Harga CPO Berbalik Menguat, Diproyeksi Tembus 5.000 Ringgit pada Akhir Tahun

Visual yang menggambarkan tren bullish dengan grafik candlestick naik. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)
Medan, MISTAR.ID (7/10/2026) - Harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar global kembali menguat. Setelah sempat anjlok mendekati 4.500 ringgit per ton, CPO kini ditransaksikan di level 4.560 ringgit per ton.
Penguatan ini sejalan dengan kenaikan harga minyak mentah dunia yang menembus di atas 100 dolar AS per barel serta terdongkrak naiknya harga komoditas substitusi seperti minyak kedelai.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, memproyeksikan harga CPO tetap bullish hingga akhir tahun.
Menurutnya, kenaikan permintaan dari negara importir utama seperti India menjadi penggerak utama dalam jangka pendek.
"Dalam tiga bulan ke depan, setidaknya ada beberapa momen besar yang akan mendongkrak kenaikan harga CPO. Pertama, perayaan Deepavali pada 8 November dan perayaan Natal serta Tahun Baru," kata Gunawan, Rabu (7/10/2026).
Gunawan menjelaskan, tingginya permintaan menjelang hari besar keagamaan dan libur akhir tahun akan berbenturan dengan siklus penurunan produksi CPO di Indonesia. Berdasarkan data, kapasitas produksi domestik terus menunjukkan konsistensi penyusutan setelah Juli lalu. Kondisi pasokan mulai mengetat dan diyakini memicu kenaikan harga.
Tekanan juga diperparah konflik geopolitik global yang berpeluang memburuk dan mendorong inflasi komoditas pangan dan energi. Permintaan global yang tinggi diperkuat stabilnya penyerapan CPO untuk kebutuhan biodiesel.
"Secara fundamental, fondasi harga CPO saat ini masih kuat ditopang berbagai sentimen positif. Tekanan harga yang sempat membayangi laju CPO dalam sebulan terakhir justru dipicu peningkatan pasokan jangka pendek di Malaysia yang diprediksi akan menyusut drastis dalam tiga bulan ke depan," ujarnya.
Ia optimistis terhadap potensi reli harga CPO berdasarkan rekam jejak siklus produksi tahunan. Mengacu data historis, Gunawan mencatat sampel perusahaan produsen yang produksinya anjlok hingga 20,8 persen pada kuartal IV-2025 dibandingkan kuartal III.
"Artinya ada potensi penurunan yang sama yang bisa terulang tahun ini. Jadi saya tetap mempertahankan proyeksi kenaikan harga CPO akhir tahun, di mana secara teknikal akan mencapai kenaikan yang terealisasi pada 21 Agustus kemarin di atas 5.000 ringgit per ton," ujar Gunawan.(hm02)

















































