Tuesday, June 9, 2026
home_banner_first
MEDAN

Makna Hari Kartini Bagi Kepala Dinas P3AKB Sumut: Kemandirian dan Ketangguhan

Mistar.idSelasa, 21 April 2026 20.09
journalist-avatar-top
BS
makna_hari_kartini_bagi_kepala_dinas_p3akb_sumut_kemandirian_dan_ketangguhan

Kepala Dinas P3AKB Sumut, Dwi Endah Purwanti. (foto: berry/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Indonesia kembali mengenang perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini, yang merupakan tokoh perempuan asal Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai sosok memperjuangkan kemerdekaan dan kedudukan kaum wanita.

Hari Kartini diperingati pada, 21 April setiap tahunnya. Nilai-nilai yang diperjuangkan Raden Ayu Kartini, dengan slogan "Habis Gelap Terbitlah Terang" masih terus dilakukan masyarakat Indonesia khususnya perempuan.

Slogan tersebut turut melambangkan emansipasi, harapan, dan perjuangan perempuan untuk mendapatkan kesetaraan serta pendidikan. Slogan ini menegaskan bahwa setiap perempuan berhak bersinar, bermimpi tinggi, dan berdaya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (P3AKB) Sumatera Utara, Dwi Endah Purwanti, memaknai Hari Kartini dengan cita-cita dan perjuangan Raden Ajeng Kartini di masa lalu.

"Saya mencatat setidaknya ada tiga poin yang menjadi perhatian Ibu Kartini, pertama emansipasi, kedua pendidikan, dan ketiga kemandirian serta ketangguhan seorang perempuan," ujarnya, Selasa (21/4/2026).

Dwi mengatakan tiga poin tersebut sampai saat ini bisa dibawa pada era sekarang, yaitu dengan semangat Ibu Kartini, perempuan berupaya untuk meraih kesetaraan gender.

Ia menegaskan perempuan juga harus perlu untuk terus meningkatkan kualitas dirinya dengan melakukan peningkatan beberapa hal, seperti pengetahuan hingga penguasaan ibadah

Sehingga menurutnya perempuan bisa memiliki pengetahuan, memiliki soft skill atau kemampuan interpersonal, sosial dan komunikasi yang sama dan mampu bersaing dengan laki-laki.

"Selanjutnya perempuan juga perlu membangun ketangguhan diri maupun kemandirian, sehingga ia dapat mampu untuk mengatasi persoalan-persoalan hidup yang dihadapi selama ini," ucapnya.

Kemandirian dan ketangguhan, dikatakan Dwi, menjadi titik lemah dimiliki oleh perempuan, sehingga mereka rentan untuk menjadi korban kekerasan-kekerasan yang terjadi saat ini.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN