Friday, June 5, 2026
home_banner_first
MEDAN

DPRD Sumut Desak Pembentukan Gugus Tugas Literasi Digital dan Ketahanan Ideologi

Mistar.idSabtu, 14 Februari 2026 14.07
EH
MA
dprd_sumut_desak_pembentukan_gugus_tugas_literasi_digital_dan_ketahanan_ideologi

Anggota DPRD Sumatra Utara, Viktor Silaen. (Foto: Ari/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Anggota DPRD Sumatra Utara (Sumut), Viktor Silaen, mendesak pemerintah daerah segera membentuk Gugus Tugas Literasi Digital dan Ketahanan Ideologi di Provinsi Sumut.

Desakan ini muncul menyusul peringatan Kapolri Listyo Sigit Prabowo terkait munculnya ideologi radikal baru seperti supremasi kulit putih dan neo-Nazi yang menyasar generasi muda.

Menurutnya, ancaman radikalisme saat ini telah bertransformasi dan memanfaatkan ruang digital yang akrab dengan anak-anak dan remaja.

Ia menilai infiltrasi ideologi ekstrem tidak lagi melalui cara konvensional, melainkan lewat media sosial, forum permainan daring, hingga komunitas online tertutup.

“Gaya radikalisme baru ini masuk secara halus. Anak-anak bisa terpapar tanpa disadari orang tua. Karena itu, Sumatera Utara tidak boleh menunggu. Gugus tugas harus segera dibentuk sebagai langkah pencegahan,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (14/2/2026).

Ketua Kosgoro 1957 Sumut itu menilai, pernyataan Kapolri dalam pembukaan retret Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) di Bogor merupakan peringatan serius bagi seluruh daerah untuk memperkuat sistem deteksi dini.

Ia mengusulkan agar gugus tugas melibatkan berbagai unsur, mulai dari Dinas Pendidikan, tokoh agama, psikolog anak, akademisi, hingga aparat keamanan. Kolaborasi ini diharapkan mampu memberikan edukasi berkelanjutan di sekolah, keluarga, dan masyarakat.

“Sumatera Utara adalah daerah yang beragam. Ideologi supremasi ras jelas bertentangan dengan nilai kebhinekaan dan ideologi bangsa. Kita harus melindungi generasi muda dari infiltrasi paham kebencian,” tuturnya.

Selain itu, ia turut mengingatkan para orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti kecenderungan menarik diri, menyendiri, atau menampilkan simbol ekstrem di media sosial.

“Pendekatannya bukan marah, tetapi dialog. Bangun komunikasi terbuka di rumah agar anak merasa aman untuk bercerita. Pencegahan jauh lebih efektif daripada penindakan hukum, karena jika sudah masuk ranah hukum, biasanya sudah terlambat,” katanya.

Ia menambahkan, pembentukan sistem peringatan dini berbasis keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat penting agar seluruh elemen di Sumatera Utara dapat bekerja sama menjaga ketahanan ideologis generasi muda di tengah derasnya arus informasi global.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah kewaspadaan kolektif. Kita harus memastikan generasi muda tetap berakar pada nilai persatuan, toleransi, dan kebangsaan,” ucapnya. (Ari)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN