dapat merefleksikan diri sekaligus mendoakan kedamaian bagi alam semesta di tengah keberagaman yang ada di Sumut. (hm20)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



















