Beri Penghargaan kepada 25 Pegiat Budaya, Pemko Medan Dorong Penguatan Identitas Melayu

Pegiat Budaya Kota Medan yang menerima pernghargaan pada Pekan Budaya Daerah Kota Medan 2026. (foto: anwar/mistar)
Medan, MISTAR.ID - Pemerintah Kota (Pemko) Medan memberikan penghargaan kepada 25 pegiat kebudayaan yang dinilai berkontribusi dalam pelestarian seni dan budaya di Kota Medan. Penghargaan diserahkan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas saat pembukaan Pekan Budaya Daerah Kota Medan 2026, Kamis (8/10/2026) malam.
Dalam sambutannya, Rico mendorong para seniman Kota Medan untuk terus berkontribusi dalam membangun dan mempertahankan kebudayaan daerah.
“Kita harus mempertahankan eksistensi kebudayaan Kota Medan. Saya juga meminta para seniman untuk membuat draft program dan kebutuhan bagi kegiatan kebudayaan ke depannya,” ujar Rico.
Menurutnya, berbagai kegiatan yang digelar dengan tema “Merawat Pusaka, Menjunjung Budaya” merupakan bagian dari upaya menjaga kekayaan warisan leluhur yang dimiliki Kota Medan. “Apa yang kita miliki sekarang adalah kemewahan budaya Kota Medan,” katanya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Ahmad Barli Mulia Nasution, mengatakan Kota Medan memiliki beragam latar belakang budaya, adat, bahasa dan tradisi yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
“Tahun ini Pekan Budaya Daerah mengusung tema, Merawat Pusaka, Menjunjung Budaya,” ucapnya.
Ahmad Barli mengatakan, tema tersebut mengandung pesan bahwa pusaka tidak hanya berupa benda yang diwariskan, tetapi juga nilai, adat, seni, bahasa dan kearifan yang diwariskan leluhur.
“Pusaka bukan hanya benda yang diwariskan, tapi juga nilai, adat, seni, bahasa dan kearifan yang dititipkan leluhur kepada kita. Merawatnya adalah tanggung jawab kita bersama. Sebab budaya yang tidak dirawat akan perlahan memudar. Budaya yang tidak dikenalkan kepada generasi muda akan hilang seterusnya,” tuturnya.
Sebelum penyerahan penghargaan, pembukaan Pekan Budaya Daerah Kota Medan 2026 dimeriahkan sejumlah pertunjukan tari-tarian Melayu. Tarian tersebut dibawakan anak didik dari sejumlah sanggar yang dibina para tokoh budaya yang menerima penghargaan.
Selain pertunjukan seni, acara juga dimeriahkan dengan sejumlah stan UMKM yang menawarkan beragam produk budaya dan kuliner khas Kota Medan.
Dorong Identitas Melayu
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Medan, Oka Zulfani Anhar, mengatakan Pekan Budaya Daerah merupakan inisiatif Wali Kota Rico Waas dan sejalan dengan arahan Kementerian Kebudayaan RI agar pemerintah daerah kembali aktif menyelenggarakan kegiatan kebudayaan.
Menurut Oka, kegiatan serupa sebenarnya pernah digelar pada masa pemerintahan Wali Kota Bakhtiar Ja’far, tetapi kemudian cukup lama vakum. “Ini yang pertama setelah era Pak Bachtiar Ja'far. Acara ini untuk memberikan apresiasi bagi seniman-seniman Kota Medan yang telah berkarya cukup lama,” katanya.
Dalam proses pemberian penghargaan, lanjut Oka, tim kurasi melakukan pemantauan terhadap aktivitas para seniman selama enam bulan. “Pemantauan melalui kegiatan dan hasil karya seni, baik itu fisik maupun digital,” ujarnya.
Oka mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menguatkan kembali identitas budaya Kota Medan yang berakar pada budaya Melayu.
“Memang Kota Medan ini multi etnis. Tapi Kota Medan tetap harus punya identitas budaya, yakni Melayu, karena dari sana asalnya. Bukan berarti kita tidak mengakui budaya yang lain,” katanya.
Pekan Budaya Daerah Kota Medan 2026 berlangsung hingga Sabtu (10/10/2026). Sejumlah kegiatan dan perlombaan turut digelar untuk memeriahkan acara tersebut, di antaranya lomba stan terindah dan mendirikan keris.
Apresiasi dari Penggiat Budaya
Salah seorang penerima penghargaan, Dra. Yusniarti alias Mak Yose Piliang, mengaku senang dengan penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, Pekan Budaya Daerah menjadi momentum untuk kembali menegaskan identitas budaya Kota Medan.
“Medan ini memang benar kota multikultural. Tapi dengan adanya Pesta Budaya ini, maka Kota Medan dikembalikan pada posisi yang sebenarnya. Memang Medan itu harus punya identitas, sebagai (kota) Melayu. Saya sendiri bukan orang Melayu,” katanya.












































