Tuesday, October 6, 2026
home_banner_first
MEDAN

Jaga Mutu Cabai di Musim Lembap, Mahasiswa USU Ciptakan Kemasan Ramah Lingkungan dari Limbah Sawit

Mistar.idSelasa, 6 Oktober 2026 pukul 19.24 WIB
jaga_mutu_cabai_di_musim_lembap_mahasiswa_usu_ciptakan_kemasan_ramah_lingkungan_dari_limbah_sawit_

Terapan Fakultas Vokasi dan FMIPA USU mengembangkan teknologi kemasan ramah lingkungan untuk menjaga mutu cabai merah pada kondisi lembap. (Foto: Humas USU/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID (6/10/2026) - Mahasiswa Program Studi D4 Kimia Terapan Fakultas Vokasi dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara (USU) mengembangkan teknologi kemasan ramah lingkungan untuk menjaga mutu cabai merah pascabanjir.

Penelitian melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) itu berangkat dari persoalan lapangan, yakni penurunan kualitas komoditas hortikultura termasuk cabai merah akibat perubahan cuaca dan bencana hidrometeorologi. Kondisi tersebut turut memengaruhi harga di pasaran.

Mengusung judul Pengembangan Edible Film Kitosan Nanofiber Selulosa Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Ekstrak Kulit Rambutan sebagai Kemasan Aktif Cabai Merah Pascabanjir, tim mahasiswa di bawah bimbingan dosen Fakultas Vokasi USU, Juli Novita Sari, memanfaatkan limbah agroindustri yang melimpah di Sumut.

Tim yang diketuai Inggrid Auralya Sandy bersama Novaldo Imanuel Haloho dan Crisya Lestari Siregar memanfaatkan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan kulit rambutan sebagai bahan kemasan aktif.

"Kami memadukan kitosan dari cangkang udang dengan nanofiber selulosa TKKS sebagai bahan penguat, dan ekstrak kulit rambutan yang mengandung senyawa antioksidan dan antimikroba alami," kata Inggrid, Selasa (6/10/2026).

Selain menjaga kualitas cabai, bahan tersebut juga meningkatkan nilai guna limbah agroindustri.

Formulasi edible film terbaik diperoleh setelah sejumlah tahapan penelitian di laboratorium, yakni dengan penambahan 1 persen ekstrak kulit rambutan. Lapisan tersebut kemudian diaplikasikan pada cabai merah untuk menguji ketahanannya selama penyimpanan.

"Kita melakukan pengujian selama 15 hari pada penyimpanan lembap yang menyerupai kondisi setelah banjir, yaitu dengan kelembapan relatif minimal 85 persen," tuturnya.

Berdasarkan pengujian, penggunaan edible film mampu menjaga kondisi dan kualitas cabai selama penyimpanan dengan susut bobot 12 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan cabai tanpa edible film yang susutnya mencapai 21,5 persen.

Tak hanya itu, edible film juga menghambat pertumbuhan mikroba pembusuk serta mempertahankan kesegaran dan warna merah cabai hingga hari ke-15.

Inggrid berharap teknologi kemasan aktif berbasis biomassa lokal itu dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai solusi persoalan pascapanen pada cuaca ekstrem.

"Supaya dapat membantu petani dan pelaku rantai pasok dalam mempertahankan mutu cabai selama distribusi dan penyimpanan," ucapnya.

Ia juga berharap penelitian ini menginspirasi mahasiswa lain untuk terus berinovasi serta mengantarkan timnya menuju PIMNAS ke-39.(hm02)





BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN